Fikratunaa / Tazkiyatun Nafs

Empat Perkara


لاتتم له هذه الأشياء إلا بأربع هي من كسب العبد: معرفة الكتابة، واللغة، والصرف، والنحو، مع أربع هن من عطاء الله تعالى: الصحة، والقدرة، والحرص، والحفظ، فإذا صحت له هذه الأشياء هان عليه أربع: الأهل، والولد والمال والوطن، وابتلي بأربع: شماتة الأعداء، وملامة الأصدقاء، وطعن الجهلاء، وحسد العلماء، فإذا صبر على هذه المحن أكرمه الله تعالى في الدنيا بأربع: بعز القناعة، وبهيبة اليقين، وبلذة العلم، وبيحاة الأبد، وأثابه في الآخرة بأربع: بالشفاعة لمن أراد من إخوانه، وبظل العرش حيث لا ظل إلا ظله، ويسقي من أراد من حوض محمد صلى الله عليه وسلم، وبجوار النبيين في أعلى عليين في الجنة

Tidak sempurna perkara (menuntut ilmu) ini kecuali seseorang menguasai empat bidang: (1) mengetahui secara sempurna ilmu baca tulis (2) menguasai bahasa (3) faham morfologi bahasa (4) faham ilmu gramatikal. Bersama 4 hal tersebut bagian dari karunia Allah (berupa 4): (1) kesehatan (2) kesanggupan (3) semangat (4) hafalan. Maka jika empat hal tersebut berjalan dengan baik, seseorang akan dianugerahi 4 keuntungan: (1) keluarga (2) keturunan (3) kekayaan (4) tanah tempat tinggal. Akan tetapi, pada saat itu juga dia akan diuji dengan 4 hal: (1) kedengkian orang yang memusuhinya (2) ejekan dari orang-orang dekatnya (3) makian dari orang-orang yang bodoh, (4) rasa iri dari cendikiawan yang lain. Apabila dia mampu bersabar atas 4 hal tersebut maka Allah akan memulikannya di dunia dengan 4 hal: (1) semakin kuatnya qanaah (2) meningkat padanya rasa yakin (3) memperoleh kelezatan daripada ilmu (4) kenikmatan hidup. Kelak di akhirat akan Allah limpahkan empat hal: (1) dapat memberikan syafaat kepada saudar-saudaranya (2) dinanungi bayangan ‘arsy dimana tak ada nanungan selainnya (3) berhak memberikan minum kepada siapapun dari telaga Muhammad shallallahu ‘alaihi wa sallam dan (4) diposisikan di surga paling tinggi di samping surga para nabi.

Demikianlah gambaran perjuangan yang harus ditempuh para penuntut ilmu. Penguasaan atas dasar-dasar keilmuan (baca-tulis dan bahasa), harus diiringi dengan kesiapan secara lahiriah-, yakni kekuatan dan kesehatan badan (atas karunia Allah). Sehingga, apa yang dicita-citakan sampai kepadanya. Bila sudah digapai cita-cita tersebut, maka dia akan memperoleh keuntungan duniawi yang semata uang dengan ujian dunia. Nampak jelas bahwa musuhnya semakin geram; tekadang para sahabat dan orang-orang dekat justru tak mendukung pendapatnya, bahkan mencibir. Ketika orang-orang bodoh yang tak paham alur pemikirannya semakin keras dalam mencemooh; para cerdik-cendekia justru dengki dengan prestasi yang dia dapat.

Bila seseorang menjalani empat ujian tersebut dengan seketika maka terasa sempit dunia, langitpun seakan runtuh. Di sinilah Islam memberikan keteduhan dengan kredo-kredo tentang kesabaran. Buya Hamka(1946) menulis bait-bait indah dalam karyanya ”Dari Lembah Cita-Cita”:

“Tegaklah pada pendirianmu di dalam hidup ini dan berjuanglah. Sesungguhnya penghidupan itu ialah pendirian dan perjuangan. Buat apa kita diberi Allah (subhanahu wata’ala) akal dan fikiran? Supaya kehidupan kita berbeza dengan makhluk yang lain. Sebab itu tiap-tiap fikiran bertambah, tiap-tiap mata menyala. Pandanglah alam ini dengan pandangan sendiri. Jangan dibiarkan segala sesuatu lalu di hadapanmu dengan selalu-lalunya saja tetapi pertalikanlah dengan dirimu. Kerana segenap alam ini bertali sentiasa dengan manusia”

“Jangan lekas melihat orang yang melawan supaya himmahmu jangan patah, bahkan perhatikan terlebih dahulu orang yang akan menjadi tenteramu, supaya kemahuanmu tegak. Dan harapkan perlindungan daripada Tuhan”

Apabila seseorang mampu bersabar dan melewati semua ujian di atas, maka sempurnalah keilmuan yang telah dia cari sepanjang hidup. Dia pun akan dianugerahi kehidupan akhir yang kekal dalam pandangan manusia, maupun di sisi Allah Subhanahu wa ta’ala (insyaa allah). (Masih) mengutip Buya Hamka. Beliau (1946) memberikan percontohan.

“Ada orang yang hidup. sampai tubuhnya di dalam kubur. sampai tulang hancur di dalam tanah, namanya dan hidupnya pun turut habis dengan tubuhnya. tidak menjadi peringatan orang lagi. Sebab hidupnya tidak berhaluan. Ada pula orang yang tambah hilang jasmaninya. tambah timbul kehidupannya. tambah digali orang, tambah diperiksa orang. diselidiki dan ditilik. Sehingga kian habis badannya itu, kian hidup namanya.”

“Orang yang pertama, lebih banyak hidupnya sehingga menarik nafas turun naik, buat dia sehingga itulah darah hidup. Orang itu takut mati, kerana mencintai hidup. padahal di waktu hidupnya juga dia telah mati. Tetapi orang yang kedua, yang menyelidiki alam dan mendapat dalam penyelidikannya itu, dialah orang yang tidak takut mati lantaran mencari hidup. Maka hiduplah dia walaupun sudah mati.”

Itulah sederetan nama yang jerih payahnya telah menyuburkan negeri ini. Tersebut dari yang paling kiri semisal Semaoen, Alimin, Darsono, atau Tan Malaka, ke tengah seperti Soekarno-Hatta, ke kanan seperti Pak Tjokro, Kyai Dahlan, Kyai Hasyim, Pak Natsir, bahkan sampai paling ekstrim kanan semisal Tengku Daud Beureueh atau bahkan Pak Karyosuwiryo. Mereka semakin hilang jasadnya, namun jiwanya semakin dicari, semakin abadi dalam fana. (Adistiar Prayoga/BPP)

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out /  Change )

Google photo

You are commenting using your Google account. Log Out /  Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out /  Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out /  Change )

Connecting to %s