Tazkiyatun Nafs

Ihwal Keimanan


Sayyid Abu-l Hasan Ali An-nadwi[1] Rahimahullah menyampaikan baris-baris kata indah dan menusuk ketika menjelaskan ihwal keimanan dan konsep modern jahiliyya (Kedunguan Masa Kini). Tulisan yang terdokumentasikan dalam “Madzaa Khaasiral ‘Aalam bi-n-hithaatil Muslimiin” tersebut, dikutip oleh Sayyid Quthb[2] Rahimahullah dalam karyanya, Fii Dzilalil Qur’an Juz XXV tentang tafsir Qs Asy Syuraa ayat 36-43. Beliau, menguraikan demikian*):


Problem besar berupa (1) penyekutuan Allah  dengan yang lain (syirik) dan (2) pengingkaran atas keberadaan beserta ketentuan-ketentuan-Nya (kaafir) telah mengurat akar dalam masyarakat. Keduanya menjadikan permasalahan hidup semakin kompleks. Rasulullah (telah) berjuang untuk menghadapi problem tersebut. Pada tahapan pertama, beliau tidak memerlukan angkat senjata (jihad) sama sekali untuk menegaskan setiap perintah dan larangan (Islam). Tapi (faktanya), Islam justru meraih kemenangan dalam setiap pertarungan melawan kebodohan-kebodohan yang menjangkiti masyarakat pada tahap pertama ini. Kemenangan menjadi kawan dalam setiap pertarungan. Para sahabat masuk Islam secara menyeluruh-sempurna (kaffah); Mereka memeluk Islam bersama nuraninya, beserta seluruh raganya, dan menyatu dengan ruhnya. Mereka tidak pernah sekalipun menentang Rasulullah setelah datang petunjuk. Mereka tiada keberatan atas keputusan Rasulullah, seolah tidak memiliki pilihan lain ketika Rasulullah menyuruh atau melarang terhadap sesuatu.

Ketika saham setan dikeluarkan dari dalam diri, bahkan saham diri dikeluarkan dari dalam diri; Maka seseorang dapat menyadari tentang arti diri dan arti keberadaan orang lain. Dia (kemudian) menjadi pejuang untuk hari esok. Suatu musibah tak kan mampu menggoyahkannya. Nikmat yang terlimpah tak membuatnya congkak. Kemiskinan tak membuatnya sibuk dan kekayaan tak membuatnya bertindak sewenang-wenang. Perdagangan tak akan melalaikannya. Kekuatan tak diremehkan, (namun) mereka tidak bermaksud berbuat kesombongan dan kerusakan di muka bumi. Bahkan, mereka menjadi pelindung bagi seluruh umat manusia, pemelihara alam, dan penyeru pada jalan kebenaran.

Umat manusia, baik orang Arab maupun non-Arab, sesungguhnya telah hidup dalam kebodohan yang modern. Mereka menyembah segala hal yang sebenarnya diciptakan untuk tunduk patuh, melayani kebutuhan mereka di muka bumi. Orang taat tak dihargai dan para pelaku maksiat tak dihukum berat. Perintah dan laranngan tak ada secara nyata.

Agama hanya permukaan hidup saja. Keber-agama-an tak memiliki kekuatan yang mampu menguasai ruh, jiwa, dan nurani. Tiada pengaruh agama bagi akhlak dan kebaikan sosial di masyarakat. Mereka beriman kepada Allah hanya sebatas sebagai pencipta yang telah menyelsaikan pekerjaan-Nya. (Khalik menciptakan makhluk, usai sudah, sebatas demikian). Mereka melepaskan fungsi Rubbubiyah-Nya . Lalu (dengan sombong) manusia memegang kendali, Mereka duduk di singgasana-Nya, mengatur beragam urusan sesuai kehendak mereka, membagi rizki semaunya, dan telah berani memproklamirkan diri menjadi penguasa sejati.

Keimanan mereka kepada Allah hanya sebatas pengetahuan sejarah! Penisbatan terhadap penciptaan langit dan bumi, (namun tak paham apa maknanya). Tak ada beda dengan jawaban seorang siswa pelajaran sejarah yang ditanya oleh gurunya. “Siapakah yang membangun gedung kuno ini?” Siswa pun menyebut salah satu orang raja, namun tanpa perasaan tunduk patuh kepada raja tersebut (karena tak pernah mengenal raja tersebut). Agama yang mereka peluk itu, telanjang dari kekhusyuaan. Mereka tak mengetahui Allah melainkan hanya sebatas pengetahuan yang mereka inginkan sendiri. Sedangkan pengetahuan mereka samar, sumir, picik, dan terlampau umum, tanpa rasa takut dan cinta.


[1] 1913-1999. Ulama kenamaan India, nasabnya sampai kepada sayyidina ‘Ali Karamallahu wajhah. Beliau lulusan Darul Ulum sehingga erat dikaitkan dengan Gerakan Deobandi. Beliau sangat peduli terhadap pendidikan Islam. Bermadzhab Hanafiyah dengan corak spritualitas Naqshabandiyah.

[2] 1906-1966. Sosok pemikir dan pengikut reformis Mesir, Hassan Al Banna rahimahullah. Belakangan terstigma sebagai demagog bahkan “Bapak Terroris” karena kitab-kitabnya banyak menjadi rujukan tertuduh pelaku terror. Terlepas dari semua stigma dan tuduhan, karya-karyanya memiliki banyak keistimewaan.

*) Terjemahan bebas, referensi : Fii Dzilalil Qur’an Jilid X halaman 211 terbitan Gema Insani


 

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s