Uncategorized

Mata Kata


Barisah kata lusuh

Bergentayang lalu lalang

menggoda pikiran ricuh

Hendak acuh namun rapuh

 

Bagimana mungkin bisa berkata,

bila sama sekali tak mengerti rasa.

Bagaimana mungkin bisa mengerti rasa,

bila yang ada hanya rinai-rinai utopia.

Ya memang, ada senyum sejuk darinya,

Senyum sejuk mengalir menuju fana,

Lalu tenggelam sirna,

di lautan masa.

 

Cepatlah pulang!

Di sini ada seribu pikir pandir hadir menyatire,

Satire picis, miskin sitir.

Merias dusta menjadi kebenaran bersama.

Hingga semua suka, semua percaya.

Tanpa mata.

 

Maka, jadikanlah sekata itu frasa!

Lalu biarkan, berdialektika dengan aporia.

 


[Sudah Ramadhan yang ke 19 di 1438] Allahumma innaka ‘afuwun tuhibbul ‘afwa fa’fu’annaa

 

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s