Fikratunaa

Diakronisme Masa Lampau


Bukan Dongeng

Ada banyak hal menarik dari cerita-cerita terdahulu. Orang Arab menyebutnya dengan asâthir al-awwalîn[i]. Tapi ini bukan tentang dongeng. Masa lampau bukanlah dongeng-dongeng, meski dongeng pun acapkali digunakan untuk bercerita tentang “yang sudah-sudah”. Ini berkaitan (sekali lagi kata orang Arab) dengan tarikh (peristiwa yang terurut dalam penanggalan). Namun, ini bukan hendak berkisah tentang tarikh di peninsula Asia Barat dan sekitar Afrika Utara. Bukan tentang itu. Bukan karena sedang terjebak oleh ide politis anti Arab (nativisme) yang sedang menghangat. Bukan pula karena cinta berlebihan pada moyang (nasionalisme sempit) yang berujung pada fasisme. Kondisi dimana suatu bangsa begitu arogan dan lalai atas peran bangsa lain dalam pencapaian suatu tamadun. Ini hanya potongan iktiraf atas senarai ingatan yang ingin ditulis, agar mampu diambil nilainya walau hanya setitik sahaja. Penduduk negeri ini mengenalnya dengan istilah sejarah. Pohon (syajaratun) yang memiliki akar kuat dan menguatkan bagian-bagian lain. Berdiri semasa lampau hingga berusia semasa kini, dan akan datang. Entah kelak masih berdiri tegak, atau hancur terurai dan menjadi penyubur bagi tumbuhan-tumbuhan yang lain.

Suatu ketika, ada suatu tanya “Untuk apa sebenarnya belajar sejarah? Bukankah yang usai berlalu biarkan berlalu, dan yang akan terjadi, terjadilah (que sera, sera)?” Maka bolehlah dijawab, kita tak sedang menghafal masa lalu (geschichte) dan berputus asa sedemikian hingga terhadap masa depan. Kita sedang menyusur iktibar semasa lampau dengan suka cita untuk lawatan hari esok yang tentu pertanggunganjawaban atas tindakan menjadi penting bagi diri kita masing-masing. Sehingga, dikenalah ia oleh orang Greek dengan sebutan ιστορία (istoria) atau penyelidikan.

Menilai Itu Bukan Menghakimi

Pernah terasa bahwa catatan-catatan kejayaan silam seakan hanyalah linimasa seputar darah dan air mata. Apa yang disebut kejayaan itu merupakan potongan dari dendam kesumat dan penghakiman. Jadi, untuk apakah belajar tentang permusuhan dan kebencian? Dapat dijawab tegas, “Bukan seperti  itu”. Tiada demikian adanya. Berkata J.C van Leur, “Masa lalu ditulis tidak untuk dinilai dengan nilai masa kini“ (Andaya 1981 dalam Rizal 2004)[ii]. Karenanya, sampailah pemahaman bahwa paham itu bukan hafal. Paham itu tak hanya menyukai suatu narasi, sehingga mampu terekam dalam ingatan episodik; bahwa tokoh ini buruk dan tokoh ini baik. Tak cukup berhenti pada penilaian atas tanggal-tanggal dan tahun-tahun, bila ini dan bila itu. Nilai merupakan keniscayaan sepanjang zaman, yang sukatannya sering berubah-ubah meskipun jenisnya sama, 2 yang bertentangan. Baik-buruk, benar-salah. Tidaklah cukup sampai berhenti pada pandangan, itu penghianat, ini pahlawan, itu penjajah, ini pejuang! Hingga munculah sektarian buta, baik berupa puja-puji fanatcism atas kepahlawanan atau kebencian atas persona yang terlampau kotor membusuk.

Ihwal asasi bagi kita yang mengaku “bernilai luhur” adalah mencoba mendapatkan pemahaman seutuh mungkin tentang latar belakang tindakan dari tokoh ini dan tokoh itu. Biarlah mereka sebagai makhluk yang sudah tentu memiliki khalik, bertanggung jawab pada khaliknya. Kitapun sebagai makhluk kelak akan dimintai pertanggungjawaban pula atas perbuatan kita kepada-Nya[iii]. Asas yang elok untuk dipahami adalah “mereka yang hidup terdahulu juga bertanggung jawab, namun mereka hanya mampu memilih tindakan, sedangkan setiap pilihannya dibatasi oleh waktu”. Pemahaman yang terbatas oleh waktu, pastilah tidak akan pernah sampai pada pemahaman atas nilai akhir. Mereka tak mampu memprediksi penghujungnya. Apalagi, efek berantai yang disebabkan oleh penghujungnya itu. Informasi terbatas. Jika mau menyelidik lebih detil (belajar), hanya kitalah yang mampu mengerti tentang penghujung tersebut. Sudah tentu, kitalah yang akan memiliki pemahaman nilai yang lebih tinggi dibandingkan orang-orang terdahulu. Pemahaman atas penghujung itulah yang akan kita gunakan sebagai bahan berlaku, mengambil keputusan yang lebih dekat pada kebenaran. Kalaulah mampu demikian, tentu orang-orang di masa depan akan dapat mengambil tindakan yang lebih baik lagi. Semakin mendekat  pada kebenaran yang sebenar-benarnya. Seterang mentari pagi hari.

Semakin tinggi kemampuan mengolah iktibar dari masa lampu dalam suatu basis data, maka akan semakin tinggi pula derajat keputusan tanpa keputus-asa-an. Demikianlah, kita berkehendak untuk mengiktibar sejarah! Tidak terhenti pada menikmati sejarah atau membahagiakan diri dengan aktualisasi sejarah.

Horizon Harapan

Perjumpaan kita dengan darah dan air mata, pergolakan kekuasan, pergumulan kepentingan, serta pertukaran kejayaan antara golongan yang satu dengan yang lainnya seolah menumbuhkan pembenaran alam pikir bahwa “golongan hitam tak selalu hitam dan golongan putih tak selalu putih”. Pembelaan terhadap suatu nilai seolah hanya topeng-topeng santun dalam panggung sandiwara yang diangkat dari roman picisan belaka. Politik, sampah yang memuakkan, “Semua sama saja, munafik!”

Barangkali itu benar, tapi tak selamanya benar; karena tak seluruhnya yang terlihat sederhana bisa dipahami dengan sederhana. Jika ada pandangan atas masa yang mampu menerobos kepicikan, maka akan muncul keinsyafan akan kepastian alam. Bahwa kehidupan kolektif antarmanusia yang berbhinneka rasa dan karsa itu membutuhkan kuasa, membutuhkan politik, membutuhkan langkah asosiatif untuk mengakomodasi lintas kepentingan. Harus ada kepemimpinan dari kelompok yang satu atas kelompok yang lain. Setiap kelompok memiliki “nilai” yang dibawa. Setiap kelompok mengusung “cita-cita” untuk bahagia. Tak mungkin seorang individu lepas begitu saja dari konflik antarperasaan, kecuali ia pergi jauh dari bumi tempat bersengketa. Kemalasan berpikir dan kejatuhan nalar dalam short pragmatisim  justru akan menjebakkan diri dalam suasana yang lebih rumit di suatu masa ketika. Sadar atau tidak, mau atau tidak, langsung atau tidak, setiap individu adalah bagian dari alat kuasa. Pilihannya kembali pada konsep dasar tata nilai. Hanya dua, tak ada yang lain. Ikut dalam mainstream (berkoalisi dan mendamaikan hati) atau berakal bebas (beroposisi dan melawan). Alam fana tiadalah pernah berisi abadi, dan manusia akan selalu berada dalam golongan yang satu, atau berada dalam golongan yang lainnya. Mungkin saja perjalanan waktu membuat penggolongan menjadi berputar balik, golongan yang satu berubah arah, dan golongan yang lain berubah arah pula. Semula koalisi menjadi oposisi atau oposisi berganti koalisi. Andaikata memilih untuk mendirikan golongan sendiri, akan sampailah golongan “nonblok” tersebut pada titik ekstrem. Memilih untuk bergabung pada salah satu kelompok atau hilang musnah sama sekali. Hingga terwujudlah kabar, bahwa riuh rendah netralitas dan independensi itu hanyalah omong kosong belaka. Kalaupun terimplementasi melembaga, maka itu hanya kehalusan laku.

Selagi manusia memiliki rasa dan keterbatasan informasi, pikiran ini tak mampu percaya pada kata netralitas manusia. Namun, pikiran ini percaya akan manusia “sektarian” yang masih berakal jernih dan berhati lurus. Mereka senantiasa berusaha menjaga sikapnya dan akan diberikan kehendak untuk mengambil keputusan yang adil. Adil itu memang hitam putih, tapi hitam putih terhadap nilai bukan hitam putih terhadap golongan. Inilah core dari moralitas. Mencobalah untuk sampai pada maqam itu. Bersusahpayahlah dalam maqam itu, apapun yang akan dikata orang. Keputusan dan pertanggungjawaban ada pada diri masing-masing. Keterhimpunan individu menjadi bagian dari suatu golongan bukan melulu identik dengan menggadaikan nilai yang telah dipegang teguh untuk menggapai segala maksud. Bukan pula memanfaatkan nilai yang usai tercitra sebagi topeng untuk berjaya semata. Tapi memilih jalan untuk mencapai suatu tujuan dari sekian ratus ribu jalan. Boleh jadi suatu ketika jalan yang ditempuh itu bertemu pada sesat arah, tapi jejak langkah yang salah tersebut tak pasti bernilai buruk karena orang lain dapat beriktibar daripadanya. Maka hakikinya berbanggalah “para perintis jalan”! Bahkan seakan waktupun berkata-kata pada dunia “Sesungguhnya orang-orang adil di masa nanti itu lebih jernih menyaksikan ‘nilai’ yang tercermin pada diri”. Nilai diri yang sesungguhnya. Nilai yang mampu menjadikan diri sebagai panutan diantara diakronis masa. Tak peduli diri berada di golongan apapun dan di sebelah manapun. Kanan atau kiri. Semoga ini termasuk tafsir yang lurus atas kata-kata dua orang revolusioner yang popular itu. Jas merah! Jangan sekali-kali melupakan (memutarbalikkan) sejarah dan La historia me absolverá. (Biarlah) sejarah (yang) akan membebaskanku. (Buitenzorg, 12.02.2017)


Kutipan:

[i] Qs Al Mu’minûn ayat 83; Qs Al Furqân ayat 3

[ii] Andaya, Leonard Y. 1981. The Heritage of Arung Palaka: a History of South Sulawesi (Celebes) in the Seventeenth Century. KITLV: Leiden [NLD] dalam Resensi Kompas 19 September 2004 oleh JJ. Rizal dengan tajuk “Membaca Luka Arung Palaka”.

[iii] Qs Al Hasyr ayat 18

 

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s