Tazkiyatun Nafs

Lintasan Kesombongan


Tersebutlah nama besar Imam Muhammad bin Malik al Andalusy (1204-1274) bergelar Jamaluddin atau sosok yang meperindah agama. Beliau adalah pengarang kitab monumental “Alfiyah”. Karya ini memuat 1002 bait berisikan kaidah-kaidah dasar bahasa Arab. Kitab ini disusun secara cermat, ringkas, dan indah sesuai niat mulia yang tertuang dalam bait muqaddimahnya:

“Mendekatkan pengertian yang jauh dengan lafadz yang ringkas serta dapat menjabarkan perihal yang terperinci secara cepat”.

Alfiyah menjadi karya agung, bermanfaat melintas masa hingga saat ini. Namun tiada sangka, pernah ada teguran halus kepada penulis dalam proses penyusunannya karena hadirnya lintasan kesombongan. Begitulah yang tertulis dalam syarah (penjelasan) atas matan (teks yang sesuai naskah asli) dari Alfiyah Ibnu Malik.

Kala itu al-Imam Ibnu Malik menyusun bait-bait syair pembukanya,

وَأسْتَـعِيْنُ اللهَ فِيْ ألْفِــيَّهْ  ¤  مَقَاصِدُ الْنَّحْوِ بِهَا مَحْوِيَّهْ [1]1

Dan aku memohon kepada Allah agar menjadikan Alfiyyah (yang kususun) ¤ dapat mencapai seluruh tujuan dari ilmu Nahwu[2]

تُقَرِّبُ الأَقْصَى بِلَفْظٍ مُوْجَزِ  ¤  وَتَبْسُـطُ الْبَذْلَ بِوَعْدٍ مُنْجَزِ

Mendekatkan yang jauh dengan lafadz yang ringkas  ¤  dan menjabarkan perihal yang terperinci secara cepat

وَتَقْتَضِي رِضَاً بِغَيْرِ سُخْطِ  ¤  فَـائِقَةً أَلْفِــــيَّةَ ابْنِ مُعْطِي

Menuntut keridhoan tanpa kebencian  ¤  (Karya ini) lebih unggul dari Alfiyah karya Ibnu Mu’thi[3]

sampailah pada bait ini, timbul keinginan beliau untuk menulis

……..   ¤  ِفَائِقَةً لَهَا بِأٌلْفِ بَيْت

Lebih unggul dengan seribu bait   ¤     (……kosong…..)

Tiba-tiba, beliau stuck. Fikirannya buntu! Beliau tak mampu melanjutkan syairnya. Berulang kali mencoba menulis, tak jua hadir kata-kata yang tepat. Hingga suatu saat, setelah sekian lama terhenti dari aktivitas penyusunan, beliau bermimpi didatangi oleh seorang lelaki tua kharismatik (syeikh) yang belum pernah beliau jumpai sekalipun. Syeikh tersebut meminta kepada Ibnu Malik untuk membacakan syair Alfiyah. Kemudian dibacakanlah satu persatu bait-bait pembuka yang telah beliau susun, dan ketika sampai pada bait,

ِفَائِقَةً لَهَا بِأَلْفِ بَيْت

Ibnu Malik pun terdiam.

“Lanjutkanlah!” Kata syeikh tersebut, tetapi Ibnu Malik tetap terdiam. Asy-Syeikh lalu menawarkan usulan baitnya, dan Ibnu Malik sepakat. Asy-Syeikh tersebut lalu berkata:

 ¤ ِفَائِقَةً لَهَا بِأَلْفِ بَيْت

ِوَالْحَيُّ قَدْ يَغْلِبُ أَلْفَ مَيِّت

(Alfiyah Ibnu Malik) lebih unggul dengan seribu bait  ¤  “dan dia yang masih hidup acapkali mampu mengungguli seribu mayit”.

Mendengar hal itu, Ibnu Malik tersentak kaget! Beliau seolah tersadar bahwa yang dia jumpai di mimpi tersebut, tak lain adalah Syeikh Yahya Ibnu Mu’thi. Seseorang yang tanpa sengaja terlintas akan beliau “rendahkan” martabatnya dalam bait-bait Alfiyah.

Selepas terbangun, jiwa Ibnu Malik terasa ringan. Beliaupun mampu melanjutkan bait-bait Alfiyahnya, dan hal yang pertama beliau lakukakan adalah menghapus lintasan fikir yang tertuang dalam bait penuh ‘ujub tadi. Beliaupun menggantinya dengan bait berikut,

َهْوَ بِسَبْقٍ حَائِزٌ تَفْضِيْلاً ¤ مُسْـتَوْجِبٌ ثَنَائِيَ الْجَمِيْلاَ

(Meski Alfiyah Ibnu Malik lebih unggul drpd Alfiyah Ibnu Mu’ thi) Namun beliau (Ibnu Mu’thi) memiliki keutamaan (sebagai penghulu Alfiyah)  ¤  maka selayaknya beliau mendapat sanjungan yang indah.

Kemudian bait pembuka tersebut beliau tutup dengan

وَاللَّهُ يَقْضِي بِهِبَـاتٍ وَافِرَهْ  ¤  لِي وَلَهُ فِي دَرَجَاتِ الآخِرَهْ

Semoga Allah menganugerahkan kepadaku (Ibnu Malik) dan kepada beliau (Ibnu Mu’thi)  ¤  hibah derajat keutamaan (di)  akhirat.

Ketika seorang salih yang berjiwa besar pernah merasakan sakitnya jangkitan virus hati, maka apalah daya bagi seorang hamba lemah. Maka hendaklah pandai menjaga diri, berusaha untuk berhati-hati mengatur suasana hati.

Semoga setiap tadzkirah (teguran) untuk diri sendiri  dapat dibaca berulang kali, lalu disampaikan kembali ketika hadir penyimpangan pada ruh yang rapuh. “Kau dulu pernah menulis ini, maka kewajibanmu adalah melaksanakan apa yang telah kau katakan”. Telah berkata Al-Mutanabbi[4] dan atau Abu Tammam[5] dalam syair hikmahnya,

تواضع تكن كالنجم لاح لناظر  ¤  على صفحات الماء وهو رفيع
ولا تكن كالدخان يعلو بنفسه  ¤  على طبقات الجو وهو وضيع

Rendah hatilah, jadilah seperti bintang nampak terang dalam pantulan air yang rendah,  padahal berada di tempat yang tinggi. Jangan menjadi seperti asap yang selalu meninggikan dirinya di lapisan-lapisan udara, padahal sebenarnya ia berada di tempat yang rendah”


Beberapa catatan:

[1] Matan Alfiyah Ibnu Malik, disalin dari: https://nahwusharaf.wordpress.com/terjemah-alfiyah-ibnu-malik/muqoddimah/

[2] Ilmu Nahwu adalah ilmu tentang struktur kalimat dan bentuk huruf/harakat terakhir dari suatu kata. Dalam Tata bahasa dikenal dengan sintakis (syntax)

[3] Abul Hasan Yahya ibnu Mu’thi Ibnu Abdu an-Nur Az-Zawawi Al Maghribiy (1168-1230) bergelar Zainuddin (Hiasan Agama), seorang Ahli Gramatikal terkenal di Timur Tengah. Lahir di Aljazair dan Wafat di Mesir.

[4] Memiliki nama asli Abu Tayyib Ahmad bin Husain bin Murrah bin Abdul Jabbar Al
Ju’fi Al Kufi (915-965), bergelar Al-Mutanabbi. Secara bahasa berarti “Seorang yang mengaku Nabi”, menurut Ibrahim al Yajizi gelar tersebut disematkan karena kekaguman masyarakat kala itu atas keindahan syairnya. Sehingga syairnya dimetaforkan dengan mukjizat para Nabi. Al-Mutanabbi juga mendapat julukan Al-Qasaid Al-Dinariyah (pemilik qasidah yang mampu mendatangkan uang/dinar).

[5] Bernama Habib ibnu Aus at-Tha’i (805-845). Seorang penyair mualaf sejak kecil, dari keluarga nasrani Suriah. Beliau terkenal sebagai pnyair Abad IX dengan kumpulan akbar (kapita selekta) syairnya yang diberi judul “Hamasah” (Semangat Kepahlawanan). Kumpulan syair ini terdiri dari 10 kitab yang merupakan sumbangan besar pada tata bahasa Arab dalam bentuk syair, karena beliau berhasil “tampil beda” dengan menggunakan kosakata kuno dan permisalan yang indah.

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s