Tazkiyatun Nafs

Perisai Diri di Malam Yang Sepuluh


“Demi waktu fajar, dan demi malam yang sepuluh” (Qs. Al Fajr 1-2)

Malam Yang Sepuluh

Buya Hamka menjelaskan bahwa Ibnu Abbas Radhiyallahu’anhumaa berpendapat “malam yang sepuluh maksudnya adalah sepuluh hari pertama pada awal bulan Dzulhijjah[1]. Bulan penyelenggaraan ibadah haji (Het Mekaansche Feest; term Snouck Hurgronje) bagi mereka yang “mampu”. Hari pertama Dzulhijjah, para jamaah haji mulai melaksankan persiapan haji. Pada hari kedelapan (tarwiyah) mereka bersiap berangkat ke Padang Arafah. Hari kesembilan (Arafah) mereka melakukan inti dari ibadah haji. Wuquf. Hadir, berhenti, bertafakur di padang gersang bernama Arafah. Berkumpul jadi satu muslim sedunia dalam status sosial sama, kembali pada hakikat hidupnya. Hamba yang lemah, hina-dina dihadapan sang Penguasa Semesta. Namun pada saat itu pula, Allah membanggakan mereka di hadapan para malaikat-Nya. Sebagaimana Sabda Rasulullah

“Tidak ada hari di mana Allah membebaskan hamba dari neraka lebih banyak daripada hari Arafah, dan sungguh Dia mendekat kemudian membanggakan mereka di hadapan para malaikat dan berkata: Apa yang (sesungguhnya) mereka inginkan?”  HR. Muslim

Usai wuquf, mereka bermalam (mabit) di Muzdalifah guna mempersiapkan kerikil “simbol perlawanan” yang akan dilempar dalam prosesi lempar jumrah. Setelah siap, mereka kembali ke Mina untuk melempar “Jumrah”. Hikmahnya, sebagai seorang hamba yang menjalankan tugas kepemimpinan di dunia, manusia tak akan pernah lepas dari godaan syetan, maka manusia harus “siap melawan” setiap saat. Hari itu adalah hari kesepuluh Dzulhijjah. Selepas melempar batu di Jumratul-Aqabah, mereka melakukan ibadah penyembelihan kurban. Karenanya, dinamailah hari kesepuluh dengan istilah Yaumu-n Nahr (hari Berkurban) atau Yaumu-l Udhiyah (hari Penyembelihan), yang selanjutnya dirayakan dengan nama ‘Idul-Adha. Ketika itu pula dilaksanakan sa’i (berlari kecil antara bukit Shafa dan Marwah sebanyak 7 kali) dan thawaf ifadah (thawaf inti yang menjadi rukun haji), sehingga genaplah seluruh rukun, syarat, dan wajib haji.

Perisai Diri

Para guru kami dahulu, selalu mengingatkan bahwa terdapat banyak keutamaan di sepuluh hari pertama Dzulhijjah.

Tak satupun perbuatan baik yang lebih dicintai Allah melebihi perbuatan yang dilakukan pada hari-hari ini (10 Hari pertama Dzulhijjah). Para sahabar nabi bertanya: “Tidak pula jihad di jalan Allah?” Nabi shallallahu‘alaihi wa sallam menjawab, “Tidak pula jihad di jalan Allah, kecuali orang yang berangkat jihad dengan jiwa dan hartanya namun tidak ada yang kembali satupun (dari keduanya).

Dipaparkan oleh Ibnu Abbas dalam HR Abu Dawud, Tirmidzi, Ibnu Majah, dan Ahmad 

Oleh karena itu, dalam hari-hari tersebut disyariatkan untuk memperbanyak kebaikan, yang bersifat vertikal (ritual individual) seperti puasa, shalawat, dzikir, dan lain-lain maupun yang bersifat horizontal (ritual sosial) seperti sedekah dan tolong-menolong dalam kebaikan. Semua amal kebajikan yang dilakukan dengan ikhlas dan sesuai prosedur risalah pada hari-hari tersebut, mendapat kedudukan utama. Bahkan lebih utama dari jihad (berperang) di Jalan Allah.

Salah satu kebaikan ringan yang dapat dilakukan bagi mereka yang belum berkesempatan menunaikan ibadah haji adalah berpuasa sunnah dari permulaan Bulan Dzulhijjah hingga hari Arafah (9 Dzulhijjah).

Ada empat hal yang Nabi Shallallahu ‘Alaihi wa Sallam belum pernah meninggalkannya: puasa ‘Asyura, Al ‘Asyr (puasa yang 10, yakni tanggal 1-9 Dzulhijjah), puasa tiga hari tiap bulan, dan dua rakaat sebelum subuh.

HR. Ahmad dan An-Nasa’i dari Hafshah.

Ash-shaumu junnah. Puasa adalah perisai diri. Bentuk pengabdian sekaligus perlindungan (firewall) dalam mengendalikan hawa nafsu (malware), pangkal keburukan dalam diri manusia. Hawa nafsu merupakan hal asasi yang tak dapat dihilangkan namun bukan berarti tidak dapat dikendalikan. Ibarat bayi yang membutuhkan pentingnya asupan ASI (Air Susu Ibu), hingga suatu masa tibalah saatnya bayi tersebut harus disapih demi kebaikan ibu dan anak, sebagaimana qasidah Al Bushiriy

an-nafsu kat-thifli //  in tuhmilhu syabba ‘alaa hubbir radha’ //  wa in taftimhu yanfatimi

Hawa nafsu itu ibarat bayi yang menyusu,  jika dia tidak disapih maka selamanya ia kan menyusu

Sebuah pendapat menarik pernah dikemukakan oleh Ibnu-l Qayyim al-Jauziyah rahimahullahu ta’ala dalam ad-Daa’ wa-d Dawa’ bahwa jihad melawan hawa nafsu merupakan dasar dari segala Jihad, karena tak mungkin seseorang mampu berjihad ikhlas di jalan Allah, baik dengan harta maupun jiwa raganya sebelum dia berhasil menundukkan hawa nafsunya.

Tak mungkin seseorang mampu meraih puncak jihad di jalan Allah melainkan ia telah berhasil melepaskan diri dari kepentingan mencari posisi duniawi (politik praktis), status sosial (titel kepahlawanan), juga rampasan perang (motif ekonomi). Tak mungkin pula seorang mampu bersedekah dengan segenap jiwanya melainkan telah berhasil membuang jauh pujian tentang kedermawanannya dari manusia, terlebih lagi hanya untuk mengharap martabat keduniaan yang remeh. Serta tak mungkin seorang mendapat kedudukan tinggi di sisi Allah selagi niatnya untuk belajar dan mengajarkan ilmu hanya lantaran untuk mendapatkan prestis ilmuwan maupun sanjungan berpengetahuan luas. Hal ini merupakan bagaian pemahaman sebagaimana wasiat Rasulullah yang dicatat Imam Muslim dalam Shahihnya Kitab al Imarah, bab Man Qaatala lir Riya’ was Sum’ah Istahaqqannar.

Menjaga keikhlasan dan membuang jauh hawa itulah inti dari puasa. Selamat merayakan malam yang sepuluh. Dalam setiap ketidakberdayaan, semoga semakin kokoh berperisai.

Tatar Pakuan, 29 Dzulqa’dah 1437 H


[1] Ibnu Jarir berpendapat 10 hari bulan Muharam sementara itu Ar-Razi berpendapat bahwa itu adalah 10 hari terakhir bulan Ramadhan (Tafsir Al-Azhar, Buya Hamka tentang Qs Al-Fajr ayat 1-5)

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s