Uncategorized

Skandal Khuruksetra


Meskipun tak terkalahkan, akhirnya Bisma menjemput takdirnya di tangan Srikandi pada hari ke-10. Sebuah pukulan telak. Kedudukan sebagai panglima tertinggi pasukan koalisi kemudian diambil alih oleh Guru Drona, sang Mata air ilmu serta guru besar para Kurawa dan Pandawa. Di samping itu, keputusan Karna untuk turun laga membantu koalisi Kurawa cukup melegakan hati pembesar Kurawa.

Yudhistira hampir tertawan di hari ke-11. Abimanyu putra Arjuna, yang tampil menawan dalam beberapa gempuran, harus terperangkap dan mengakhiri riwayatnya dalam kepungan formasi Cakravyuha di hari ke-13. Pada hari berikutnya, karib Abimanyu yakni Gathotkaca putra Bima pun tewas di tangan Karna. Heroisme Arjuna membungkam satu aksauhini (109,350 orang prajurit) koalisi Korawa dan matinya Jayadrata seakan tak berarti, karena statistik pertempuran lebih memihak lawan. Guru Drona sukses menjalankan taktik. Kemengan demi kemenangan menghampiri koalisi Kurawa.

Sri Khrisna, penasehat para putra Pandu, berfikir keras menghadapi tantangan ini. Terngianglah ia dengan kalimat yang pernah diucapkan oleh Guru Drona,

“Sekuatapapun, aku tetap memiliki rasa gundah. Kelemahanku adalah datangnya kabar duka yang disampaikan oleh pribadi santun yang tak kuragukan lagi kejujurannya”.

Mengingat kalimat itu, Sri Krishna segera memanggil Bhima dan memerintahkannya agar membunuh gajah milik Bhima yang bernama Aswatama. Sekali pukul, matilah gajah bernama Aswatama tadi. Entah kenapa, ketidaksengajaan masa depan ataukah memang sudah tersurat tanpa bisa terelakan. Nama gajah tersebut sejak lahir memang sama persis dengan nama putra kesayangan Guru Drona. Aswatama.

Aswatama telah mati. Aswatama telah mati” teriak Bima, meniupkan propaganda, memecah hebatnya kecamuk perang di tegal Khuruksetra.

Selang tak lama kemudian, sampailah kabar tersebut di telinga Guru Drona. Dia kalang kabut. Dicarilah Aswatama ke sana-ke mari. Di sini tak ada Aswatama, di mari tak ada Aswatama. Tak mudah mencari seseorang diantara lautan ribu manusia yang bertempur tanpa henti. Guru Drona menghampiri Yudhistira yang sedang berperang dan berada tak jauh dari posisinya.

Apakah kau dengar dan mengetahui bahwa Aswatama telah meninggal?” Tanya Guru Drona kepada murid kesayangannya itu.

Yudhistira adalah murid Guru Drona yang terjujur, terpercaya, dan senantiasa memegang janji (karena itu Yudhistira mendapat julukan Dharmajaya). Walau berposisi sebagai lawan, di suatu sisi tak ada seorang pun yang dapat dipercaya oleh Guru Drona di medan Khuruksetra selain Yudhistira.

Mendengar pertanyaan dari maha Gurunya, Yudhistira menjawab,

“Ashvathama hatahath, naro va kunjaro va”.

Aswatama telah mati, tak jelas itu manusia atau itu gajah. Hanya saja, kalimat “naro va kunjaro va” memang benar-benar tak jelas  terucap. Lirih. Sangat samar sekali di telinga tua Guru Drona.

Kalimat Ashvathama hatahath dari mulut Yudhistira pun mengguncang emosi Guru Drona. Seakan kehilangan tenaga, tubuhnya limbung, terjatuh lemas lunglai. Tanpa fikir panjang, Drestadyumna secepat kilat mengayunkan senjatanya untuk menghabisi Guru Drona di hari ke-15.

Yudhistira, memang tak berbohong, namun dia berintrik politik. Sejak itulah, kereta kudanya yang digambarkan selalu mengambang tak pernah menyentuh tanah (simbol kesucian jiwa) menjadi turun meyentuh permukaan. Pada hal ini, betul adanya bahwa tak selamanya Kurawa hitam, dan Pandawa putih, tapi suatu hal jelas, Kurawa tetaplah Kurawa dan Pandawa tetaplah Pandawa. Kebaikan akan menang, kejahatan akan sirna. Terlepas dari semua posisi, diantara nilai baik dan buruk, sebuah catatan yang hendak dipegang teguh, keadilan senantiasa berlaku sepanjang masa. Kelak. Ya, kelak di suatu ketika akan tiba timbangan yang sejajar 🙂

Advertisements

4 thoughts on “Skandal Khuruksetra

  1. semenjak itu bernama peperangan, tak jelas lagi mana yg hitam mana yg putih. Tapi saya curiga, Yudhistira ini aslinya Machiavellian,,,hehe

    Like

    • he..he boleh jadi, tp Yudhistira hanya manusia biasa. Melakukan keputusan sebatas untuk menggenapkan takdirnya. Dia yang paling berat cobaannya, paling akhir pula dlm menjemput ajal saat perjalanan menuju cahaya. Kebijaksanaan Yudhistira pada episod Yaumil Hisab, telah memberi gambar jelas tentang nilai sejati, definisi “baik” dan “buruk”, serta pihak mana yang “benar” dan pihak mana yang “salah”. Yang Maha Kuasa pun akhirnya memberikan keadilan yang seadil-adilnya untuk masing-masing tokoh, baik pandawa, kurawa, maupun figuran-figuran yang memilih bergabung di koalisi “kanan” atau koalisi “kiri”. Tak semua yang berada di koalisi pandawa baik, dan tak semua yang berada di koalisi kurawa buruk. Adakalanya pandawa melakukan kebaikan, adakalanya kurawa melakukan kebaikan begitupula sikap negatif, pernah ada pada keduanya. Namun secara keseluruhan kebenaran sudah jelas, dan jalan keselamatan lebih dekat dalam koalisi Pandawa. #Halah 🙂 Sebenarnya yang mengherankan itu sikap sri Krishna. Beliau seorang avatar (अवतार), tp diantara nasihat-nasihatnya justru menyiratkan justifikasi bahwa semua “halal” dalam perang. Mungkin sy terlalu kagum dengan Yudhistira dan masih anti thd dekonstruksi atas kisah sengketa perdata para putra Bharata ini, meski itu bagian dari seni.. wkwk

      Like

      • hehe,,sy justru yg mudah termakan isu dekonstruksi pandawa setidaknya karena 2 alasan yg sangat rapuh, pertama sy blm selesai membaca bukunya scr utuh (alasan 😀 ) sehingga penggambaran yg terlalu baik ttg pandawa kdg2 sounds boring,hehe, kedua karena dalam koalisi kurawa ada karna,,,anak kunti yg kisah hidupnya mengharukan itu,haha. Tapi pada akhirnya, yg menanggung beban batin paling berat itu ya Yudhistira sih,,,,
        Iya saya sepakat yg plg membingungkan itu sikap sri khrisna, manusia setengah dewa yg terlalu memaksakan takdir….

        Like

      • iy Karna, si putra Dewa Matahari (kayak demigod, pahlawan Yunani-Romawi kuno, jangan-jangan..) Tokoh ini kontroversi juga. Dia seorang bupati yang adil, dermawan thd kaum fakir, berbakti pada agama, memuliakan para brahmana. Hanya dia yg kesaktiannya setara dengan Arjuna. Pada masa muda dibully habis oleh Arjuna krn hanya skedar anak kusir, pas kisah sayembara mendapatkan Drupadi, dia juga dicurangi. Wafatnya pun mengenaskan, masih saja dicurangi Arjuna (Arjuna sbnarnya si gmw tp didesak trus ma Sri Krishna yg muncul dengan wajah Dewa). Sebelum Baratayudha, Sri Krishna pernah mengadakan pertemuan private, empat mata, untuk mengajak Karna bergabung dalam koalisi Pandawa, namun dia menolak tegas sebab terikat oleh kode etik satria Hastinapura. Beberapa cerita mengisahkan, bahwa ia turun ke laga Baratayudha, memang sengaja memilih untuk tumbal supaya perang tetap berjalan dan semua Kurawa tewas dalam peperangan. Jika semua Kurawa tewas maka kedzaliman akan sirna. Kelak dia akan masuk surga, baik versi Jawa maupun versi India. Di dunia nyata mungkin ada orang macam ini..hehe,, #apacobabahasbeginian,,

        Like

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s