Fikratunaa

Mendapat seperti Kehilangan


Pengajaran menarik dapat dipetik diantara tempo pergeseran waktu. Salah satunya tentang tentang dinamika organisasi dan kerja kolektif. Untaian pesan luhur pernah disampaikan oleh Pak Natsir (1908-1993) – perdana menteri Indonesia kala itu- dalam pidatonya pada HUT Kemerdekaan Indonesia, 17 Agustus 1951 yang berjudul “Djangan Terhenti Tangan Mendajung, Nanti, Arus Membawa Hanjut”.

Bahwa perjuangan mencapai cita-cita itu ibarat mendayung perahu. Setelah mendayung jauh, terlewatlah deras-deras arus. Hingga tibalah pada arus tenang, tanpa cabaran. Semasa itu, adakalanya muncul rasa ingin beristirahat sejenak. Ingin hati membiarkan perahu didorong oleh arus tanpa harus tangan bergerak mendayung. Pada dasarnya hal ini muncul dalam kejapan tanpa rasa insyaf, bahwa belumlah sampai perahu tersebut pada tujuan. Namun lambat laun melenakan. Maka, jangan sampai terlupa dan saling berebut picisan eksistensi diri sendiri. Letih tubuh itu manusiawi tapi bersibuk menyebut jerih usaha itu bisikan nafsu. Ketika para pendayung mulai saling acuh dengan tugas, tak terasa tibalah pada arus deras. Perahu yang dikayuh sedemikian jauh kehilangan kendali jua. Arah tujuan kabur tak menentu. Perahupun tak lagi melaju tenang mengikut arus, tapi terseret, lalu tenggelam. Tersadarlah para pedayung. Ketika itu jerih jasa berganti menjadi lupa. Hanya saja, semuanya sudah terlambat. “Djangan Terhenti Tangan Mendajung, Nanti, Arus Membawa Hanjut”. Dulu:  kehilangan, rasa mendapat. Kini: mendapat, rasa kehilangan.


“Mendapat seperti kehilangan”[1]

M. Natsir (17 Agustus 1951)

Kebalikan  dari  saat  permulaan  revolusi.  Bermatjam  keluhan  terdengar  waktu  ini. Orang ketjewa  dan  kehilangan  pegangan.  Perasaan tidak puas, perasaan djengkel dan perasaan putus asa, menampakkan diri. Inilah  jang  tampak  pada  saat  achir2 ini,  djusteru  sesudah  hampir 2 tahun mempunjai Negara merdeka dan berdaulat[2]. Dahulu  mereka  girang  gembira,  sekalipun  hartanja  habis,  rumahnja terbakar  atau  anaknya  tewas  di medan  pertempuran,  kini  mereka  muram dan  ketjewa  sekalipun  telah  hidup  dalam  satu  Negara  jang merdeka, jang mereka inginkan dan tjita2-kan  sedjak  berpuluh  dan  beratus  tahun jang lampau.

Mengapa keadaan berubah demikian ?

Kita  takkan  dapat  memberikan  djawab  atas  pertanjaan  itu  dengan satu  atau  dua perkataan  sadja.  Semuanja  harus  ditindjau  kepada  perkembangan  dalam  masjarakat itu  sendiri.  Jang  dapat  kita  saksikan  ialah beberapa anasir dalam masjarakat sekarang ini, diantaranja: Semua orang menghitung pengurbanannja, dan minta dihargai. Sengadja  di-tondjol2-kan kemuka apa  jang telah dikurbankannja  itu, dan  menuntut supaja dihargai oleh masjarakat. Dahulu, mereka berikan pengurbanan  untuk masjarakat dan sekarang dari masjarakat itu pula mereka mengharapkan pembalasannja jang setimpal. Memang tiap2 orang tentu ada andilnja  dalam  perdjuangan  revolusi  ini, dalam  artian pengurbanan. Harta, tenaga dan keluarga, seperti diterangkan di atas tiap orang  merasakan  punggung  jang  tak  bertutup,  periuk  jang tak berisi. Sekarang telah timbul penjakit bachil. Bachil keringat, bachil waktu dan meradjalela sipat serakah. Orang bekerdja tidak sepenuh hati lagi. Orang sudah keberatan  memberikan  keringatnja sekalipun  untuk tugasnja sendiri! Segala  kekurangan  dan  jang  dipandang  tidak sempurna, dibiarkan begitu sadja. Tak ada semangat dan keinginan untuk memperbaikinja. Orang  sudah  mentjari  untuk  dirinja  sendiri,  bukan  mentjari  tjita2 jang  diluar  dirinja.  Lampu  tjita2-nja  sudah  padam  kehabisan  minjak, programnya sudah tamat, tak tahu lagi apa jang akan dibuat!

Kita bertanja kepada umat Islam !

Apakah  memang  begini  jang  di-tjita2-kan  oleh  masjarakat,  umat Islam, dan apakah  memang  ini  jang dikehendaki oleh  bapa  dan  ibu2 jang telah merelakan  anak2-nja  berdjuang?

Apakah  masjarakat  jang begini  jang  di-idam2-kan  oleh  umat  Islam? 

Saudara  akan  mendjawab: „tidak”. Kalau  memang  tidak,  adalah  suatu  tanda  bahwa  perdjuangan saudara  belum  selesai,  malah  perdjuangan saudara baru mulai. Itu, suatu tanda bahwa musuh saudara belum hilang! Hanja  musuh  saudara  bertukar  rupa  dan  bertukar tempat. Dahulu musuh diluar menghadapi saudara dengan terang2-an, sekarang  musuh jang didalam diri jang meremukkan kekuatan bangsa mendjadi bubuk.

Sudahkah  turut  pula  saudara  dihinggapi  penjakit  lesu  hingga  mulai  bersikap  masa bodoh  terhadap  apa  jang  terdjadi  di sekeliling  saudara?

Sudahkah  saudara  turut  pula kena  penjakit  bachil  menjingsingkan lengan badju dan bachil mentjutjurkan keringat? Sudahkah  turut  tumpul  pula  perasaan  saudara membedakan  hak dengan batil? Sudahkah  turut  pula saudara „mentjari diri”, memperhitungkan djasa dan laba? Sudahkah  turut  pula  saudara  merasa  djiwa  jang kosong,  sunji  dari tjita2  jang  pada satu  saat  pernah  tjita2  itu  mendjadi  penggerak bagi segenap  pikiran  dan  anggota badan  saudara,  mendjadikan  saudara  dinamis, penuh inisiatif?  Sudahkah  saudara beranggapan,  tugasku  telah  selesai  dan  sekarang ialah zamannja mem-bagi2 laba dari hasil perdjuangan jang telah lalu?

Saudara!

Kalau  demikian,  saudara  telah  mulai  termasuk  pada  golongan  orang jang mendapat, akan tetapi kehilangan. Saudara  baru  berada  di tengah  arus,  tetapi  sudah  berasa sampai di tepi pantai. Dan lantaran itu tangan saudara berhenti berkajuh, arus jang deras  akan  membawa  saudara  hanjut  kembali,  walaupun  saudara  terus  menggerutu dan  mentjari  kesalahan  di luar  saudara.  Arus  akan membawa saudara hanjut, kepada suatu tempat jang tidak saudara ingini! Bagi  saudara  akan  berlaku  firman  Ilahi  dalam surat  An-Nur, ajat 39:  „Amal mereka ibarat fatamorgana dipadang pasir; disangka oleh musafir  jang  kehausan  sumber  air  jang  sedjuk,  tapi  demi  ia  sampai ketempat itu ia tak menemui air setetes djuapun”. Saudara  akan  ibarat  musafir  dipadang  pasir  jang  terik  itu  dan  tak akan  menemui  idam2-an,  akan  tetapi  jang  akan  ditemui  ialah  hokum Allah  sebagai  akibat  dari  pada  usaha  jang  salah-dasar  dan  tidak  mempunjai rentjana.

Maukah saudara terlepas dari pada genggaman arus itu? Untuk ini perlu saudara berdajung. Untuk ini saudara harus berani  mentjutjurkan keringat.  Untuk  ini  saudara harus  berani  menghadapi  lapangan  perdjuangan jang terbentang  dihadapan  saudara, jang  masih terbengkalai

Kemiskinan  masjarakat  di-tengah2 kekajaan  alam kurnia Ilahi, kelesuan  batin  dan kekosongan  djiwa  dari  budi  pekerti  dan  tjita2 jang  tinggi,  di-tengah2 ketjemerlangan palsu  jang  menjilaukan mata, bahaja desintegrasi dan kekatjauan jang sedang mengantjam, jang  digerakkan oleh tangan  jang bersembunji, semua ini merupakan suatu lapangan perdjuangan jang berkehendak kepada ketabahan hati dan keberanian!

Perdjuangan  ini  hanja  dapat  dilakukan  dengan  enthousiasme jang ber-kobar2 dan dengan keberanian meniadakan  diri  serta  kemampuan untuk merintiskan djalan dengan tjara jang berentjana. Usaha  besar  jang  kita  hadapi  pada  waktu  ini,  telah  pernah  kita hadapi  dengan kerelaan  menerima  segenap  konsekwensinja.  Dan  perdjuangan  jang  terbentang dihadapan  kita  ini,  tidak  kurang  berkehendak kepada  keberanian  untuk  menegakkan kedudukan  bangsa  dan  falsafah hidupnja,  djuga  dengan  segenap  konsekwensinja dengan  berupa  „keringat, air mata dan darah”.


[1] Kutipan naskah dari pidato “Djangan Terhenti Tangan Mendajung, Nanti, Arus Membawa Hanjut

[2] 2 tahun pasca penyerahan kedaulatan (Soevereiniteitsoverdracht) dari Kerajaan Belanda kepada Republik Indonesia Serikat -27 Desember 1949- sebagai salah satu pelaksanaan kesepakatan dari Konferensi Meja Bundar. Pemerintah Kerajaan Belanda akhirnya mengakui kedaulatan Republik Indonesia sesuai Proklamasi Kemerdekaan (17 Agustus 1945) bukan atas Soevereiniteitsoverdracht (27 Desember 1949) pada 16 Agustus 2005, oleh Bernard Rudolf Bot (Menlu Belanda) di kantor departemen Luar Negeri RI, sehari sebelum peringatan 60 tahun Kemerdekaan Indonesia.


Sumber: Natsir, M. 1957. Kapita Selekta 2, Sumbangan Dr Joke Moeliono. Djakarta: Pustaka Pendis

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s