Fikratunaa

Menyapa Rasa


Hati sebagai sebagai muara rasa menjadi esensi dari warna-warni kehidupan. Masyarakat Arab mengenalnya dengan istilah qalb (al-qalb). Secara etimologis, qalb didefinisikan sebagai tahwilu-sy syai ‘alaa waj-hi yang berarti merubah sesuatu dari bentuknya (Lisanul ‘Arab Juz 12). Jika dibahasakan secara umum, bisa difahami dengan arti goncang atau mudah terbolak-balik. Secara lugas terwakili oleh kata inkonsistensi.

Iman, sisi indah rasa, yang bersemayam di dalam hati tak kuasa jua untuk lepas dari ketergoncangan rasa. Bahkan ketika itu telah tertanam lama, pun yang sedang bersemi, dan merekah masih mudah terbolak-balik. Yang konstan dan naik bertahap, seketika tiba-tiba turun, terpuruk. Kemudian naik lagi, kemudian turun lagi. Demikan sebaliknya, dari yang awalnya ingkar tiba-tiba berbalik 180 derajat menjadi iman, namun kembali ingkar lagi lalu iman lagi. Qalbu itu laksana selembar bulu yang terombang-ambing oleh angin di padang gersang (Sunan Ibnu Majah: 88).

Seruan rasa dari lubuk yang terdalam untuk menghadap kembali kepada-Nya merupakan fitrah manusia yang sering terdengar, namun sering pula menggaung hilang. Karenanya, kemampuan untuk mengenali, akrab, dan terus menyapa rasa adalah jalan setapak lurus yang akan mengaburkan jejak-jejak kecondongan terhadap inkonsistensi. Hingga lenyaplah bimbang dan ragu. Terlepaslah dari semua bayang-bayang putus asa, sebab “Sesungguhnya kebaikan-kebaikan akan menghapuskan keburukan-keburukan”. (QS. Hud: 114). Menyapa rasa merupakan usaha menerangi kembali setiap pekat payah manusiawi dengan cahaya keyakinan. Berkatalah Ibnu Athaillah Asy-Syakandari dalam Al-Hikam bahwa “Tak ada (kesalahan) yang besar dihadapan ampunan-Nya sebagaimana tak ada (kesalahan) yang kecil dihadapan keadilan-Nya”. Menyapa rasa berarti mengizinkan fitrah untuk terus melaju. Meskipun harus tertatih-tatih menerobos gelap. Meskipun dalam kondisi terpejam dan harus rela beberapa kali kehilangan arah. Meskipun harus tersandung, jatuh, serta berkawan dengan perih memar luka.

Percaya rasa, lega benderang selalu datang menjelang bersama gerak-gerak menggenggam asa. Dia ada di setiap terjal pendakian menuju puncak-puncak istiqamah. Wahai Rasulullah, katakanlah kepadaku tentang Islam, sebuah perkataan yang setelah itu tak akan lagi kutanyakan kepada seorangpun selainmu. Beliau bersabda: Katakanlah: saya beriman kepada Allah, kemudian beristiqamahlah! (HR. Muslim dalam Arba’in An-Nawawiy No.21)


“Wahai sang Pembolak-balik hati teguhkanlah hatiku dalam ketaatan kepada-Mu” [HR. Muslim: 2654]

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s