Fikratunaa

Implementasi Program Kewirausahaan Berkelanjutan, Rekonstruksi Peran Mahasiswa


(Studi Sejarah Kegagalan Gerakan Ekonomi Benteng 1950-1957)


Oleh : Adistiar Prayoga

Mahasiswa Program Pascasarjana Manajemen Bisnis, Sekolah Bisnis Institut Pertanian Bogor


Pendahuluan

Indonesia merupakan negara yang berpopulasi penduduk sangat tinggi. Berdasarkan proyeksi Badan Pusat Statistik (2013) jumlah penduduk Indonesia pada tahun 2015 sebanyak 255, 461,700 jiwa. Worldometer (Portal populasi penduduk dunia) merilis bahwa pada 1 Juli 2014 jumlah penduduk Indonesia diperkirakan sebanyak 252,812,245. Hal ini setara dengan 3.49% total penduduk dunia dan menempatkan Indonesia pada posisi keempat peringkat penduduk terbanyak dunia.

Tak hanya berjumlah besar, masyarakat Indonesia memiliki daya beli yang tingi. Menurut penelitian Mc Kinsey Global Institute (2012) Indonesia memiliki 45 juta jiwa anggota kelas konsumen dan 0,5 triliun dolar Amerika Serikat peluang pasar dalam jasa konsumen, sektor pertanian, sumber daya energi dan pendidikan. Jumlah tersebut akan terus meningkat seiring bonus demografi Indonesia. Sehingga diperkirakan pada tahun 2030 Indonesia diperkirakan menjadi kekuatan ekonomi nomor tujuh di dunia dengan 135 juta jiwa anggota kelas konsumen dan 1,8 triliun dolar Amerika Serikat peluang pasar dalam jasa konsumen, sector pertanian, sumber daya energi dan pendidikan.

Kondisi tersebut selayaknya menjadi kabar baik bagi para wirausaha untuk berpacu mencari pasar. Wirausaha adalah seorang inovator yang mampu mengubah kesempatan menjadi sebuah ide yang bisa di jual, dapat memberikan nilai tambah melalui upaya, waktu, biaya, serta kecakapan dengan tujuan mendapatkan keuntungan (Machfoedz dan Machfoedz, 2004). Namun, faktanya pertumbuhan wirausaha di Indonesia masih cukup lambat. Menteri Koperasi dan UKM, Puspayoga (Harian Republika, 2015) mengatakan, bahwa jumlah pengusaha di Indonesia hanya sekitar 1,65 persen dari total populasi. Statistik ini menunjukkan bahwa jumlah pengusaha Indonesia masih tertinggal jauh dibandingkan Singapura (7 persen), Malaysia (5 persen), dan Thailand (empat persen). Padahal, pada akhir 2015 negara-negara Asia Tenggara telah bersepakat membuka era perdagangan bebas dalam bentuan ASEAN Economic Community. Selain itu berdasarkan kesepakatan World Trade Organization dalam General Agreement on Tariff and Trade pada tanggal 15 April 1994 di Marrakesh, Maroko, negara-negara yang menjadi anggota WTO juga telah menyetujui pelaksanaan perdagangan bebas untuk negara maju pada tahun 2010 dan negara berkembang tahun 2020. Hal ini menunjukkan bahwa era persaingan usaha semakin terbuka lebar. Jika masyarakat Indonesia tidak mampu memanfaatkannya, maka peluang besarnya market size tersebut akan diambil alih oleh pengusaha asing.

Schumpter (1934) menyatakan bahwa entrepreneurship (kewirausahaan) merupakan faktor pendorong dibalik pertumbuhan ekonomi suatu negara. Adapun salah satu faktor pemicu pertumbuhan wirausaha adalah peranan lembaga pendidikan tingkat tinggi (universitas) yang mampu membekali mahasiswa dengan pengetahuan melalui proses pembelajaran berdasarkan bukti empiris (Zimmerer, 2002; Yonshon, 2003; Suharti dan Sirine, 2011). Beberapa penelitian menyimpulkan bahwa minat seseorang untuk berwirausaha dipengaruhi oleh faktor internal, faktor eksternal dan faktor kontekstual (Suharti dan Sirine, 2011). Faktor internal dapat berupa karakter sifat, maupun faktor sosio-demografi seperti umur, jenis kelamin, pengalaman kerja, latar belakang keluarga dan lain-lain yang dapat mempengaruhi perilaku kewirausahaan seseorang (Johnson, 1990). Faktor eksternal berasal dari luar diri pelaku entrepreneur yang dapat berupa unsur dari lingkungan sekitar dan kondisi kontekstual (Johnson, 1990). Sedangkan faktor kontekstual berwujud dukungan akademik, dukungan sosial dan kondisi lingkungan usaha (Gurbuz dan Aykol, 2008). Berdasarkan hal tersebut, dapat difahami bahwa kampus merupakan faktor eksternal dan kontektual dalam menciptakan jiwa wirausaha sedangkan mahasiswa, khususnya yang mendapatkan pendidikan langsung di bidang ekonomi, bisnis dan manajemen memegang peranan penting sebagai agent of change dan iron stock dalam mewujudkan pertumbuhan ekonomi dan kesinambungan kewirausahaan di Indonesia.

Kebuntuan Wirausaha Mula dalam Pelaksanaan Bantuan Program Mahasiswa Wirausaha

Hingga dewasa ini, pemerintah dan kampus sebagai faktor eksternal sekaligus kontekstual telah membangun suasana yang kondusif dalam pembentukan iklim kewirausahaan melalui beragam program seperti Gerakan Kewirausahaan Nasional (Kementrian Koperasi dan UKM, 2012), Program Mahasiswa Wirausaha  (Dikti, sejak 2009), maupun program lain yang dicanangkan oleh internal Universtas seperti  Program Kreativitas Mahasiswa Kewirausahaan (PKMK) dan Program Pengembangan Kewirausahaan Mahasiswa (PPKM) di Institut Pertanian Bogor. Program-program rutin tersebut cukup diminati oleh mahasiswa. Meskipun tidak dapat dikatakan gagal, keberlanjutan program dalam mencetak wirausaha muda tersebut masih belum memperlihatkan hasil yang signifikan. Beberapa asumsi dan pengamatan kualitatif di lapangan menunjukkan bahwa :

  1. Peminat program belum tentu meminati profesi wirausaha. Tidak dapat dipungkiri bahwa beberapa peserta program mahasiswa wirausaha memiliki beragam niat dalam mengikuti program. Beragam ide bisnis menarik terkadang hanya sarana untuk mengakses dana bantuan (iseng berhadiah) tanpa diiringi niat yang kuat untuk terjun all-out dalam pengembangan bisnis. Pada akhirnya rencana bisnis berhenti di tengah-tengah pelaksanaan dengan beragam alasan dan bantuan permodalan dibagi habis kepada tim untuk kepentingan lain di luar rencana bisnis. Niat kewirausahaan mencerminkan komitmen seseorang untuk memulai usaha baru dan merupakan isu sentral yang perlu diperhatikan dalam memahami proses kewirausahaan pendirian usaha baru yang umumnya bersifat jangka panjang (Krueger , 1993; Lee dan Wong, 2004 dalam Suharti dan Sirine, 2011).
  2. Faktor penenetuan penerima bantuan. Berdasarkan pengamatan dan diskusi dengan juri dalam mata kuliah kewirausahaan, criteria utama penerima bantuan modal ditentukan dari unsur keunikan produk meskipun tanpa disertai riset pasar yang pasti. Akibatnya ketika bantuan telah dikucurkan, para mahasiswa penerima bantuan masih banyak yang bingung dalam hal pemasaran Beberapa dari mereka yang gagal dalam “pecan-pekan pemasaran” akhirnya memustuskan untuk berhenti memasarkan produk kemudian aktif di kegiatan-kegiatan lain untuk mengisi tenggat waktu selain kuliah.
  3. Warisan budaya negati Celah-celah pertanggung jawaban evaluasi pelaksanaan program mahasiswa wirausaha mendorong terjadinya moral hazard pada pelaksanaan program di tahun berikutnya.
  4. Pendampingan kurang intensif. Pendampingan yang diberikan oleh pihak penyelenggara terkadang hanya bersifat teoritis tanpa adanya mentor yang berpengalaman dalam pelaksanaan di lapangan dan tahap-tahap pengembangan usaha mahasiswa.

Studi Kegagalan Gerakan Ekonomi Benteng dalam Menciptakan Wirausaha Baru

Pada awal pemerintahan pasca pengakuan kedaulatan Indonesia secara de Jure oleh Belanda (29 Desember 1949) dan keputusan integrasi dari Republik Indonesia Serikat ke Negara Kesatuan Republik Indonesia (17 Agustus 1950), Indonesia mengalami permasalahan ekonomi yang cukup kompleks. Hasil dari Konferensi Meja Bundar (1949) memaksa Indonesia untuk mewarisi hutang dari kolonialis Belanda sebesar Rp 4,3 Milyar sebagi bentuk “mahar” atas kemerdekaan.

Untuk menyelesaikan hal tersebut, Sumitro Djojohadikusumo (menteri perdagangan dalam Kabinet Natsir) mencetuskan program revolusioner bertajuk Ekonomi Benteng (gerakan ekonomi Benteng). Tujuan utama program adalah mengubah struktur ekonomi kolonial menjadi struktur ekonomi nasional dengan menumbuhkan kelas pengusaha dari kalangan pribumi Indonesia, sehingga dapat menstimulus pertumbuhan ekonomi Indonesia. Bentuk program ekonomi Benteng adalah pemberian bantuan kredit. Kurang lebih selama 3 tahun (1950-1953) sekitar 700 perusahaan bangsa Indonesia mendapat manfaat dari program ini.

Program Benteng sebenarnya berjalan cukup berhasil, pada pertengahan tahun 1950-an, sekitar 70 persen perdagangan impor dilakukan oleh pengusaha pribumi Indonesia. Namun lambat laun program ini menjadi salah satu sumber defisit keuangan negara. Pada 1952 defisit anggaran belanja Negara sebesar 3 Miliar rupiah dan masih  ditambah sisa defisit anggaran tahun 1951 sebesar 1,7 miliar rupiah.  Program Benteng ditinjau kembali pada bulan September 1955 oleh menteri keuangan Sumitro Djojohadikusumo Kabinet Burhanuddin Harahap dan resmi dihentikan pada bulan Maret/April 1957 pada masa Kabinet Karya Djuanda Kartawidjaja.

Identifikasi kegagalan program ini dari sudut pandang pelaksana (wirausaha pribumi) adalah:

  1. Kelemahan keahlian wirausaha. Banyak yang tidak memahami seluk beluk perdagangan impor, seperti tata cara mengurus pendokumentasian dan pendanaa impor (Sastoastomo dalam Thee, 2004).
  2. Kelemahan jaringan dan teknis permodalan. Banyak diantara pengusaha pribumi tidak bermodal dan tidak berkantor (dikenal dengan istilah importir aktentas). Para pengusaha pribumi tersebut berhasil memiliki lisensi namun tidak mempunyai dana dan keahlian sehingga terpaksa mengandalkan kapitalis yang terampil (umumnya etnis China) yang memiliki sumber finansial serta manajerial namun secara politis tidak mampu mendapatkan lisensi (Sastoastomo dalam Thee, 2004).
  3. Kelemahan mentalitas. Banyak pengusaha pribumi yang berminat terhadap program benteng namun tidak memiliki mentalitas wirausaha. Sumitro dan mengatakan bahwa dari dari sepuluh orang penerima program benteng hanya tiga orang pengusaha sejati, sedangkan sisanya adalah benalu (Thee, 2004).
  4. Kelemahan pendampingan program. Program benteng dinikmati oleh perusahaan Belanda (Lindblad, 2002) dan membuka peluang rent seeking (Thee, 2004).
  5. Penyalahgunaan wewenang (moral hazard). Pemberian hak eksklusif impor barang yang tidak didasarkan atas keterampilan atau pengalaman, tetapi lebih didasarkan atas kedekatan atau hubungan pribadi (Thee, 2004). Harian Berita Ekonomi, tanggal 10 September 1954 membuat laporan khusus tentang kasus korupsi di KPUI (Kantor Pusat Urusan Import) karena adanya bukti-bukti fisik yang ditujukan untuk “orang dalam” sebagai apresiasi atas persetujuan (Lindblad, 2002).

Rekonstruksi Peran Mahasiswa untu Mewujudkan Iklim Wirausaha yang Berkelanjutan

Menilik peristiwa masa lalu, kegagalan Gerakan Ekonomi Benteng (150-1957), secara sederhana terdapat kesamaan sejarah dengan stagnasi program mahasiswa wirausaha. Beberapa probelem tersebut adalah: (1) kelemahan keahlian wirausaha (2) kelemahan jaringan dan teknis permodalan (3) kelemahan mentalitas (4) kelemahan pendampingan program (5) penyalahgunaan wewenang (moral hazard). Jika faktor-faktor penting terabaikan, maka boleh jadi program-program mahasiswa wirausaha akan terlaksana tidak efisen dan bahkan dapat dikatakan sebagai pemborosan anggaran. Oleh karena itu perlu dirancang desain pelaksanaan dari sudut pandang mahasiswa yang selanjutnya diharapkan dapat bersinergi dengan pihak berwenang penyelenggara program mahasiswa wirausaha. Berikut beberapa saran yang dapat ditindaklanjuti:

  1. Peran Langsung Mahasiswa dalam Proses Penciptaan Iklim Wirausaha

Organisasi intra kampus dalam bentuk Badan Ekskutif Mahasiswa tingkat fakultas maupun universitas berperan dalam upaya penjaringan minat dan pengembangan bakat mahasiswa dalam kewirausahaan. Banyak program-program kerja kabinet dan unit kegiatan mahasiswa yang dapat disenergikan secara komprehensif dalam proses penjaringan penerima bantuan modal mahasiswa wirausaha. Seleksi program mahasiswa wirausaha lebih baik tidak langsung melalui proposal, namun melalui rangkaian berikut yang difasilitasi oleh Badan Ekskutif Mahasiswa (BEM):

  • Bagi wirausaha pengajuan proposal start up diwajibkan mengikuti serangkaian kegiatan peningkatan skill yang difasilitasi BEM, baik berupa seminar maupun sekolah singkat wirausaha.
  • Bagi mahasiswa fakultas ekonomi dan bisnis dan usaha lanjutan yang sudah mendapat bekal standar kewirausahaan, diwajibkan mengikuti uji pengetahuan dasar.
  • Hasil kegiatan tersebut menjadi kredit penilaian administratif dalam uji proposal bisnis. Peserta yang dinyatakan lolos administrative berhak mengajukan proposal bisnis yang selanjutnya dipresentasikan dihadapan dewan penguji.
  1. Mentoring Wirausaha

Beberapa karakteristik psikologis ditemukan  dalam sejumlah studi sebagai determinan dari perilaku kewirausahaan (Suharti dan Sirine, 2011) seperti: (i) kebutuhan untuk berprestasi/need of achievement  (Gorman et al., 1997; Littunen, 2000; Nishanta, 2008) , (ii) inisiatif dan  kreativitas (Gorman et al., 1997 ; Gerry et al., 2008) , (iii) kecendrungan mengambil resiko/the propensity  to take risk (Hisrich dan Peters, 1995; Gerry et al.,2008),  (iv) kepercayaan diri dan locus of control (Gorman et al., 1997; Nishanta (v) self esteem dan perilaku inovatif  (Robinson et al., 1991), (vi) nilai – nilai yang dianut dan tujuan personal (Gorman et al., 1997) dan (vii) leadership (Gerry, et al. 2008).

Karakter psikologis tersebut perlu dikembangkan dalam wadah mentoring wirausaha. Adapun peserta mentoring wirausaha adalah peserta  program mahasiswa wirausaha dari tingkat star up hingga tingkat lanjut. Kegiatan ini dapat difasalitasi oleh BEM dengan pendampingan langsung dari direktorat kemahasiswaan.

  1. Menumbuhkan Tanggung Jawab Komunitas (Student Business Cluster)

Dari kegiatan mentoring wirausaha akan disusun kelompok-kelompok community partenership yang saling mendukung dalam menciptakan:

  1. Pasar potensial
  2. Akses dana tambahan
  3. Keberlanjutan usaha

Pengelompokan komunitas wirausaha yang berdasar pada bidang wirausaha, akan membantu terciptanya bisnis start up yang integratif dari sisi bahan, permodalan maupun terciptanya lahan bisnis baru. Proses monitoring yang dilakukan oleh pihak universitas juga akan sangat terbantu. Pelaporan dilakukan secara kelompok akan lebih jelas penyusunannya, proses chek-re chek (penelusurannya), dan pemantuan secara kuantitatif. Kinerja dan tanggung jawab tiap unit kelompok ini selanjutnya disertifikasi dan mereka yang memenuhi kriteria berhak mendapat modal tambahan pengembangan bisnis.

  1. Menyusun Kekuatan Alumni

Program bantuan modal mahasiswa wirausaha biasanya diberikan kepada mahasiswa semester akhir yang tentunya tidak lagi akan menyelesaikan studinya. Oleh karena itu, ada tanggung jawab moral dari peserta mentoring wirausaha yang telah terbentuk menjadi komunitas kelompok bisnis untuk menjadi penggerak dalam penyusunan model kegiatan tahun berikutnya. Hal ini akan bermanfaat bagi strategi perluasan market berupa penyusunan produk  yang saling terkait sehingga membentuk suatu rantai nilai (shared value) sederhana yang dapat menciptakan eksternalitas positif.

Pada posisi tingkat lanjut, untuk proses pengembangannya diharapkan tidak lagi bergantung pada dana kampus namun dapat disenergikan dengan kegiatan-kegiatan alumni serta akses jaringan alumni yang telah memiliki modal baik finansial maupun kapital yang lebih besar. Dalam jangka panjang, dari program ini dapat terbentuk koorporasi alumni yang mampu membuka kesempatan kerja dan memberi manfaat bagi sivitas akademika dan masyarakat di sekitar kampus.

  1. Peran Faktor Eksternal

Faktor Ekternal didefinisikan sebagai pihak birokrasi Universitas dan Direktorat Jendral Pendidikan Tinggi (Dikti). Beberapa dukungan yang diusulkan antara lain:

  1. Optimalisasi inkubator Kampus melalui unit pengembangan karir yang dimiliki oleh kampus berkoordinasi secara intensif dengan BEM dalam kegiatan-kegiatan pengembangan minat dan penciptaan iklim wirausaha.
  2. Sertifikasi mahasiswa w Direktorat kemahasiswaan menyusun desain strategi mahasiswa wirausaha dan menurunkan program bantuan modal bergulir kepada kelompok (cluster) bisnis mahasiswa.
  3. Kompetisi Bisnis. Untuk meningkatkan minat dan penciptaan iklim yang kondusif maka perlu diselenggarakann kompetisi binis, baik internal maupun eksternal universitas. Bentuk kompetisi dapat berupa debat strategi bisnis maupun studi kasus.

PENUTUP

 Indonesia memiliki potensi besar dalam terciptanya iklim kewirausahaan melalui beragam institusi pendidikan. Berawal dari kampus, diharapkan tercipta wirausahawan baru yang menurut Schumpter (1934) merupakan pemicu pertumbuhan ekonomi suatu bangsa. Mahasiswa sebagai agent of change dan iron stock memiliki peran strategis dalam pencapaian target pertumbuhan wirausaha pemula yang sejauh ini masih berada pada posisi stagnan. Permasalahan dan peran strategis mahasiswa dalam penciptaan program kewirausahaan yang berkelanjutan tersebut hendaknya diteliti secara kualitatif dan mendalam kemudian dijabarkan dalam wujud rencana strtategis baik dalam jangka pendek, menengah atau panjang.

 

Kepustakaan

————. 2011.  Gerakan Benteng Sumitro rilis  Senin, 19 September 2011. [online] http://mperadaban.blogspot.co.id/2011/09/gerakan-benteng-sumitro.html diakses pada 8 November 2015

Adiningsih, Sri, et al. 2005. Pemikiran dan Permasalahan Ekonomi di Indonesia dalam Setengah Abad Terakhir. Jilid 2. Ekonomi Terpimpin (1959-1966). Penerbit Kanisius & Ikatan Sarjana Ekonomi Indonesia

Badan Pusat Statistik. 2013. Proyeksi Penduduk Indonesia 2010-2035. Katalog BPS: 2101018. Program Kerjasama Badan Perancang Pembangunan Nasional,  Badan Pusat Statistik, dan United Nations Population Fund

Lindblad, J. Thomas. 2002. The Importance of Indonesianisasi  During The Transition from The 1930s to The 1960s. Paper Prepared For The Conference On `Economic Growth And Institutional Change In Indonesia In The 19th  And 20th Centuries’, Amsterdam, 25-26 February 2002

Machfoedz Mas’ud dan Mahmud Machfoedz. 2004. Kewirausahaan Suatu Pendekatan Kontemporer, Yogyakarta: UPP AMP YKPN

Oberman et al. 2012. The Archipelago Economy: Unleashing Indonesia’s Potential. McKinsey Global Institute Publication Date: September 18, 2012

Pinayani, A. (2006). Prospek Masa Depan Kewirausahaan Di Indonesia. Jurnal Ekonomi dan Koperasi  Universitas Pendidikan Indonesia Vol.1 No.1, Januari 2006

Suharti, L., & Sirine, H. (2012). Faktor-Faktor yang Berpengaruh Terhadap Niat Kewirausahaan (Entrepreneurial Intention). Jurnal Manajemen dan Kewirausahaan13(2), 124-134.

Wie, Thee Kian. 2004. Pembangunan, Kebebasan, Dan Mukjizat Orde Baru: Esai-Esai. Jakarta: Kompas dan Freedom Institute

Yohnson. 2003. Peranan Universitas dalam Memotivasi Sarjana Menjadi Young Entrepreneurs. Jurnal Manajemen dan Kewirausahaan, 5(2): 97-111.

Zimmerer, W.T. 2002. Essentials of Entrepreneurship and Small Business Management. Third Edition. New York: Prentice-Hall.

 

 

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s