Economics

Dinar; Keping Mata Uang yang Stabil


TENTANG DINAR-DIRHAM

Salah satu bentuk mata uang yang pernah eksis di dunia adalah Dinar (terbuat dari emas) dan dirham (terbuat dari perak). Penamaan Dinar dan Dirham terjadi pada masa Nabi Ya’qub dan Nabi Yusuf ‘Alaihimaas Salam, sebagaimana termaktub dalam Qs. Ali-Imran : 75, dan Qs. Yusuf 12: 20.

Standarisasi ukuran dinar dan dirham pada masa Rasulullah Shalallahu Alaihi Wassalam sama dengan ukuran raqim dan wariq pada masa Nabi Idris sampai Nabi Ishaq ‘Alaihimaas Salam, dan sama pula ukurannya dengan dinar dan dirham pada masa Nabi Ya’qub ‘Alaihissalam sampai Nabi Muhammad Shalallahu Alaihi Wassalam. Ukuran ini adalah ukuran yang telah disepakati oleh Jumhur Ulama’. Yaitu: nisab zakat harta yang harus ditarik sebanyak 20 Dinar untuk Zakat Emas dan 200 Dirham untuk Zakat Perak. (Abdurrahman bin Muhammad Ad-Dimasyqi dalam Al-Fiqh Ala Al-Madzahib Al-Arba’ah halaman 119; Ibnu Rusyd dalam Bidayatul Mujtahid II/39 dan Asy-Syafi’i dalam Al-Umm, II/40)

Dinar dan Dirham dibedakan menurut beratnya. Mata uang Dinar mengandung emas 22 karat dan terdiri dari pecahan setengah Dinar dan sepertiga Dinar. Berikut Standar Timbangan Mata Uang Dinar-Dirham:

  • 1 Dinar = 1 Mitsqal = 22 Qirath
  • 10 Dirham = 7 Mitsqal
  • 1 Mitsqal = 72 Butir gandum ukuran sedang yang dipotong kedua ujungnya
  • 1 Mitsqal = 6000 Biji khardal barriy (sawi)
  • 1 Mitsqal = 4.25 gram
  • 1 Dirham =14/20 mitsqal = 7/10 mitsqal =7/10 X 4.25 gram = 2.975 gram perak

Nilai tukar Dinar – Dirham relatif stabil pada jangka waktu yang panjang dengan kurs Dinar-Dirham 1 : 10. Pada saat itu perbandingan emas-perak 1 : 7, sehingga 1 Dinar 20 karat setara dengan 10 Dinar 44 karat.

Reformasi moneter pernah dilakukan oleh Khalifah Abdul Malik yaitu Dirham diubah menjadi 15 karat dan pada saat yang sama Dinar dikurangi berat emasnya dari 4,55 menjadi 4,25 gram. Di zaman Ibnu Fakih (289 H) nilai Dinar menguat menjadi 1 : 17, namun kemudian stabil pada kurs 1 : 15. Setelah reformasi moneter Abdul Malik, ukuran-ukuran nilai adalah sebagai berikut : satu Dinar 4,25 gram, satu Dirham 3.98 gram, satu uqiyya 40 Dirham, satu mitsqal 22 karat, satu ritl (liter) 12 uqiyya setar dengan 90 mitsqal, satu qits 8 ritl setara dengan setengah sa’, satu qafiz 6 sa’ setara seperempat artaba, satu wasq 60 sa’ satu jarib 4 qafiz.

Seribu tahun kemudian, kurs 1 : 15 ini juga berlaku di Amerika di tahun 1792-1834M. Berbeda dengan langkah yang diambil Abdul Malik dengan reformasi moneternya Amerika tetap mempertahankan kurs ini walaupun di negara-negara Eropa nilai mata uang emas menguat pada kisaran kurs 1 : 15,5 sampai 1 : 16,6, Walhasil mata uang emas mengalir keluar dan mata uang perak mengalir masuk ke Amerika.

Kejadi ini yang dikatakan oleh Thomas Gresham (1519-1579 M) sebagai “bad money drives out good money” atau uang kualitas buruk akan menggantikan uang kualitas baik (Izhar, 2002 dalam Mustafa, 2006).

PENGGUNAAN DINAR SEBAGAI SALAH SATU SOLUSI MASALAH MONETER

Penggunaan uang dinar merupakan suatu solusi atas perekonomian dunia yang menggunakan uang fiat. Penggunaan uang fiat menimbulkan ketidakstabilan perekonomian dunia, untuk mengatasi hal itu dibutuhkan mata uang yang lebih stabil yaitu dinar emas.

Pada tahun 1250M/648H Mesir menjadikan Dinar sebagai dasar moneter, namun pernah dipengaruhi oleh penggunaan uang jenis fulus yaitu uang campuran dari kuningan dan tembaga. Penggunaan uang fulus dan kondisi perekonomian yang buruk telah menyebabkan harga yang tidak stabil. Untuk mengatasi hal tersebut Al-Maqrizi (768 – 845 H) dalam bukunya Ighotsatul Ummah bi Kasyfil Ghummah menjelaskan kondisi tersebut secara terperinci serta memberikan jalan keluar bagi kondisi perekonomian Mesir pada waktu itu. Diantara pemikiran al-Maqrizi tersebut adalah:

  1. hanya dinar dan dirham yang bisa digunakan sebagai uang.
  2. menghentikan penurunan nilai uang (debasement of money)
  3. membatasi penggunaan uang fulus Menurut al-Maqrizi untuk mengatasi kondisi tersebut, uang dinar dan dirham harus kembali digunakan dalam perdagangan barang dan jasa seperti pembayaran upah para pekerja.

Untuk mendukung penggunaan uang dinar dan dirham terebut maka pemerintah harus menghentikan penurunan nilai uang (debasement of money) serta membatasi penggunaan uang fulus hanya untuk transaksi dalam skala kecil dan hanya untuk transaksi kebutuhan sehari-sehari rumah tangga. Sedangkan dinar dan dirham digunakan untuk transaksi dalam skala besar seperti perdagangan luar negeri dan transaksi domestik lainya (Al-Maqrizi, 2002; Rosly dan Barakat, 2002)

Ada beberapa alasan dari penggunaan mata uang dinar Islam dalam menuju stabilitas sistem moneter, antara lain:

  1. Dinar adalah mata uang yang stabil. Pebedaan uang dinar dengan uang fiat adalah kestabilan nilai uang tersebut. Setiap mata uang dinar mengandung 4.25 gram emas 22 karat dan tidak ada perbedaan ukuran emas yang dikandung dinar pada setiap negara, tidak ada perbedaan nilai dinar yang digunakan di Irak dengan dinar yang digunakan di negara Arab saudi. Uang dinar tidak mengalami inflasi semenjak zaman Rasulullah Shallallahu ’Alaihi Wassallam hingga sekarang. Sebuah penelitian telah dilakukan oleh professor Roy Jastram dari Berkeley University dengan menulis buku tentang The Goldent Constant. Ia melakukan penelitian harga emas terhadap beberapa komoditi untuk waktu 400 tahun hingga 1976. hasil dari penelitiannya adalah bahwa harga emas adalah konstan dan stabil. Sekalipun selama waktu tersebut telah terjadi krisis, perang, dan bencana alam nilai emas relatif stabil (Vadillo, 2002).
  2. Dinar adalah alat tukar yang tepat. Dengan adanya nilai yang stabil dan standar yang sama di setiap negara, dinar akan memberikan kemudahan dan kelebihan bagi masyarakat untuk melakukan transaksi domestik dan transaksi internasional sekalipun. Dinar adalah mata uang yang berlaku secara sendirinya, berbeda dengan fiat money sebagai legal tender yang membutuhkan pengesahan berupa hukum oleh pemerintah yang mencetaknya. Uang dinar emas adalah uang sudah dikenal selama berabad-abad, sehingga tidak diperlukan adanya proses penghalalan dan pengesahan sebagai uang
  3. Penggunaan dinar dapat mengurangi spekulasi, manipulasi dan arbitrasi. Nilai dinar yang sama akan mengurangi tingkat spekulasi dan arbitrasi di pasar valuta asing, karena kemungkinan perbedaan nilai tukar akan sulit terjadi. Jika dinar sudah menjadi “single currency” yang sama di setiap negara, maka tidak akan ada perbedaan nilai dinar di setiap negara yang memberikan keuntungan yang besar kepada para spekulator-spekulator tersebut.
  4. Karena setiap transaksi Dinar didasari oleh transaksi di sektor riil, maka penggunaannya dapat mengiliminir penurunan ekonomi atau economic downturn dan resesi.
  5. Penggunaan Dinar dalam suatu negara dapat mengiliminir risiko mata uang yang dihadapi oleh negara tersebut, apabila digunakan oleh beberapa negara yang berpenduduk Islamnya mayoritas akan mendorong terjadinya blok perdagangan Islam.
  6. Penggunaan Dinar akan menciptakan sistem moneter yang adil dan berjalan secara harmonis dengan sektor riil. Sektor riil yang tumbuh bersamaan dengan perputaran uang Dinar, akan menjamin ketersediaan kebutuhan masyarakat pada harga yang terjangkau.
  7. Berbagai masalah sosial seperti kemiskinan dan kesenjangan akan dengan sendirinya menurun atau bahkan menghilang.
  8. Kedaulatan negara akan terjaga melalui kesetabilan ekonomi yang tidak terganggu oleh krisis moneter atau krisis mata uang yang menjadi pintu masuknya kapitalis-kapitalis asing untuk menguasai perekonomian negara dan akhirnya juga menguasai politik keamanan sampai kedaulatan negara.
  9. Hanya uang emar (Dinar) dan perak (Dirham) yang bisa menjalankan fungsi uang modern dengan sempurna yaitu fungsi alat tukar (medium of exchange), fungsi satuan pembukuan (unit of account) dan fungsi penyimpan nilai (store of value).

___________________________

Daftar Pustaka:

  1. Karim, Adiwarman A, Ekonomi Makro Islami, Cetakan ke-2, PT Rajagrafindo Persada, Jakarta, 2007
  2. Nasution, M. E. Pengenalan Eksekutif Ilmu Ekonomi Islam. Jakarta: Kencana Prenada Group, 2006
  3. Standar Dinar dan Dirham dalam Fikih dan sejarah Islam, http://www.dinarfirst.com, 20 Februari 2013
  4. Beberapa artikel lain tentang dinar dan dirham dalam kuliah moneter Islam, tanpa keterangan lengkap, 2008
Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s