Our Civilzation

Tujuan Penerapan Hukum, Perspektif Islam


Inti dari penerapan hukum dalam perspektif Islam (maqâshid al-syarî’ah) ialah menghadirkan kebaikan (maslahat) yang harus diwujudkan di satu pihak dan menghindarkan mafsadat di lain pihak.

Secara etimologis, maslahat mengandung arti “طـلـب الا صلاح” (thalabul ishlâh) yaitu mencari kebaikan. Sementara mafsadat mengandung arti kerusakan dan keburukan yang membawa kerugian bagi kehidupan umat manusia. Mafsadat sering juga disebut dengan mudharat. (Abdul Wahab Khalaf dalam Mashadir al-Tasyri’ al-Islami Fima La Nashsha Fîh, 1972).

Secara terminologis, Abdul Karim Zaidan mengatakan:

 المـصلحة هي جـلـب المـنـفـعـة ود فـع الـمـضـرة اي المفـسـدة.

 Al mashlahatu hiya jalbil manfa’ah wa daf’il mudharah ayyil mafsadah ~ Maslahat ialah meraih manfaat dan menolak kerusakan  atau kemudaratan (Mashadir al-Tasyri’ al-Islami Fima La Nashsha Fîh, 1972)

Sehingga dapat dipahami bahwa konsep maslahat dan mafsadat dalam hubungannya dengan maqâshid al-syarî’ah merupakan sutu cara dalam melihat nilai-nilai maslahat yang harus diperjuangkan dan dipertahankan dalam rangka mewujudkan kebahagiaan manusia baik di dunia maupun di akhirat.

Jika dilihat dari beberapa sisi maqâshid al-syarî’ah berikut ini adalah tujuan dari sebuah hukum (syariah):


Dari maksud syari’ (pembuat hukum). Abu Ishaq al-Syatibi dalam al-Muwafaqat Fi Ushul al-Syarî’ah(II/342) menjelaskan bahwa ditinjau dari segi maksud syari’ (pembuat hukum), maka maqâshid al-syarî’ah tidak lain adalah bertujuan untuk mewujudkan kemaslahatan bagi seluruh umat manusia baik di dunia maupun di akhirat.

Secara lebih luas, ulasan al-Syatibi tentang mashlahat dapat dibagi menjadi 3 tingkatann, yakni: dharûriyat, hâjjiyat dan tahsiniyat.

Maslahat dharûriyat merupakan peringkat pertama atau menyangkut kepentingan primer atau pokok. Ada lima kepentingan pokok yang termasuk ke dalam maslahat dharuriyat ini, yaitu: terpeliharanya agama, jiwa, akal, keturunandan harta. 

Maslahat hajjiyat ialah menyangkut kepentingan atau maslahat yang sifatnya sekunder. Sekiranya aspek hajjiyi ini tidak/belum terwujud tidaklah membawa atau menimbulkan bencana atau kerusakan, tetapi dapat menimbulkan kesulitan bagi manusia. Misalnya dalam lapangan ibadah Allah memberikan jalan keluarnya, yaitu ada rukhshah. Seperti boleh tidak berpuasa jika sakit atau safar dalam jarak tertentu, dan boleh melakukan qasar shalat dalam perjalanan.

Maslahat tahsiniyat adalah menyangkut kepentingan yang sifatnya pelengkap atau kesempurnaan saja. Sekiranya tidak terpenuhi tidaklah menimbulkan kesulitan dan tidak pula mengancam salah satu dari lima kepentingan pokok di atas. Al-Syatibi menjelaskan bahwa kepentingan tahsiniyatini hanya berkaitan dengan kepatutan dan kepantasan menurut adat kebiasaan, keindahan yang sesuai dengan ketentuan akhlaq yang  berlaku dalam kehidupan. Dalam hal peribadahan, Islam menetapkan bersuci, berhias dan menggunakan parfum.

Bakri (1996) mengatakan bahwa ketiga tingkatan di atas tidak dapat dipisahkan Jadi, dalam perakteknya, ketiga tingkatan maslahat di atas merupakan satu kesatuan dan pemahaman serta penerapan ketiga maslahat di atas  tidaklah secara parsial


Dari segi segi maksud mukallaf, al-Syatibi dalam al-Muwafaqat Fi Ushul al-Syarî’ah(II/72-225) bahwa maqâshid  ditinjau dari segi maksud mukallaf terdapat empat hal penting yang harus diperhatikan, yakni:

  1. Pembebanan hukum (تـكـلــيـف) berpijak atas dasar kemampuan (قـد رة) untuk dilaksanakan oleh mukallaf. Sekiranya mukallaf tidak memiliki kemampuan maka secara syar’i, maka taklîftidak dapat diberlakukan kepada mukallaf.
  2. Pembebanan hukum (تـكـلــيـف) tidaklah bermaksud menyulitkan manusia (mukallaf), tetapi justeru akan melanggengkan kehidupan mereka di dunia dan di akherat. Banyak ayat-ayat al-Qur’an yang menyebutkan tentang ini, misalnya dalam Qs. al-Baqarah[2] ayat 286.
  3. Pembebanan hukum (تـكـلــيـف) bertujuan untuk menghindarkan mereka dari godaan dan dorongan hawa nafsu yang dapat merusak citra dirinya dan dengan adanya taklîf, maka mukallaf dapat menjadi hamba yang taat, sekalipun suatu ketika akan berhadapan dengan kesulitan dalam menjalankannya. Al-Syatibi menjelaskan bahwa manusia diciptakan hanya beribadah kepada Allah dan dilarang mempersekutukan-Nya. Dengan demikian, dapat dipahami bahwa pensyariatan hukum ditetapkan tujuannya untuk memasukkan manusia (mukallaf) ke dalam kontrol hukum atau di bawah naungan hukum agar dapat menjalani hidup dengan tertib dan taat kepada Allah.
  4. Pembebanan hukum (تـكـلــيـف) bertujuan agar manusia mengerti dan memahami taklîf yang dibebankan kepadanya. Dengan memiliki pengetahuan dan memahami taklîf, manusia akan menjadi cerdas dan beradab.

Dari keempat aspek yang telah dikemukakan di atas dapat dipahami bahwa Maqâshid al-Syarî’ah bila dilihat dari segi maksud mukallaf, adalah kepentingannya untuk mukallaf itu sendiri dan keempat aspek tersebut di atas haruslah dipahami dan diaplikasikan secara kumulatif bukan alternatif. Artinya, pensyari’atan dan pembebanan hukum kepada mukallaf bukan saja dilihat dari segi kesanggupan untuk melaksanakannya, tetapi juga sekaligus akan melanggengkan kehidupannya, menjadikan mukallaf sebagai orang yang taat dan sekaligus mereka berada di bawah kontrol hukum.  Dan tidak hanya itu, secara bersamaan juga agar mukallaf memiliki kecerdasan dan berilmu pengetahuan tentang taklîf yang akan dilaksanakannya.


Diterapkannya kaidah-kaidah syar’i dalam berbagai bidang kehidupan merupakan usaha untuk mendatangkan kemaslahatan bagi pihak-pihak yang terkait dalam bidang tersebut. Khususnya memberikan perlindungan bagi manusia atas agama, jiwa, akal, keturunan dan harta mereka. 


Sumber: 

Romli, M. 2007. Ushul Fiqh (Metodologi Penetapan Hukum Islam) Jilid 2. Palembang: IAIN Raden Fatah.

Muhammad Jamhuri. Maqashid al-Syarî’ah (مقاصد الشريعة)

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s