Fikratunaa

Hotumese!


Informasi dan teknologi berkembang sangat pesat. Kemajuan zaman memberikan banyak kemudahan bagi manusia sekaligus tantangan untuk dapat bertahan “hidup” dalam setiap persaingan “yang mematikan”. Sehingga, kata pak Richard Susilo (dalam artikel Bisnis Bunuh Diri) dewasa ini acap kali terdengar kalimat mengerikan di negara Jepang. “Hatarakute mo giri-giri na seikatsu. Imi ga arimasuka? Jika bekerja saja masih hidup apa adanya. Lalu buat apa hidup? 

Jepang merupakan negara juara dalam data statistik suicide penduduknya. Kepolisian Jepang (2012) menyebutkan bahwa  setiap harinya terdapat 76 “orang Jepang” yang melakukan bunuh diri! Penyebab utama dari hal tersebut adalah kegagalan dalam menghadapi persaingan. 25% “orang Jepang” melakukan bunuh diri karena dibekap rasa tanggungjawab atas keuangan, misalnya terbelit hutang besar. Empat orang direksi dilaporkan bunuh diri di Tokyo karena perusahaannya terbelit hutang besar. Bunuh diri mungkin bagian dari solusi paling tepat. Karena, setelah bunuh diri mereka akan mendapatkan asuransi. Dari situ mereka dapat membayar hutang perusahaan dan sisanya untuk keluarga mereka. Hutang dibayar dengan nyawa (Susilo, 2013).

Prof. Rhenald Kasali (JawaPos, 18 Maret 2013) membahas hutan “khusus” untuk bunuh diri di kaki Gunung Fuji bernama Aokigahara .

Tulang Manusia di Hutan Aokigahara“Hutan yang sepi di kaki gunung Fuji itu benar-benar gelap, sepanjang jalan di beberapa titik kami hanya menyaksikan pita-pita merah, tas ransel yang ditinggalkan pemiliknya, botol-botol sake kosong, kartu kredit, dan kaos kaki bekas. Benda-benda itu adalah peninggalan orang-orang yang putus asa dan memilih untuk mengakhiri hidupnya di sana. Menurut Laura Sesana, dulu setiap tahun hanya ada sekitar 20 orang yang melakukan bunuh diri di sini. Namun sejak tahun 1994, jumlahnya melonjak menjadi 57 orang, dan tahun 2004 angkanya double menjadi 108 orang. Sejak itu pemerintah Jepang tidak lagi mengumumkan berapa orang yang mengakhiri hidup di sana. ” tuturnya.

インドネシア (Indoneshia) 2030

McKinsey Global Institute dalam artikel berjudul The Archipelago Economy: Unleashing Indonesia’s Potential memperkirakan bahwa pada tahun 2030 Indonesia akan menjadi kekuatan ekonomi terbesar nomor 7 di dunia. Sebuah berita gembira dan tantangan di era pasar terbuka (ASEAN Economic Community; Pasar Bebas ASEAn akan dimulai akhir Desember 2015). Siap, tidak siap, Mau tidak mau, persaingan  di Indonesia akan semakin ketat. Perjuangan untuk “hidup” juga semakin tinggi. Seleksi alam pun semakin ketat. Optimisme itu wajib! Namun dibalik semua itu, (pada saat ini juga) kita berharap bahwa “semoga masyarakat Indonesia yang relijius ini, apapun agamanya, tetap yakin bahwa bunuh diri itu adalah dosa besar“.

Belajar dari Abu Yusuf menghadapi Kerasnya Hidup 

Imam Abu Yusuf al-Hanafiy merupakan salah satu teladan bagi setiap muslim dalam menghadapi kerasnya hidup. Kemiskinan, keterbasan, serta hidup tanpa seorang ayah tak pernah membuatnya minder bahkan putus asa. Dr. Abdullah Al-Luhaidan dan Dr. Abdullah Al-Muthathawwi’ menuturkan masa Abu Yusuf sebagai berikut:

“Imam Abu Yusuf melewati kehidupan masa kecil yang sangat keras. Beliau tumbuh sebagai seorang anak yatim yang miskin. Keluarganya tak memiliki apa-apa (tak ada warisan harta benda yang berarti dari ayahnya). Karena kondisi yang penuh kepahitan ini, akhirnya Abu Yusuf diminta oleh ibunya untuk turut bekerja di pasar. Meskipun saat itu Abu Yusuf masih sangat kecil dan belum mengerti apa-apa.”

Pada suatu hari, ibunda Abu Yusuf menitipkan putera semata wayangnya kepada seorang penjahit untuk bekerja menjadi pembantu (magang). Penjahit itupun sepakat, dan berjanji akan mengupah Abu Yusuf kecil atas setiap pekerjaan hariannya. Setiap berangkat ke tempat sang Penjahit, Abu Yusuf selalu melewati sekolah yang didirikan oleh Imam Abu Hanifah an-Nu’man bin Tsabit (salah satu imam madzhab fiqih). Abu Yusuf sangat tertarik dengan materi-materi yang disampaikan oleh Imam Abu Hanifah. Hal ini membuat Abu Yusuf selalu berhenti untuk menyimak hingga lupa bahwa dia harus pergi ke pasar untuk bekerja di kios penjahit.

Ibunda Abu Yusuf mengetahui peristiwa ini dan beliau sangat sangat marah. Imam Abu Yusuf bekata:

Aku sering berjalan melewati majelis Imam Abu Hanifah, dan kemudian berhenti untuk menyimak penjelasannya. Akan tetapi, Ibu selalu mengikutiku kemudian menarik tanganku untuk pergi meninggalkan majelis. Beliau ingin agar aku bekerja bersama penjahit. Namun, aku seringkali membantah Ibu -khusus dalam maslah ini- . Aku memilih untuk tetap pergi ke majelis Imam Abu Hanifah dan memperhatikan dengan seksama setiap ilmu yang beliau sampaikan. “

Geramlah  ibunda Abu Yusuf melihat betapa ‘keras kepalanya’ Abu Yusuf dalam menuntut ilmu. Karena memang tak ada biaya untuk menyekolahkan Abu Yusuf. Meskipun bekerja di pasar adalah pilihan terbaik bagi Abu Yusuf agar dapat bertahan hidup, namun, ibunda Abu Yusuf kesulitan untuik membendung tekad belajar puteranya. Beliau pun segera pergi ke tempat Imam Abu Hanifah untuk bertemu langsung dengan sang Imam seraya berkata:

“Sesungguhnya anak ini (Abu Yusuf) adalah seorang yatim. Dia tak memiliki apapun selain dari hasil tenunan yang aku berikan padanya. Maka dari itu, biarkanlah ia untuk bekerja agar mampu menafkahi dirinya sendiri”.

Imam Abu Hanifah menjawab: “Sesungguhnya aku telah melihat kecerdasan pada diri putramu. Engkau tidak pernah tahu bahwa suatu hari kelak ia akan memakan faludzaj yang dicampur dengan lemak kenari -yakni makanan para raja, yang  mahal harganya -“. Imam Abu Hanifah seolah ingin mengatakan kepada sang Ibu bahwa Abu Yusuf kelak akan menjadi orang besar, jika ia ikhlas dan tekun dalam menuntut ilmu.

Hati sang Ibu pun luluh dengan nasihat Imam Abu Hanifah. Beliau akhirnya mengizinkan Abu Yusuf untuk belajar di sekolah Imam Abu Hanifah. Semenjak peristiwa itu, Abu Yusuf menjadi lebih bersemangat dalam menuntut ilmu. Segala puji bagi Allah! selain diizinkan menuntut ilmu secara bebas, Abu Yusuf juga mendapat beasiswa dari Imam Abu Hanifah. Sebagaimana perkataan beliau:

“Pada hari pertama (setelah ibu mengizinkanku belajar), Imam Abu Hanifah tetap duduk bersamaku hingga semua orang pergi meninggalkan majelis. Kemudian beliau menyerahkan sebuah kantong yang berisi seratus dirham dan berkata ‘tetaplah belajar, jika uang ini habis maka beritahulah aku’. Beberapa hari kemudian, beliau menyerahkan lagi kepadaku uang sebanyak seratus dirham. Beliau juga terus bertanya dari waktu ke waktu terkait kebutuhansehari-hari ku. Beliau tak pernah meninggalkan ku dalam setiap kesulitan. Allah telah menganugerahkanku manfaat melalui beliau, baik ilmu maupun hartanya”

Abu Yusuf adalah siswa yang menonjol, baik masalah ilmu, hukum, hafalan maupun ijtihad. Beliau juga menekuni beragam cabang-cabang pengetahuan, diantara karyanya yang terkenal adalah buku panduan di bidang ekonomi yang berjudul “Kitabu-l-Kharaj” .

Kepandaian dari Abu Yusuf senantiasa mencerahkan penduduk Baghdad hingga, hingga tiba suatu masa yang mengabarkan tentang kebenaran firasat Imam Abu Hanifah bahwa kelak Abu Yusuf akan menjadi orang besar. Hal ini terjadi setelah khalifah Harun Ar-Rasyid mendengar dan merasakan sendiri manfaat dari luasnya pengetahuan Abu Yusuf. Khalifah pun mengangkat  Abu Yusuf sebagai qadhi (hakim negara) di wilayah kekhalifahan Abasiyyah. Imam Ibnu Abdil Barr berpendapat terkait pribadi Abu Yusuf:

“Aku tidak mengenal seorang qadhi (hakim) yang layak mengemban jabatan qadhi di seluruh ufuk, baik timur maupun barat pada zaman ini kecuali Abu Yusuf. Dialah orang yang pertama kali digelari Qadhi Qudhat (hakim agung/hakim dari para hakim)”.

Beliau juga menjadi tempat rujukan para ulama besar untuk menuntut ilmu. Salah satu muridnya yang terkenal adalah Imam Ahmad bin Hanbal (salah satu imam besar madzhab fiqih).

Abu Yusuf mengajarkan kepada setiap muslim agar selalu menjadikan pengetahuan dan keterampilan, sebagai bekal untuk meraih kehidupan yang lebih baik. Sungguh ini perkataan yang pernah diucapkan oleh Imam Syafi’i:

Man aradad-dun-ya fa’alaihi bi’l-’ilmi, wa man arada’l-akhirah fa’alaihi bi’l- ilmi,  wa man arada huma fa’alaihi bi’l-’ilmi” ~ “Barangsiapa menghendaki dunia, maka raihlah dunia tersebut dengan ilmu, barangsiapa menghendaki akhirat, maka raihlah akhirat itu dengan ilmu, dan barangsiapa menghendaki keduanya (dunia-akhirat) maka raihlah dengan ilmu“. (An-Nawawi dalam Majmu Syarh Al-Muhadzdzab, I/30)

Hotumese! Tetaplah tegar dalam setiap tantangan karena petunjuk-Nya akan selalu menyinari siapapun yang mau berusaha “hidup” untuk mencari keridhoaan-Nya (Qs. Al-Ankabut: 69).

__________________________________________________

  1. “Hotumese” artinya Berkembang dalam Tantangan. Semboyan masyarakat Ambon ini digunakan sebagai moto Universitas Pattimura, Maluku.
  2. Tulisan ini sebagai tajuk rencana majalah Bilyatimi (Januari 2014)
  3. Sumber Tulisan :
  • Data: Rhenald Kasali. Aokigahara – JawaPos, 18 Maret 2013  dan Richard Susilo. Sungguh  Mengerikan, di Jepang Bunuh Diri Pun Jadi Bisnis-Tribunnews, 7 April   2013.
  •  Kisah: Kutaib Aytam Walakin Udzoma’ karya Dr. Abdullah Al-Luhaidan dan Dr. Abdullah Al-Muthathawwi’

 

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s