Tazkiyatun Nafs

Aku dan Seorang Bapak Tua (2)


Betapa banyak orang-orang yang merasakan sakit, banyak pula yang musibahnya tidak sampai seperempat dari musibah bapak tadi. Ada yang lumpuh, ada yang kehilangan penglihatan dan pendengaran, ada juga yang kehilangan organ tubuhnya. Tapi bila dibandingkan dengan bapak ini, maka mereka tergolong ‘sehat’ (karena kondisinya lebih baik). sedangkan mereka mengeluh tanpa tiada henti dan menangis sejadi-jadinya. Mereka tidak sabar dalam menghadapi musibah dan sangat tipis keimanannya terhadap balasan dari Allah atas musibah yang menimpanya, padahal pahala tersebut sangatlah besar.

Aku merasa malu dengan diriku sendiri. Alam fikirku terus melayang-layang, hingga datang perkataam dari bapak tua tadi yang serta merta menyadarkanku kembali. Dia melanjutkan perkataannya:

Hmmm, bolehkah kusebutkan permintaanku sekarang? Maukah engkau mengabulkannya?”

“Iya, apakah gerangan yang dapat kubantu?” kataku.

_____________________         lanjutan kisah, Akhir Hayat Abu Qilabah      _____________________

Maka, ia menundukkan kepalanya sejenak. Nampak kesedihan yang mendalam tersirat dari raut mukanya.

Dan ia pun melanjutkan perkataannya: “Tidak ada lagi yang tersisa dari keluargaku melainkan seorang anak laki-laki berusia 14 tahun. Dia lah yang memberiku makan dan minum, mewudhukan ku, dan mengurus segala kebutuhanku. Sejak tadi malam ia keluar mencari makanan. Hingga waktu ini ia belum kembali. Aku sangat khawatir paanya dan tak tahu hal apakah gerangan yang telah terjadi padanya. Sebagaimana yang telah engakau ketahui, aku ini adalah orang tua yang lemah dan buta. Tak mungkin aku dapat menemukannya seorang diri”

Aku kemudian bertanya tentang ciri-ciri anak tersebut dan ia menjelaskannya.

Setelah itu, aku berjanji untuk mencari anak tersebut. Tak lama kemudian, aku pergi meninggalkan pak Tua tadi untuk mencari anak kecil tersebut (dalam keadaan bingung). Aku tak tahu bagaimana harus mencarinya dan dari arah mana aku memulainya. Namun ketika aku berjalan dan bertanya-tanya kepada penduduk sekitar tentang anak kecil tadi, akhirnya sampailah aku pada sebuah bukit yang tak jauh dar tenda lusuh pak tua.

Di atas bukit tersebut ada sekawanan burung gagak yang sedang mengerumuni sesuatu. Aku berkesimpulan bahwa tidaklah berkerumun sekumpulan burung gagak melainkan disitu ada bangkai atau sisa makanan. Aku pun mendaki bukit tersebut dan mendatangi kawanan gagak tadi sehingga mereka berhamburan pergi serta terbang menjauh.

Ketika aku telah sampai, nampaklah dihadapanku tubuh anak kecil dengan ciri-ciri yang sama sebagaimana dimaksud oleh pak tua tadi.

Anak kecil itu telah meninggal dunia dengan tubuh yang terpotong-potong. Sepertinya seekor serigala telah menerkam dan mengambil sebagian dari tubuhnya, sehingga kawanan burung gagak datang mengerumuni sisa jasadnya.

Aku terhanyut dalam kepiluan, karena tak mampu terbayang olehku bagaimana kelanjutan hidup pak tua (setelah ditinggal mati anaknya). Aku turun dari bukit dengan kesedihan yang teramat dalam.

(Aku bimbang) Apakah sebaiknya aku pergi meninggalkan pak tua tadi (dengan menyembunyikan berita duka) ataukah kudatangi dia dan ku kabarkan tentang kematian anak kecilnya? Hingga tiba-tiba terlintas di pikiranku tentang kisah Nabi Ayyub ‘alayhi-s-salam.

Akhirnya kuputuskan untuk menemui pak Tua tadi.

(Setelah sampai) Kuucapkan salam kepadanya.

Karena kerinduan yang dalam,  pak Tua mendahuluiku dengan bertanya: “Di mana anak kecil itu? (apakah engkau berhasil menemukannya?)”

Aku menjawabnya dengan pertanyaan: “Jawablah terlebih dahulu, siapakah yg lebih dicintai Allah: engkau atau Ayyub alayhi-s-salam?”

“Tentu Ayyub alayhi-s-salam lebih dicintai Allah” jawabnya.

“Lantas siapakah di antara kalian yg lebih berat ujiannya?” tanyaku kembali.

“Tentu Ayub alayhi-s-salam.” jawabnya.

“Maka dari itu, berharaplah engkau atas pahala dari Allah karena aku mendapati anakmu telah tewas di lereng gunung. Ia diterkam oleh serigala dan tubuhnya sudah tak utuh lagi.” jawabku.

Maka pak Tua pun tersengal-sengal seraya berkata:

Laa ilaaha illalLah…

Aku pun segera mendekat dan menghiburnya dengan kalimat kesabaran, namun nafasnya semakin tersengal-sengal, semakin keras, hingga aku pun mulai menalqinkan kalimat syahadat kepadanya. Akhirnya ia meninggal dunia di hadapanku.

Kututup jasadnya dengan selimut yang ada di bawahnya. Kemudian aku pergi untuk mencari orang yang bersedia membantuku mengurus jenazahnya.

Aku berhasil menemukan tiga orang pengendara unta, nampaknya meraka adalah para musafir. Akupun segera memanggilnya dan mereka datang menghampiriku.

“Maukah kalian menerima pahala yang Allah anugerahkan kepada kalian (hari ini)? Di sini ada seorang muslim yang wafat. Dia tak memiliki sanak atau keluarga untuk mengurus jenazahnya. Maukah kalian menolongku memandikan, mengafani dan menguburkannya?” pintaku

Setelah mereka menyetujuinya, kami pun masuk ke dalam tenda untuk memindahkan jasad pak Tua tadi.

Ketika mereka menyingkap selimut yang kututupkan di wajahnya, mereka terperanjat dan saling berteriak:

“Abu Qilabah! Abu Qilabah!”

Ternyata Abu Qilabah adalah salah satu ulama di daerah mereka. Seiring berjalannya waktu, ia mendapatkan diuji Allah dengan beragam musibah hingga ia pun memilih untuk pergi dari daerahnya dan tinggal di tenda lusuh.

Setelah kami selesai menunaikan kewajiban untuk mengurus jenazahnya, aku turut serta dengan tiga orang musafir tadi untuk kembali ke Madinah.

Malamnya aku bermimpi melihat Abu Qilabah dengan penampilan indah. Ia mengenakan gamis putih dengan badan yg sempurna. Ia sedang berjalan-jalan di tanah yang hija.

Aku pun bertanya :“Hai Abu Qilabah, apakah gerangan  yang menjadikanmu seperti kulihat saat ini? (berbeda dengan kondisi sebelumnya yang buta dan buntung)”

Dia menjawab: “Allah telah memasukkanku ke dalam surga-Nya, dan dikatakan kepadaku

سلام عليكم بما صبرتم فنعم عقبى الدار 

Salam selamat dan sejahtera untuk mu sebagai balasan atas kesabaranmu, maka alangkah indahnya (surga) tempat tinggal (untukmu) ~ Qs. Ar-Ra’du [13]: 24

_______________________________________________________

Kisah ini diriwayatkan oleh Imam Ibnu Hibban dalam kitab “Ats Tsiqaat” Jilid V halaman 2. Diterjemahkan oleh Abu Hudzaifah Al Atsary dari kitab “Aasyiqun fi Ghurfatil ‘amaliyyaat”, karya Syaikh Muhammad Al-‘Arify dalam http://basweidan.com. Diceritakan kembali dengan beberapa perubahan bahasa oleh saya sendiri :).

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s