Tazkiyatun Nafs

Aku dan Seorang Bapak Tua


Abu Ibrahim bercerita:

Pada suatu hari saat bepergian jauh, aku tersesat di padang pasir. (Lama aku mencari) Aku tak berhasil untuk mendapatkan arah untuk kembali pulang. Hingga, kutemukan tenda pemukiman yang lusuh dan telah pudar warnanya.

Kuperhatikan tenda tersebut. Nampak di dalamnya seorang yang berusia senja sedang duduk tanpa alas dan dalam kondisi yang tenang.

(Setelah kuamati lebih dekat) ternyata bapak tua tersebut tak memiliki tangan lagi (buntung) dan penglihatannya pun sudah tak berfungsi normal (buta). Tak ada seorang pun yang menemani serta merawatnya. Dia tinggal sendirian tanpa sanak-keluarga. Namun, aku takjub! Lamat-lamat kudengar bahwa dia sedang mengulang-ulang kalimat :

 الحَمْدُ لله الَّذِي فَضَّلَنِي عَلَى كَثِيْرٍ مِمَّنْ خَلَقَ تَفْضِيْلاً .. الحَمْدُ للهِ الَّذِي فَضَّلَنِي عَلَى كَثِيْرٍ مِمَّنْ خَلَق تَفْضِيْلاً ..

Alhamdulillahil-ladzi fadh-dholaniy ‘alaa katsiirin min-man kholaqo tafdhiilan… Alhamdulillahil-ladzi fadh-dholaniy ‘alaa katsiirin min-man kholaqo tafdhiilan…

Segala puji bagi Allah yang telah memberiku kelebihan (yang sangat banyak) dibandingkan dengan orang-orang lain… Segala puji bagi Allah yang telah memberiku kelebihan (yang sangat banyak) dibandingkan dengan orang-orang lain…

Bagaimana aku tak merasa takjub?

(Dia begitu tenang mengucap kalimat-kalimat pujian sementara) sebagian panca inderanya tak berfungsi, kedua tangannya buntung! Matanya pun buta! Dan dia tinggal sendirian tanpa sanak-keluarga. Kuperhatikan sekeliling tenda, kucari-cari seseorang di situ, barangkali anak ataupun istrinya (sedang mengerjakan sesuatu di tempat lain), tapi tetap saja tak kutemukan. (bapak tua itu benar-benar tinggal seorang diri).

Aku mencoba mendekat kepada untuk menyapanya. Bapak tua tersebut sepertinya merasakan kehadiranku.

Ia pun bertanya: “Siapakah engkau? Siapakah engkau?”

Assalaamu’alaykum… aku adalah musafir yang tersesat (di padang pasir) dan aku menemukan tenda tempat tinggalmu” jawabku. Kemudian aku pun ganti bertanya kepadanya:

“Bapak ini siapa?”

“Mengapa bapak tinggal seorang diri di tempat seperti ini?

“Di mana isteri, anak, dan kerabatmu?”

Dia menjawab: “Aku adalah seorang yang sakit. Semua orang meninggalkanku, dan sebagian besar keluargaku telah wafat.”

“Namun kudengar kau mengulang-ulang perkataan: “Segala puji bagi Allah yang telah memberiku kelebihan (yang sangat banyak) dibandingkan dengan orang-orang lain. “ Demi Allah, apa kelebihan yang diberikan-Nya kepadamu? sedangkan engkau ini adalah orang yang buta, faqir, buntung kedua tangannya, serta hidup sebatang kara?” sergahku (dengan penuh rasa penasaran).

“Baik, Aku akan menjelaskannya kepadamu, tapi berjanjilah kepadaku agar dirimu bersedia memenuhi permintaanku” jawabnya.

“Baik, silakan bapak jawab pertanyaanku tadi, maka akan ku kabulkan pemohonan bapak” kataku.

(Dengan tenang beliau berkata):  “engkau telah melihat sendiri betapa banyak cobaan yang telah Allah berikan kepadaku, akan tetapi Segala puji bagi Allah yang telah memberiku kelebihan (yang sangat banyak) dibandingkan dengan orang-orang lain.

Bukankah Allah (masih) memberiku akal sehat, yang dengannya aku bisa memahami dan berfikir?

“Engkau benarl” jawabku.

“Berapa banyak orang yang gila?” lanjutnya.

“Banyak” jawabku.

“Maka Segala puji bagi Allah yang telah memberiku kelebihan (yang sangat banyak) dibandingkan dengan orang-orang lain…” jawabnya.

“Bukankah Allah memberiku pendengaran, yang dengannya aku bisa mendengar adzan, memahami  ucapan, dan mengetahui apa yg terjadi di sekelilingku?” tanyanya.

“Iya, engkau benar”, jawabku.

“Maka Segala puji bagi Allah yang telah memberiku kelebihan (yang sangat banyak) dibandingkan dengan orang-orang lain…” jawabnya.

“Betapa banyak orang yang tuli tak mendengar…?” katanya.

“Banyak juga…” jawabku.

“Maka Segala puji bagi Allah yang telah memberiku kelebihan (yang sangat banyak) dibandingkan dengan orang-orang lain…” jawabnya.

“Bukankah Allah memberiku lisan yang dengannya aku bisa berdzikir dan menjelaskan keinginanku?” tanyanya.

“Iya benar” jawabku. “

Lantas berapa banyak orang yang bisu, mereka tidak bisa bicara?” tanyanya.

“Sangat banyak” jawabku.

“Maka Segala puji bagi Allah yang telah memberiku kelebihan (yang sangat banyak) dibandingkan dengan orang-orang lain…” jawabnya.

“Bukankah Allah telah menjadikanku seorang muslim yang menyembah-Nya, mengharap pahala dari-Nya, dan bersabar atas musibahku?” tanyanya.

“Iya benar” jawabku.

Kemudian dia melanjutkan, “padahal berapa banyak orang yang menyembah berhala, salib, serta yang lainnya dan mereka juga sakit? “Sungguh mereka telah merugi di dunia dan akhirat!”

“Iya, banyak sekali”, jawabku.

“Maka Segala puji bagi Allah yang telah memberiku kelebihan (yang sangat banyak) dibandingkan dengan orang-orang lain…” jawabnya.

Bapak tua itu terus menyebut kenikmatan Allah atas dirinya satu-persatu. Aku semakin terkesima dengannya. Imanya begitu kuat. Keyakinannya begitu mantab. Dia terlihat sangat sangat ridho atas apa yang ditaqdirkan Allah kepadanya.

(Aku pun terhanyut dalam tafakkur).

Betapa banyak orang-orang yang merasakan sakit, banyak pula yang musibahnya tidak sampai seperempat dari musibah bapak tadi. Ada yang lumpuh, ada yang kehilangan penglihatan dan pendengaran, ada juga yang kehilangan organ tubuhnya. Tapi bila dibandingkan dengan bapak ini, maka mereka tergolong ‘sehat’ (karena kondisinya lebih baik). sedangkan mereka mengeluh tanpa tiada henti dan menangis sejadi-jadinya. Mereka tidak sabar dalam menghadapi musibah dan sangat tipis keimanannya terhadap balasan dari Allah atas musibah yang menimpanya, padahal pahala tersebut sangatlah besar.

Aku merasa malu dengan diriku sendiri. Alam fikirku terus melayang-layang, hingga datang perkataam dari bapak tua tadi yang serta merta menyadarkanku kembali. Dia melanjutkan perkataannya:

Hmmm, bolehkah kusebutkan permintaanku sekarang? Maukah engkau mengabulkannya?”

“Iya, apakah gerangan yang dapat kubantu?” kataku.

       (bersambung)

_______________________________

Kisah ini diriwayatkan oleh Imam Ibnu Hibban dalam kitab “Ats Tsiqaat” Jilid V halaman 2. Diterjemahkan oleh Abu Hudzaifah Al Atsary dari kitab “Aasyiqun fi Ghurfatil ‘amaliyyaat”, karya Syaikh Muhammad Al-‘Arify dalam http://basweidan.com. Diceritakan kembali dengan beberapa perubahan bahasa oleh saya sendiri :).

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s