Fikratunaa

Memutus Rantai Setan


fhMasalah kemiskinan merupakan cerita lama permasalahan bangsa Indonesia. Meski tak berlaku untuk semua kasus, namun kemiskinan- penurunan tingkat pendikan-kesehatan- harapan hidup secara umum merupakan rantai setan yang tak pernah putus. Singkat kata, jika ingin meningkatkan kualitas hidup, maka tingkatkan kualitas pendidikan yang diperoleh ataupun pengetahuan dan ketrampilan pribadi.

Sejak 8 September 1964, United Nations Educational, Scientific, and Cultural Organization (UNESCO) menetapkan 8 September sebagai Hari Aksara Internasional. Penetapan tersebut dilakukan untuk mengingatkan dunia tentang pentingnya budaya literasi (kemampuan membaca dan menulis). Pada awal ditetapkannya decade pengentasan buta aksara (2003) terdapat 15, 41 juta orang di Indonesia yang buta aksara. Pada tahun 2010, jumlah tersebut menyusut menjadi 7,54 juta orang. Artinya jika Indonesia lebih cepat 5 tahun untuk mencapai target yang telah disepakati (2015).

Hal ini perlu disikapi positif dengan terus meningkatkan kualitas sumber daya manusia Indonesia, agar negara ini mampu bersaing dalam era globlaisasi seperti saat ini. Karena ketidakmampuan bersaing berarti mati.

IB579-Devils-Tail-316L-stainless-steel-skull-bracelet-mens-curb-chain-tribal-skeleton-jewelry-image-owned-by-tribalhollywood.comGlobalisasi dan kasarnya persaingan dalam mendapatkan kualitas hidup yang layak hendaknya tidak disikapi dengan kasar pula. Mungkin sebagian orang berkata,zaman sekarang, jujur berarti hancur atau “jika mencari yang haram saja susah, apalagi mencari yang halal. Namun, bagi seseorang yang sadar dan berakal sehat kata-kata tersebut tentu tidak ada dalam kamus hidupnya. Karena dia paham penggunaan segala cara, tanpa memperhatikan norma akan merusak segala system kehidupan, menukar persaudaraan dengan permusuhan, serta menghidupkan kekacauan dengan membunuh kentrentaman.

Adapun kunci utama untuk memenangkan persaingan dan memutus rantai setan ‘kemiskinan’ adalah ilmu pengetahuan.

Pengetahuanlah yang akan merubah manusia biadab menjadi beradab dan manusia hina menjadi sejahtera. Dan pengetahuan jualah yang akan mencerahkan segala pemikiran dari berbagai macam kegelapan.

Sejenak mungkin kita dapat berkaca dengan ‘saudara’ kita dari Ayahanda Ibrahim, Zionis-Yahudi yang kini –kita sadari atau tidak- menjadi salah satu bangsa terbaik di dunia. Mereka menjadi bangsa yang maju karena sangat memuliakan pengetahuan. Mereka berusaha keras untuk meraih pengetahuan, mengaplikasikan, mengembangkan, dan kemudian mewariskan kepada generasi penerusnya. Adapun diantara contoh kongkritnya adalah  :

  1. Satu dari 6 anak Yahudi, diajarkan tentang ilmu hitung (matematika) dengan konsep yang berkait langsung dengan perniagaan dan perdagangan.
  2. Fakultas Ekonomi dan Bisnis menjadi tempat belajar favorit. Adapun salah satu syarat kelulusannya adalah membentuk kelompok proyek usaha. Satu kelompok mahasiswa yang terdiri dari 10 orang harus menjalankan perusahaan. Mereka hanya dapat lulus setelah perusahaannya mendapat untung 1 juta US Dollar! Hal inilah yang ‘mungkin’ menjadi sebab bahwa lebih dari 50 % perdagangan di dunia dikuasai oleh bangsa Yahudi. Design “Levis” terakhir diciptakan oleh satu universitas di Israel, fakultas “business and fashion”.
  3. Terdapat pusat Yahudi di New York yang mengembangkan berbagai aktifitas perdaganan kelas dunia. Di sini terdapat banyak sekali kegiatan pembelajaran “yang mendalami segi-segi perniagaan sampai kepada aspek-aspek yang mempengaruhinya” seperti budaya pasar mereka. Kegiatan pendalaman tersebut yang nyaris laiknya laboratorium, “business research and development” yang dibiayai oleh para milyader Yahudi. Hasilnya: Starbuck, Dell Computer, Coca-Cola, Oracle,Levis, dan Dunkin Donat.

Maha Suci Allah, yang telah mengilhamkan kata-kata mulia kepada Imam asy-Syafi’i rahimahu’l-Lah. Sungguh, beliau telah berkata :

Man aradad-dun-ya fa’alaihi bi’l-‘ilmi, wa man arada’l-akhirah fa’alaihi bi’l- ilmi,  wa man arada huma fa’alaihi bi’l-‘ilmi

Barangsiapa menghendaki dunia, maka raihlah dunia tersebut dengan ilmu, barangsiapa menghendaki akhirat, maka raihlah akhirat itu dengan ilmu, dan barangsiapa menghendaki keduanya (dunia-akhirat) maka raihlah dengan ilmu.

(An-Nawawi dalam Majmu Syarh Al-Muhadzdzab, I/30)

_______________________________

Catatan ketika merayakan Hari Aksara bersama anak-anak yatim dan telantar

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s