Fikratunaa

Untuk apa sekolah, kalo gak bisa bikin pintar?


Beberapa pekan kemarin Tim Indonesia meraih prestasi gemilang dalam ajang Asia Physics Olympiad, APhO 2013 yang dilaksanakan di Bogor. Lima bulan sebelumnya tujuh siswa Indonesia berhasil meraih 3 medali emas, 3 medali perak, dan 1 medali perunggu di International Zhautykov Olympiad. Prestasi-prestasi yang luar biasa dan membanggakan. Hal ini sebenarnya tak jauh beda dengan tahun-tahun sebelumnya seperti pada  2007, 2008, 2009, 2010, dan 2012. Bahkan sejak 1995 telah muncul bibit-bibit prestatif putra bangsa di dunia sains. Namun, semua itu seakan menjadi ‘pemanis buatan’ di dunia pendidikan, ketika kantor berita BBC (British Broadcasting Corporation) merilis ‘Education Global League Tabel’ pada akhir 2012. Kontras. Pendidikan di Indonesia masih menempati klasifikasi bawah! Kalah jauh dari tetangganya Singapura yang menempati urutan ke-5 dalam Education Top 20. (baca: http://thelearningcurve.pearson.com/index/index-ranking)

Pendidikan di Indonesia seakan hanya milik segelintir orang saja. Mereka yang terlahir dengan potensi luar biasa dan berasal dari keluarga kaya, yang akan menjadi pelajar ‘idaman’ (dapat dilihat dari nama-nama dan asal sekolah para pelajar prestatif tadi, kebanyakan dari sekolah yang di kelola swasta dan berbiaya mahal). Adapun anak-anak yang miskin, seolah-olah‘dilarang’ menjadi orang berkualitas. Memang, orang miskin tetap diizinkan sekolah, namun sayangnya jika ditinjau dari data kuantitatif, terlihat bahwa peran dari ‘sistem pendidikan formal’ untuk mencetak generasi berkualitas masih sangat minim. Ambilah contoh rilis dari BBC di atas. Mereka merilis hasil penelitan dari firma Person tentang peringkat sistem pendidikan negara-negara di dunia. Peringkat tersebut diukur dari perpaduan hasil tes internasional dan data-data seperti tingkat kelulusan antara 2006-2010. Dan hasilnya, klasmen Indonesia berada dalam ‘zona degradasi’ (meminjam istilah dunia sepak bola; zona rawan bagi klub yang menduduki peringkat bawah klasmen sebuah liga sepak bola).

Memang secara individual banyak putra-putri bangsa yang prestatif, tapi secara system ‘keseluruhan’ realitas berkata bahwa peran dari sistem pendidikan formal (sekolah) di Indonesia masih belum signifikan! Sehingga kesimpulannya adalah pendidikan formal saja tidaklah cukup. Untuk menjadi pelajar yang prestatif, seorang siswa harus wira-wiri ikut bimbingan belajar dan mengasah otak mereka dengan ‘strategi dan formula’ dari masing-masing bimbingan belajar (bimbel) tersebut. Dan jika strategi yang diajarkan oleh salah satu bimbel dirasa kurang atau masih kalah, maka sudah pasti para pelajar tadi akan beralih ke bimbel lain yang dinilai lebih qualified.

Keberadaan bimbel memang patut diapresiaisi. Namun masalahnya adalah bimbingan belajar (bimbel) merupakan ‘bisnis pendidikan’ yang berorientasi pada laba dan peningkatan kekayaan pemilik bisnis. Konskuensinya, hanya orang-orang yang ‘berduit’ saja yang boleh masuk kelas bimbel. Bagi mereka yang tak mampu membayar biaya bimbingan tentunya tidak bisa mengikuti kelas ‘rumus canggih tersebut’. Jadi pertanyaannya, untuk apa orang-orang harus pergi bersekolah, jikapendidikan yang mereka terima di sekolah masih kurang? Apakah pendidikan formal hanyalah formalitas? Sebuah kelas berjenjang yang hanya digunakan sebagai syarat untuk memperoleh gelar ‘terdidik’, yang dengan gelar tersebut dapat digunakan untuk menjadi pegawai atau dengannya seseorang yang berkualitas ‘asal-asalan’ dapat duduk di lembaga-lembaga pemerintahan baik legislatif, ekskutif, maupun yudikatif. Di manakah letak keagungan ilmu dan manfaatnya? Dan bagaimanakah jadinya masa depan republik ini?

Hari Pendidikan Nasional 2013 yang mengambil tema “Meningkatkan Kualitas dan Akses Berkeadilan” merupakan momentum perubahan. Sudah saatnya setiap pihak untuk berkerja dan bersinergi dalam harmoni. Kualitas pendidikan adalah yang utama, namun akses berkeadilan harus ada bersamanya. Sudah saatnya semua orang dapat mengakses pendidikan berkualitas, bukan sekedar untuk ‘formalitas’ yang hanya menghasilkan gelar saja. LULUSAN SD, SMP, SMA, S1, S2, S3. Oleh karena itulah diperlukan sistem yang kuat serta dukungan finansial yang kuat pula. Negeri yang kaya raya ini harus memiliki tekad untuk menyisihkan hasil dari kekayaannya untuk investasi di dunia pendidikan. Para pemegang kebijakan juga harus melatih diri untuk lebih amanah dalam pengalokasian anggaran. Para cerdik cendika harus ikhlas mewakafkan waktunya untuk menciptakan sistem yang ideal. Para pendidik pun juga harus bersabar dalam memahami karakter anak asuhnya saat proses transfer ilmu dilaksanakan. Karena mendidik putra bangsa adalah jihad! 

Founding Fathers republik ini telah menegaskan bahwa salah satu misi INDONESIA adalah mencerdaskan kehidupan bangsa. “Kemudian daripada itu untuk membentuk suatu pemerintah negara Indonesia yang melindungi segenap bangsa Indonesia dan seluruh tumpah darah Indonesia dan untuk memajukan kesejahteraan umum, mencerdaskan kehidupan bangsa, dan ikut melaksanakan ketertiban dunia yang berdasarkan kemerdekaan, perdamaian abadi dan keadilan sosial, maka disusunlah kemerdekaan kebangsaan Indonesia itu dalam suatu Undang-Undang Dasar negara Indonesia, yang terbentuk dalam suatu susunan negara Republik Indonesia yang berkedaulatan rakyat dengan berdasar kepada : Ketuhanan Yang Maha Esa, kemanusiaan yang adil dan beradab, persatuan Indonesia, dan kerakyatan yang dipimpin oleh hikmat kebijaksanaan dalam permusyawaratan/perwakilan, serta dengan mewujudkan suatu keadilan sosial bagi seluruh rakyat Indonesia.” (Pembukaan UUD 1945).

Akhirnya, Ilmu memang tak selalu diperoleh di sekolah. Tetapi segala kemudahan akses dan kecukupan atas fasilitas seperti lembaga formal sekolah janganlah dikecilkan keberadaannya. Mari kita optimalkan keberadaan lembaga pendidikan formal untuk masa depan Indonesia yang lebih baik lagi. Semoga bukan hanya sebuah wacana normatif.

 “Kesejahteraan sebuah negeri bukanlah ditentukan oleh seberapa besar sumber daya alam yang mereka miliki, tapi ditentukan oleh seberapa berkualitas sumber daya manusia yang ada di dalamnya, dan itu yang utama”

[Paul Zane Piltzer, Ekonom Amerika Serikat dalam bukunya God wants You to be Rich].

Allahummainna nas-aluka ‘ilman naafi’an wa ‘amalan mutaqabbalan

Wallahu’alambishshawab

*HARDIKNAS bersama para Yatim dan Telantar, 29.05.2013

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s