Fikratunaa

Zuhud Menurut Imam Sufyan Ats-Tsauri


tafsir-sofyan-tsauriKeteladanan dari “si Yatim” Sufyan ats-Tsauri

Menjadi yatim bukanlah sebuah pilihan. Merupakan sebuah kewajaran bila diantara manusia merasa sedih akan hal tersebut. Akan tetapi, kesedihan-kesedihan tersebut hendaknya tidak berlarut-larut hingga dapat menjadi ‘hijab’ yang menutup potensi diri. Sesungguhnya Islam memuliakan anak yatim dan merekapun mendapat posisi yang istemewa di sisi Allah Subhanu wa Ta’ala, sebagaimana sabda Rasulullah Shalla’l-Lahu ‘alaihi wa Sallam: “Sesungguhnya anak yatim bila dipukul hingga menangis, maka Arsy Allah akan terguncang karena suara tangisannya” (Diriwayatkan Sa’id bin al-Musayyab dari ‘Umar bin Al-Khattab; Kitab Tanbihu’l-Ghafilin: 129)

Selain posisi spesial itu, sejarah juga telah menuliskan dengan tinta emas jejak para yatim yang berhasil menjadi teladan kaum muslimin dalam berbagai bidang, tak lain karena kekuatan iman, kesungguhan, dan kesabaran dalam meraih citanya. Diantaranya adalah Sufyan Ats- Tsauri, Ahlul Hadits yang kaya raya.

Nama lengkap beliau adalah Sufyan bin Said bin Masruq bin Rafi’ bin Abdillah bin Muhabah bin Abi Abdillah bin Manqad bin Nashr bin Al-Harits bin Tsa’labah bin Amir bin Mulkan bin Tsur bin Abdumanat Adda bin Thabikhah bin Ilyas. Beberapa riwayat menjelaskan bahwa beliau lahir di Kuffah, Iraq pada tahun 97 H, pada zaman Khalifah Sulaiman bin Abdul Malik. Ayahnya adalah seorang ahli hadits ternama, yaitu Said bin Masruq Ats-Tsauri. Beliau termasuk ke dalam generasi tabi’in.

Ayahnya meninggal dunia ketika ia belum baligh, tepatnya ketika beliau belum genap sembilan tahun. Sejak saat itu, sang ibu merawat, mengasuhnya, dan mengarahkan dirinya untuk belajar hadits di masjid.

Suatu hari, ibunya membuat tenunan, lalu menjualnya dengan harga sepuluh dirham. Kemudian ia memanggil Sufyan, “Putraku, ini ada uang sepuluh dirham. Pergi dan gunakanlah uang ini untuk belajar hadits di masjid. Kemudian, perhatikan, jika kamu melihat apa yang kamu pelajari memiliki pengaruh terhadap akal, hati, dan perbuatanmu, datanglah kemari lagi. Nanti akan Ibu beri uang sepuluh dirham lagi, untuk kamu gunakan menuntut ilmu. Namun, jika kamu tidak menemukan pengaruh tersebut, tinggalkan saja ilmu itu, karena ilmu tidak bersedia ikut kecuali dengan orang yang ikhlas, tulus, dan sungguh-sungguh.”

Beliaupun pergi ke majelis ilmu. Dari keikhlasan dan kekuatan tekadnya, beliau memperoleh pertolongan Allah untuk menjadi salah satu ulama yang mahir dalam ilmu hadits.

Syu’bah bin al-Hajjaj, Sufyan bin Uyainah dan Yahya bin Ma’in menjulukinya “Amiru’l-Mu’minin fi’l-Hadits”, gelar yang sama disandang oleh Malik bin Anas. Adapun Ibnu Al-Mubarak pernah berkata, “Aku telah menulis hadits dari 1100 guru, namun aku tidak tidak bisa menulis sebaik Ats-Tsauri.”

 

wwwtakkenalhenti.blogspot.comBeberapa Keteladanan

Telah diriwayatkan, bahwa Sufyan Ats-Tsauri  memiliki seorang murid bernama Ahmad yang memiliki seorang pengikut setia bernama Abdullah. Pada suatu ketika Ahmad memerintahkan Abdullah untuk belajar langsung kepada Sufyan Ats-Tsauri.

Singkat cerita, setelah Abdullah menyelesaikan tugas belajar, ia  memohon izin kepada Sufyan Ats-Tsauri  untuk kembali ke kampungnya. Sebelum Abdullah beranjak, Sufyan Ats-Tsauri menitipkan sebuah pesan kepada Abdullah untuk disampaikan kepada Ahmad -murid Ats-Tsauri sekaligus guru dari Abdullah-. Pesan itu berbunyi, “Sampaikan kepada gurumu, agar ia tidak cinta dunia.”

Mendengar pesan itu, Abdullah merasa bingung. Karena di matanya, Ahmad adalah seorang yang sangat sederhana, bahkan boleh dikata miskin. Sedangkan Sufyan Ats-Tsauri yang menyampaikan pesan adalah seorang kaya-raya. Kebunnya sangat luas dan juga memiliki hewan ternak yang cukup banyak jumlahnya.

Dalam kebingungan tersebut, Abdullah pulang ke tempat asalnya. Dan menyampaikan pesan dari Sufyan Ats-Tsauri kepada gurunya, Ahmad. Mendengar isi pesan itu, Ahmad merasa terharu berbalut sedih hingga meneteskan air mata. Sejenak kemudian ia berkata kepada muridnya, “Abdullah, memang dalam beberapa hari sebelum engkau berangkat, dalam shalatku, aku teringat akan sandalku dan khawatir akan hilang, sehingga dalam hatiku terdapat kecenderungan pada sesuatu itu.”

Ahmad dianggap cinta dunia karena memikirkan sandalnya di waktu shalat! karena harta paling berharga yang dimiliki Ahmad adalah sandalnya. Ketika ia menduakan Allah dengan sandal, maka dia dapat dianggap orang yang cinta dunia. Bagaimana dengan kita?

Subhanallah. Harta benda memang bukanlah ukuran kekayaan atau  kemiskinan. Karena ukurannya adalah hati. Adapun sikap terbaik dalam mengelola harta diukur dari seberapa jauh seseorang tersebut dapat bersifat zuhud atas harta yang ia miliki, seberapa besar dia memanfaatkan hartanya di jalan Allah, dan tentu karunia Allah tersebut tidak menjadikannya sombong.

Pada kisah lain, Sufyan Ats-Tsauri menyaksikan orang- orang hanya duduk-duduk saja di Masjidil Haram. Lalu ia menegur mereka. “Kenapa kalian hanya duduk- duduk saja?.” Orang- orang itu menjawab ” Apa yang bisa kami lakukan? Lalu Ats-Tsauri pun menjawab, “Carilah rezeki dari karunia Allah dan janganlah kalian menjadi beban Kaum Muslimin.”  

Semoga keteladanan dari Sufyan Ats-Tsauri Rahimahu’l-Lahu Ta’ala tadi menjadi penggugah jiwa dan pikiran kita untuk menjadi insan terbaik di hadapan-Nya.

____________________________________

Tulisan ini untuk rubrik “Yatim Super” Majalah Bilyatimi Edisi Bulan Juli 2013

 

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s