Our Civilzation

Tradisi Intelektual Islam


Oleh : Dr. Hamid Fahmy Zarkasyi[1]

Secara historis tradisi intelektual dalam Islam dimulai dari pemahaman (tafaqquh) terhadap al-Qur’an yang diwahyukan kepada Nabi Muhammad Shalla’l-Lahu’alaihi wa Sallam (dari awal hingga akhir periode Makkah dan pada periode Madinah). Hal tersebut menandai lahirnya pandangan hidup Islam. Al-Qur’an mengandung konsep-konsep seminal yang kemudian dipahami, ditafsirkan dan dikembangkan oleh para sahabat, tabiin, tabi’ at-tabiin dan para ulama setelahnya. Konsep ‘ilm(pengetahuan) yang dalam al-Qur’an bersifat umum, oleh karena itu para ulama berusaha untuk memahami dan menafsirkannya -sesuai kaidah yang diajarkan syariah- hingga memiliki berbagai definisi.[2] Cikal bakal konsep ilmu pengetahuan dalam Islam adalah beragam konsep kunci dalam wahyu yang ditafsirkan ke dalam berbagai bidang kehidupan dan akhirnya berakumulasi dalam bentuk peradaban yang kokoh. Dengan demikian dapat dikatakan bahwa Islam adalah suatu peradaban yang lahir dan tumbuh berdasarkan teks wahyu yang didukung oleh tradisi intelektual.

Tradisi intelektual dalam Islam memiliki medium tranformasi dalam bentuk institusi pendidikan yang disebut al-Suffah dan komunitas intelektualnya disebut Ashab al-Suffah.[3] Lembaga pendidikan pertama dalam Islam ini mengkaji kandungan wahyu dan hadits Nabi (Shalla’l-Lahu’alaihi wa Sallam) melalui proses belajar mengajar yang efektif.[4] Meski materinya masih sederhana, tapi terkandung muatan yang luas dan kompleks karena obyek kajiannya berpusat pada wahyu[5]. Sehingga tidak dapat disamakan dengan materi diskusi spekulatif di Ionia, yang menurut pendapat ilmuwan “Barat” merupakan tempat kelahiran tradisi intelektual Yunani, bahkan awal dari kebudayaan Barat (the cradle of western civilization). Ashab al-Suffah merupakan gambaran terbaik institusionalisasi kegiatan belajar-mengajar dalam Islam dan merupakan tonggak awal tradisi intelektual dalam Islam.[6] Ribuan hadits berhasil direkam dengan baik oleh anggota sekolah ini, dan menghasilkan para pakar hadits seperti Abu Hurayrah, Abu Dharr al-Ghiffari, Salman al-Farisi, ‘Abd Allah ibn Mas’ud dan lain-lain (Radhiya’l-Lahu’anhum jamii’an).

Kegiatan pengkajian wahyu dan hadits tersebut dilanjutkan oleh generasi berikutnya dalam format yang lain. Dan tidak lebih dari dua abad lamanya telah muncul ilmuwan-ilmuwan terkenal dalam berbagai bidang studi keagamaan, seperti Qadi Surayh (d.80/ 699), Muhammad ibn al-Hanafiyyah (d.81/700), Ma’bad al-Juhani (d.84/703), Umar ibn ‘Abd al-‘Aziz ( d.102/720) Wahb ibn Munabbih (d.110,114/719,723), Hasan al-Basri (d.110/728), Ghaylan al-Dimashqi (d.c.123/740), Ja’far al-Sadiq (d.148/765), Abu Hanifah (d.150/767), Malik ibn Anas (179/796), Abu Yusuf (d.182/799), al-Shafi’i  (204/819) dan lain-lain.

Kegiatan keilmuan sebagaimana telah di jelaskan, secara epistemologis muncul karena adanya pandangan hidup (worldview), yakni konsep-konsep canggih yang menjadi asas epistemologi untuk aktifitas keilmuan tersebut. Sehingga para ilmuwan dari anggota masyarakat yang terlibat dapat mengembangkan istilah-istilah teknis dan bahasa khusus untuk hal yang lebih bermanfaat bagi umum. Bahkan konsep tersebut berkembang menjadi struktur konsep keilmuan atauscientific conceptual scheme.[7] Dari konsep ini lah kemudian lahir berbagai disiplin ilmu pengetahuan seperti Ilmu Fiqih, Tafsir, Hadits, Falak, Hisab, Mawarits, Kalam, tasawwuf dan sebagainya.

Kemajuan tradisi intelektual dan ilmu pengetahuan dalam Islam dirasakan oleh masyarakat Eropa pada zaman Bani Umayyah di Andalusia Sepanyol. Oliver Leaman menggambarkan kondisi kehidupan intelektual disana sebagai berikut:

 ….pada masa peradaban agung di Andalusia, setiap orang Eropa yang ingin mengetahui sesuatu hal ilmiyah harus berkunjung ke Andalusia. Pada waktu itu, banyak sekali problem dalam literatur Latin yang masih belum terselesaikan, dan jika seseorang pergi ke Andalusia maka sekembalinya dari sana ia tiba-tiba mampu menyelesaikan masalah-masalah tersebut. Maka dari itu Islam di Spanyol memiliki reputasi selama ratusan tahun dan menduduki puncak tertinggi dalam pengetahuan filsafat, sains, teknik dan matematik. Kedudukannya mirip seperti posisi Amerika saat ini, dimana beberapa universtas terkemuka berada di situ.[8]

Pada Zaman kekhalifahan Bani Umayyah, Muslimin telah banyak mentransmisikan pemikiran Yunani. Karya Aristoteles, dan juga tiga buku terakhir Plotinus Eneads, beberapa karya Plato dan Neo-Platonis, serta karya-karya penting Hippocrates, juga Galen, Euclid, Ptolomeus dan lain-lain. Semua karya tersebut sudah berada di tangan Muslimin untuk proses asimilasi.[9]  Puncak kegiatan transmisi terjadi pada era kekhalifahan Abbasiyyah. Menurut Demitri Gutas proses transmisi (penterjemahan) di zaman Abbasiyah didorong oleh motif sosial,politik dan intelektual.[10] Ini berarti bahwa seluruh komponen masyarakat dari elit penguasa, pengusaha dan cendekiawan terlibat dalam proses ini, sehingga berpengaruh besar terhadap kultur masyarakat.

Para ilmuwan Muslim tidak hanya menterjemahkan karya-karya Yunani tersebut, mereka mengkaji teks-teks itu, memberi komentar, memodifikasi dan mengasimilasikannya dengan ajaran Islam.[11] . Proses asimilasi terjadi ketika peradaban Islam telah kokoh. Artinya ummat Islam mengadopsi pemikiran Yunani ketika peradaban Islam telah mencapai kematangannya dengan pandangan hidup yang kuat.  Pada saat itulah sains, filsafat dan kedoketeran Yunani diadopsi sehingga masuk kedalam lingkungan pandangan hidup Islam.[12] Produk dari proses ini adalah lahirnya pemikiran baru yang berbeda dari pemikiran Yunani dan bahkan boleh jadi asing bagi pemikiran Yunani. Sebagai contoh, bandingkankanlah konsep jawhar paramutakallimun dengan konsep atom Democritus.  Jadi, tidak benar, kesimpullan Alfred Gullimaune yang menyatakan bahwa framework, skop dan materi Filsafat Arab dapat ditelusuri dari bidang-bidang dimana Filsafat Yunani mendominasi sistie ummat Islam.[13] Pada dasarnya pemikiran Yunani tidak dominan, sebab jika demikian maka Muslim tidak mampu melakukan proses transmisi. Oleh karena itu, Ilmuwan Muslim lebih berani memodifikasi pemikiran Yunani daripada masyarakat Kristen Barat Abad Pertengahan. Muslim bahkan mampu mengharmonisasikan pemikiran tersebut dengan Islam sehingga akal dan wahyu dapat berjalan seiring sejalan dan pemikiran Yunani tidak lagi menampakkan wajah aslinya. Adapun masyarakat Kristen Barat Abad Pertengahan yang mengaku mengetahui karya-karya Yunani, ternyata tidak mampu mengharmoniskan filsafat, sains dengan agama. Kondisi inilah yang pada akhirnya mendorong para teolog Kristen menggunakan tangan pemikir Muslim untuk memahami khazanah pemikiran Yunani. Terpecahnya kalangan teologi Kristen kedalam aliran Averoesm dan Avicennian merpakan bukti bahwa Krsiten memahami Yunani melalui pandangan hidup Ilmuwan Muslim.

Jikalau benar asumsi dari para orientalis yang berkembang dewasa ini, bahwa pemikiran Muslim didominasi pemikiran Yunani, maka wajah peradaban Islam di Spanyol mestinya adalah wajah Yunani. Tapi realitanya, Spanyol adalah satu-satunya lingkungan kultural Muslim yang dominan, padahal kawasan itu merupakan tempat pertemuan kebudayaan Kristen, Islam dan Yahudi. Hal yang pasti dan menjadi karakteristik penting peradaban Islam -baik ketika di Andalusia maupun di Baghdad- adalah semaraknya kegiatan keilmuan. Oleh karena itu, dalam menggambarkan peradaban Islam Ibn Khaldun membahas secara detil tentang ilmu-ilmu yang berkembang dan dikembangkan oleh kedua pusat kebudayaan Islam tersebut, seperti misalnya ilmu bahasa dan agama, aritmatika, aljabar, ilmu hitung dagang (bussiness arithmetic), ilmu hukum waris (farai’d), geometri, mekanik, (metodologi) penelitian, optik, astronomi, dan logika. Termasuk juga ilmu fisika, kedokteran, pertanian, metafisika, ilmu nujum dan ramalan, ilmu kimia dan sebagainya.[14]

Namun, sebagaimana teori yang dijelaskan oleh Ibn Khaldun tersebut, pemikiran yang meningkat menjadi tradisi intelektual bukanlah satu-satunya faktor tumbuh dan berkembangnya suatu peradaban. Kemampuan berorganisasi dalam bentuk kekuatan politik dan militer serta kesanggupan berjuang untuk meningkatkan kehidupan merupakan faktor lain yang mendukung tumbuhnya pemikiran dan peradaban. Selain itu, Ibn Khaldun juga mensinyalir adan hubungan kausalitas antara peradaban dan sains. Artinya semakin besar volume urbanisasi (umran) semakin tumbuh pula peradaban dan sains, demikian pula sebaliknya. Ilmu akan berkembang hanya dalam peradaban (hadarah) menjadi besar yang penduduk perkotaannya meningkat.


[1] Bagian dari Materi Seri Kuliah Peradaban Institute for The Study of Islamic Thought and Civlization (INISISTS) Desember, 2006 (sedikit editing kata: Adistiar Prayoga).

[2] Rosenthal mencatat lebih dari seratus definisi ‘ilm dalam tradisi intelektual Islam, dan mengkategorikannya menjadi dua belas kategori, Rosenthal, F,Knowledge the Triumphant, Leiden, E.J.Brill, 1970, 52-69.

[3]  Khalifah melaporkan catatan orang lain  menyatakan bahwa Suffah didirikan antara 10, 17, atau 19 bulan sesudah Hijrah atau 2 tahun setelah Hijrah. Dalam Sahih Bukhari disebutkan pula bahwa ia didirikan 16 or 17 bulan setelah Hijrah. Lihat Khalifah ibn Khayyat  (d.240 A.H) al-Tarikh, dengan komentar oleh Akram Diya’ al-‘Umari (Najaf: al-Adab Press 1967, vol.1 / 321. Cf, al-Bukhari, Muhammad ibn Isma’il (d.256 A.H) al-Sahih, 9 Parts in 3 vols (Egypt: Muhammad Ali al-Subayh, n.d. see Kitab al-Salah Bab al-Tawajjuh Nahw al-Qiblah, 1/104.;   lihat juga al-Hujwiri, Kashf al-Mahjub, 81.

[4] Mengenai jumlah peserta dalam komunitas ilmuan dan materi yang dikaji, Lihat Abu Nuaym, Ahmad ibn ‘Abd Allah al-Asbahani (d.430 A.H.) Hilyat  al-Auliya’, 10 jilid, Mesir: al-Sa’adah Press, 1357, 1/339, 341.

[5]  Tujuan utama Ashab al-Quffah adalah belajar dan mengamalkan Islam, seperti shalat, membaca al-Qur’an, memahami ayat-ayat bersama-sama, berzikir serta belajar menulis. Alumni, sebut saja begitu, dari sekolah masyarakat (learning society)  ini juga menunjukkan kemampuan mereka dalam menghapal hadith-hadith Nabi. Lihat Abu Daud al-Sijistani, Sulayman ibn al-Asha’ath, (d.275 A.H)  al-Sunan,  2 vols. (Egypt, Mustafa al-Babi  al-Halabi, 1371) 2/237; and Ibn Majah, Muhammad Ibn Yazid (d.273), al-Sunan, dengan komentar dari Muhammad Fu’ad ‘Abd al-Baqi, (Cairo: Dar Ihya’ al-Kutub al-Arabiyyah, 1953,  2/70.

[6]  Abu Nu’aym mencatat bahwa Sa’Êd ibn ‘Ubadah sendiri biasa memberikan akomodasi kepada 80 orang di rumahnya untuk tujuan belajar mengajar. Ibid,1/341.

[7]  Alparslan Acikgence, Scientific Thought, 87

[8]  Oliver Leaman, “Scientif and Philosophical Enquiry: Achievement and Reaction in Muslim History”, dalam  Farhad Daftary (ed), Intellectual Traditions in Islam, I.B Tauris, London-New York in association with The Institute of Ismaili Studies, 2000, 34.

[9] Sharif, M.M., A History of Muslim Philosophy,  vol. II, Low Price Publication,  Delhi, 1995, p.1349.

[10] Demitri Gutas, Greek Thought, Arabic Culture, The Graeco-Arabic Translation Movement in Baghdad and Early Abbasid Society (2nd-4th/8th-10 centuries), Routledge, London-New York, 1998, hal.191.

[11] Leaman, Oliver, An Introduction to Medieval Islamic Philosophy, Cambridge University Press, Cambridge, 1985, p.6.

[12] Brown, Thomas, The Transformation of the Roman Mediterranean, 400-900, in George Holmes, The Oxford History of Medieval Europe, pp.50-51. He also noted that the  remarkable success and the strength of  Islam was  due mainly to their ability “to  evolve an original and durable synthesis”. They took over the more effective and appealing tenets of other faiths and retained viable elements of Graeco-Roman administration and urban culture while maintaining the distinctiveness and vitality of their own culture. See Ibid.,  p. 11.

[13] Alfred Gullimaune, “Philosophy and Theology” in The Legacy of Islam,Oxford University Press, 1948, p.239.

[14] Ibn Khaldun, Muqaddimah, hal. 343-400

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s