Fikratunaa

Cinta dan Kesengsaraan


Seorang penyair berkata:


Cintalah yang pertama kali dibutuhkanmanusia

Ia ada karena cinta dan taqdirlah yang menuntunnya

hingga ketika muda ia terjun ke dalam lembah cinta

banyak masalah yang muncul setelah usia dewasa 


Keindahan cinta dapat mendatangkan kesengsaraan. Hal ini dapat ditinjau dari beberapa sisi:

1.   Kesibukan cinta kepada makhluk dan kelalaian cinta kepada Allah.

Kecintaan yang berlebihan terhadap makhluk tidak dapat dihimpun dalam satu hati bersama kecintaan terhadap Allah. Salah satu harus mengalahkan yang lain, sehingga ada satu cinta yang paling dominan. Kesibukan manusia atas kecintaan terhadap selain Allah akan melalaikannya dari aturan-aturan Allah dan membuatnya semakin jauh dengan-Nya.

2.   Cinta membuat hati tersiksa

Siapa yang mencintai sesuatu selain Allah, maka Allah akan menyiksanya dengan cinta itu. Hal ini sebagaimana syair:


Di bumi tidak ada yang lebih sengsara dari pecinta.

selagi di sana selalu hadir hawa nafsu, tentu nikmat terasa 


Kau lihat dia mencucurkan air mata setiap waktu

karena dia takut dirundung rindu

dia menangis karena rindu saat berdekatan

dia juga menangis saat dekat dengan perpisahan


 matanya sembab ketika perpisahan benar-benar tiba

matanya pun sembab saat perjumpaan dengannya 


Cinta akan menyiksa pelakunya, dan siksaan yang paling berat adalah sikasaan di dalam hatinya.

3.   Hatinya menjadi tawanan orang lain dan membuat dirinya terhina

Kondisi orang yang sudah terbakar dengan api cinta adalah kosong tanpa kendali, ibarat orang yang ditawan dan dibelenggu. Ia tidak dapat merasakan apa-apa, bahkan luka dan sakit yang sedang menimpanya. Ibnul Qayyim berkata : 


Tampak di mata sebagai orang bebas, padahal ia tawanan

layaknya orang sakit yang disekelilingnya ada kematian


memang dia tampak hidup,

namun sebenarnya ia mati.


dia tidak memiliki apa-apa hingga ajalnya kembali

orang yang dirundung kesengsaraan telah hilang hatinya

dia tidak memilki apapun ketika kematian benar-benar tiba


4.   Cinta dapat merusak panca indera

Cinta yang berlebih-lebihan kepada makhluk dapat merusak panca indera atau sebagian diantaranya, baik yang bersifat spiritual ataupun material. Kerusakan spiritual seorang hamba mengikuti kerusakan hati manusia. Dan ketika hati rusak, maka rusak pula matanya, telinganya, dan lisannya. Dia pun melihat sesuatu yang buruk sebagai kebaikan. Hanya gara-gara orang yang dicintainya.Ibnul Qayyim mengutip dari Al-Musnad dengan Sanad Marfu’:

“Cintamu kepada sesuatu telah membuatmu buta dan tuli”

Cinta dapat membutakan mata hati. Seseorang yang telah jatuh cinta tidak akan dapat melihat keburukan orang yang dicintainya. Matanya tidak dapat melihat secara jelas. Telinganya-pun tidak dapat mendengar secara obyektif tentang orang yang dicintainya. Perasaan telah menutupi segala aib orang yang dicintainya, maka ketika suatu saat perasaan senang tersebut hilang, muncul-lah segala aib dari orang yang dulu dikasihinya. Hingga, perasaan benci dapat bertambah semakin dalam.

Seseorang akan dapat melihat kelemahan dan keburukan sesuatu, ketika mereka pernah masuk ke dalamnya. Oleh karena itulah para sahabat yang masuk Islam setelah kufur, menjadi lebih baik kehidupannya dari pada mereka yang dilahirkan secara Islam. Umar bin Khattab radhiya’l-Lahu’anhu berkata: “Tali Islam akan lepas satu per satu, ketika terdapat orang yang tidak mengenal kehidupan jahiliyah dilahirkan dalam Islam.”

Adapun kerusakan panca indera secara zahir pada sang Pecinta dapat membuat badannya sakit, lemah, dan tidak berdaya. Ibnul Qayyim mengatakan bahwa, ketika Ibnu Abbas berada di Arafah, ada seseorang pemuda yang mendatanginya dan berkeluh kesah. Kondisi fisik pemuda tersebut kurus kering, dan badannya tinggal dibungkus kulit.

 Ibnu Abbas bertanya kepada orang-orang di sekitarnya, “Ada apa pemuda ini?”

Mereka menjawab, “Gara-gara cinta.”

Maka pada hari itu, Ibnu Abbas memohon perlindungan kepada Allah atas kepedihan cinta kepada selain-Nya.

Ibnul Qayyim menambahkan bahwa cinta yang membara, tanpa diiringi kefahaman akan membuat seseorang dikuasai oleh orang yang dicintainya. Sehingga sang Kekasih selalu hadir di dalam hati, pikiran, ingatan, dan sanubari. Dalam kondisi yang seperti itu, dia tidak akan mampu mengoptimalkan kekuatan fisik dan mentalnya, dan akhirnya jiwa dan tubuhnya akan semakin melemah.

“Permulaan cinta adalah ringan dan manis. Pertengahannya adalah kekhawatiran, kesibukan hati, dan siksaan. Kesudahannya adalah kebinasaan dan kematian.”

 Begitulah yang akan terjadi ketika tidak memohon perlindungan kepada Allah.

5.   Kebinasaan lebih cepat menghampiri orang-orang yang mencitai berdasarkan rupa (wajah)

Ibnul Qayyim mengatakan bahwa cinta karena faktor fisik adalah yang paling banyak mengacaukan hati. Semakin hati mendekat kepada hal ini, maka hati tersebut semakin jauh dari Allah. Beliau memberi perumpamaan bahwa kebinasaan dunia-akhirat lebih cepat menghampiri mereka para pecinta fisik daripada api yang membakar ranting kering. Tidak sedikit pula pengalaman hidup telah mengajarkan bahwa kecintaan terhadap fisik berujung pada kemaksiatan dan kekufuran.

Beberapa bagian dari ummat ini lahir dan tumbuh di lingkungan muslim, kemudian beralih memeluk agama lain karena terjerat cinta. Ibnul Qayyim mengisahkan bahwa di negeri Mesir terdapat seorang lelaki yang aktif pegi ke masjid dan rajin mengumandangkan adzan. Pada dirinya terdapat tanda-tanda ketaatan dan cahaya ibadah. Suatu hari dia naik ke menara untuk mengumandangkan adzan. Tak jauh dari masjid tersebut, terdapat rumah seorang Nashrani yang memiliki anak gadis yang cantik lagi menawan. Pemuda tadi melihat gadis tersebut, dia terpesona dan jatuh hati. Dia-pun segera turun dari menara, mengurungkan niatnya untuk adzan, dan menemui gadis tersebut.

Ada apa dengan dirimu dan apakah yang engkau kehendaki?” tanya sang Gadis ketika melihat seorang pemuda ada di rumahnya dan berdiri di hadapannya.

Aku mencintaimu” jawab pemuda tersebut.

Mengapa begitu?” tanya sang Gadis.

Karena engkau telah menawan seluruh hati dan sanubariku” jawabnya

Sedikitpun aku tidak menyangsikan perkataanmu” sahut sang Gadis.

Kalau demikian, apakah berarti aku harus menikahimu?” tanyanya.

Engkau seorang Muslim dan aku Nashrani. Ayahku tentu tidak akan menikahkan aku denganmu” kata Gadis tersebut.

Apakah berarti aku harus masuk agama Nashrani?” tanyan pemuda itu lagi.

Jika engkau melakukannya, aku bersedia menikah denganmu” kata sang Gadis.

Maka seketika itu pula, pemuda Muadzin tadi menyatakan diri masuk agama Nashrani demi mendapatkan pujaan hatinya. Dia pun tinggal di rumah gadis tersebut bersama keluarganya. Masih pada hari yang sama, sang Pemuda memilki keperluan yang menyebabkannya harus naik ke atas rumah. Malang, dia terjatuh dan seketika itu pula ia meninggal dunia. Sebelum dia mendapatkan kebahagiaan bersama pujaan hatinya, dia harus kehilangan agamanya dan mati dalam kekufuran. Na’udzu-bi’l-Lah min dzalik


Maraji’: 

Al-Jawāb Al Kāfy Liman Saala anid-Dawā Asy-Syifā (Ad-Dā wad Dawā) oleh Ibnul Qayyim Al-Jauziyahrahimahu’l-Lahu Ta’ala

Edisi Indonesia oleh Kathur Suhardi dengan “Setiap Penyakit Ada Obatnya” , Penerbit Darul Falah, 2007.

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s