Fikratunaa

Cinta dan Anugerah


Ibnul Qayyim menceritakan bahwa ada seseorang yang berkata pada Yahya bin Mu’adz Ar-Raziy, Sesungguhnya anakmu mencintai Fulanah”. Beliapun (Ar-Raziy) menjawab, “Segala puji bagi Allah yang telah menjadikannya memiliki tabiat Bani Adam”.

Ibnul Qayyim memberikan kesimpulan atas beragam uraiannya bahwa cinta dapat membuahkan akhlak yang mulia. Beliau-pun menukil perkataan seorang ahli hikmah: “Cinta dapat melatih jiwa, membentuk akhlaq, menampakkanya merupakan naluri, dan menyembunyikannya merupakan beban tersendiri”.

Adapun yang lainnya berkata,

Siapa yang jiwanya tidak tergerak oleh suara yang merdu dan wajah yang elok, maka ada yang tidak beres dari jiwanya. Karena itu, dia membutuhkan penyembuhan”.

Diantara para pecinta, ada yang berusaha untuk menjaga kehormatannya dan berkata “Jagalah kesucian diri, niscaya kalian mendapatkan kemuliaan, dan jatuh cintalah niscaya kalian akan beruntung.”

Ketika dia ditanya, “Apa yang engkau lakukan, jika engkau berhasil mendapatkan hati orang yang engkau inginkan?” Dia menjawab: 


Aku bersanding dan kujaga kesucian karena kemuliaan

jika aku belum menjadi kekasihnya, aku takut takut kehinaan

bagaikan air di tangan orang yang sedang berpuasa

dia menjadi barang yang paling berharga

Ibnul Qayyim meriwayatkan bahwa Abu Ishaq bin Ibrahim berkata :

 “Jiwa orang-orang yang sedang jatuh cinta laksana tetes-tetes air yang lembut. Badan mereka menjadi ringan tanpa beban karena dibuai oleh kedekatan. Perkataan mereka dapat menghidupkan orang yang hatinya mati dan menambah ketajaman akal. Kalau bukan karena cinta dan nafsu, tentunya tidak ada kenikmatan di dunia”.

Seseorang pecinta yang beriman tentu tidak menghendaki agama dan kesucian dirinya rusak, serta hubungannya dengan Allah menjadi renggang. Inilah perasaan cinta yang dicontohkan oleh para salafu’sh-shalih yang mulia dan imam-imam agung. Ibnul Qayyim menjelaskan bahwa Ubaidillah bin Abdullah bin Utbah bin Mas’ud adalah salah satu fuqaha yang telah jatuh cinta dan tidak mengingkarinya. Dia menganggap bahwa orang yang mencelanya adalah orang yang zalim. Sebagaimana syairnya: 


Kusembunyikan cintaku padamu yang dianggap membahayakan

kau dicerca orang dan cercaan itu merupakan kezhaliman

orang-orang sebelum mereka menyebarkan isu yang menyakitkan

cintaku padamu telah menimbulkan isu yang lebih baik kusembunyikan


Aku laksana orang India yang mati karena kerugian

Karena rasa cinta mendalam kepada sang kekasih


kuhindari kebersamaan dengan kekasih karena dosa

Dosa pun menghindar dari kekasih yang tercinta

merasakan berjauhan dengannya yang dianggap kebaikan

padahal itu merupakan kedustaan dalam anggapan


Dalam kisah lainnya Ibnul Qayyim menceritakan bahwa pada suatu hari Abu Bakar al-Khatib didatangi oleh seorang gadis, yang melatunkan syair: 


Wahai Ibnu Daud, Wahai Fuqaha ‘Iraq yang ternama

Berilah kami fatwa tentang wanita yang mati karena mata

apakah dengan itu dia harus menanggung dosa

ataukah dia mendapat pahala karena cintanya?


Beliau pun menjawab dalam syair pula: 


Kepada mereka yang dilanda cinta, kuberikan jawaban.

Kuperdengarkan dari luka hati orang yang dirundung kerinduan.

Badanku juga menggigil kala kau tanya tentang cinta,                


Meski tidak sampai terurai, ia mengalirkan air mata

jika orang yang dicintai telah menyiksa orang yang mencintainya

maka yang menimpakan adzab (atas segala makhluk) lebih berhak untuk mendapatkan cinta


Tidak jauh berbeda dengan hal ini adalah fatwa yang disampaikan Syaikh Abdul Khattab Mahfudz bin Ahmad Al-Kaudzany al-Hanbilah. Beliau ditanya oleh seseorang :


Kepada Al-Imam Abu al-Khattab kusampaikan pertanyaan ini,

yang disampaikan kepadamu dan tak ada orang yang mengetahui,

bagaimanakah (kedudukan) orang yang hendak mendirikan shalat,

namun ketika itu di dalam hatinya melintas wajah cantik yang pernah dilihat


Maka beliau menjawab: 


Katakan kepadakan sastrawan yang telah menyampaikan pertanyaan

aku senang karena dia mengungkapan isi perasaan 


tentang gadis yang telah mengganggu ibadahnya.

tinggalkan dia, dengan segala keelokan wajahnya.


 jika dia bertaubat dan melupakannya untuk ibadah,

niscaya kedurhakaan terhapus dan dia mendapatkan rahmat Allah.


Ibnul Qayyim berkata, “Ketahuilah bahwa cinta yang diharuskan, yang paling tinggi dan yang agung ialah cinta yang membuat hati berada di atas cinta itu, yang tabiatnya dibuat untuk memujanya, dengannya langit dan bumi menjadi tegak, serta makhluk difitrahkan, dan ini merupakan rahasia syahadat Lā ilāha ilā’l-Lah. Hanya Allah yang berhak disembah hati dengan cinta, pengagungan, penyembahan, dan ketundukan”.

Adapun cinta kepada makhluk, hendaknya didasarkan atas rasa cinta kepada Allah. Hal ini dibuktikan dengan ketundukan sang Pecinta terhadap kaidah-kaidah yang telah ditentukan oleh sang Pencipta Cinta.


Allahumu inny as-aluka’asy-syauqo ilā liqo’-ika, wa a’udzubika min dzor-ro-a mudzirrotin wa fitnatin mudzillatin. Allahumma zayyannā bi zīnati’l-imān waja’alnā hūdatan muhtadīn 

“(Ya Allah) aku memohon kepada-Mu kerinduan bersua dengan-Mu. Aku berlindung dari kemalangan yang mendatangkan keburukan dan cobaan yang dapat menyesatkan, Ya Allah hiasilah kami dengan hiasan iman dan jadikanlah kami pemberi petunjuk kepada orang-orang yang mencari petunjuk


Maraji’:

Al-Jawāb Al Kāfy Liman Sa’ala ‘ani’d-Dawā’ Asy-Syifā’ (Ad-Dā’ wad Dawā’) oleh Ibnul Qayyim Al-Jauziyahrahimahu’l-Lahu Ta’ala

Edisi Indonesia oleh Kathur Suhardi dengan “Setiap Penyakit Ada Obatnya” , Penerbit Darul Falah, 2007.

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s