Economics

Islam, Kerja Keras, dan Profesionalisme


Oleh: Dr. Yusuf Al-Qaradhawi[1] 


Kita naik kereta api… Kita naik pesawat…

Akan tetapi bukan kereta api kita, dan bukan pula pesawat milik kita. Mereka (orang Barat) yang memproduksinya, kemudian mengekspornya kepada kita.

Benar!

Kita telah mampu membeli sebagian besar dari barang-barang mewah dunia untuk rumah-rumah kita dan diri kita sendiri. Saudara-saudara kita mampu membeli sebagian besar mobil mewah, seperti Rolls-Royce, Mercedez 500 atau 700 dengan type S, M, dan L. Dengan segala kemewahan yang ada di dalamnya. Kita memilikinya, namun kita tidak mampu membuatnya. (Bahkan) kita tidak mampu memproduksi bagian terkecil dari sekian banyak onderdil yang ada pada mobil tersebut. Orang lain yang memberikannya untuk kita.

(Hal ini yang menyebabkan) Pendapatan yang masuk ke dunia Arab, termasuk negara-negara pengekspor minyak tidak mampu menjangkau (pendapatan) negeri-negeri Eropa, seperti Spanyol. Ya Spanyol. (Lihatlah Spanyol) tinggalkan Jerman, Prancis, Inggris, atau Italia. Spanyol adalah negara yang berada di urutan terbawah dari negara-negara industri, akan tetapi pendapatan dunia Arab tak mampu menjangkauanya.

Mengapa bisa terjadi demikian?

Karena kita tidak pernah bekerja (keras). Dan jika kita bekerja, kita tidak pernah mengerjakannya secara professional.

Sebuah survey menyimpulkan bahwa orang Arab percaya menjadi pegawai negeri telah menyita sebagian besar waktunya, akan tetapi mereka hanya memiliki waktu sibuk rata-rata selama 27 menit tiap harinya.  Ya, 27 menit untuk istirahat, minum kopi, membaca Koran, dan melaksanakan tugas-tugas kecil dari suatu tempat ke tempat lainnya. Hanya sedikit dari orang (Arab) yang bekerja (keras) secara konsisten.

Pada pertengahan 1970, saya pergi ke Jerman. (Rombongan) kami tiba (di Jerman) pada pagi hari. (Kemudian) Saya bertanya kepada pemandu yang menjemput kami dari bandara untuk ke gedung pertemuan tempat kami harus menghadiri acara, (Ketika jemputan telah tiba dan kami sedang dalam perjalanan menuju gedung pertemuan) terlihat jalan-jalan sepi. Saya bertanya kepada penjemput tadi, “Mengapa jalan-jalan tidak padat sebagaimana yang terjadi di negara-negara Arab?” Dia menjawab, “Semua orang berada dalam pekerjaannya (dan mereka sangat sibuk)”. Setelah jam 7 malam, dia menjemputku untuk kembali ke hotel. Dan dalam perjalanan pulang, saya (kembali) menemukan kondisi jalanan yang sepi. Saya pun bertanya kepadanya, “Apa yang terjadi? Jalan-jalan kembali sepi (sebagaimana tadi pagi)”. Dia berkata, “Orang-orang telah kembali ke rumah mereka masing-masing dan mereka merasa letih. Pada saat itu, sebagian besar dari mereka memanfaatkan waktunya untuk makan malam, membaca berita, dan kemudian tidur karena mereka harus bangun lebih awal pada keesokan harinya untuk bekerja keras (kembali)”. (Lihatlah!) mereka lebih banyak beraktivitas, punya waktu yang teratur untuk bekerja, untuk keluarga, dan untuk (sekedar) makan pagi. Mereka bekerja secara konsisten.

(Bagaimana dengan kita?)Kita bangsa yang tidak (memiliki mental) bekerja keras.(Padahal kita paham bahwa) “Bagaimana mungkin bisa maju tanpa adanya kerja (keras)?” (Tidak itu saja,) ketika kita bekerja-pun, kita tidak mengerjakannya secara profesioal. Kita (selalu) memelihara perkataan ”TIDAK MASALAH, NANTI SAJA (MASIH ADA WAKTU)…NANTI SAJA”.

Islam mengajarkan kepada kita untuk bekerja secara professional.

Bekerja secara professional adalah kewajiban bagi setiap Muslim.

Rasulullah shalla’l-Lahu ‘alaihi wasallam berkata “Allah memerintahkan kepada kita agar senantiasa berbuat IHSAN dalam setiap hal…”. Adapun arti dari pada IHSAN itu sendiri adalah “unggul dan professional”. Jadi wajib bagi kita untuk unggul dan bertindak professional dalam setiap pekerjaan. Dia (shalla’l-Lahu ‘alaihi w sallam) berkata:

… ان الله كتب الا حسان على كل شيء، فإذا قتلتم فأحسنوا القتلة، وإذا ذبحتم فأحسنوا الذبحة

inna’l-Laha kataba’l-ihsāna ‛alā kulli syai-in, Fa-idza qataltum fa-ahsinuu’l-qitlata, Fa-idza dzabahtum, fa-ahsinuu’dz-Dzibhata…

Artinya: “Sesungguhnya Allah memerintahkan untuk berbuat Ihsan dalam setiap hal, maka ketika engkau berperang (membunuh), berbuat Ihsanlah dalam berperang (membunuh), dan ketika engkau menyembelih (binatang), maka berbuat ihsanlah dalam menyembelih (binatang)… ”[2]

(Lihatlah!) hingga dalam hal berperang (membunuh)pun Allah subhanahu wa ta’ala memerintahkan kepada kita untuk berbuat Ihsan (unggul namun tidak semena-mena)[3].

Celakanya! Kita tidak pernah unggul..

Baik itu dalam hal militer ataupun dalam hal perindustrian.

Kita (selalu) mengimpor segalanya.

Dari makanan, hingga persenjataan.

INILAH BANGSA KITA!

Kita masih belum memiliki perindustrian di negeri-negeri Arab yang mampu menghasilkan satu buah mesin. Kita mampu merangkai bagian-bagian dari suatu produk, namun belum memiliki industry manufaktur. (Lihatlah!) di India. (Mereka) telah memiliki industry untuk membuat sebuah mobil, bahkan sebuah pesawat.

Sedangkan kita…

Kita masih berputar-putar di tempat kita, layaknya seekor lembu yang bertugas menggerakkan alat penggiling gandum atau (seperti) kincir angin. Terus berputar-putar hingga sampai pada awal putaran tersebut dimulai.

Tidak cukup itu saja.

Bagaimana mungkin bisa terjadi atas kita?, Segerombolan Zionis dapat berkuasa dan mengendalikan kita, meskipun mereka hanya dalam jumlah yang kecil?

Hal yang telah membuat mereka berkuasa adalah keungggulan dari sisi pengetahuan. Mereka juga unggul atas kita dari sisi tekhnologi, dan kekuatan. Serta kerja (keras) mereka.

(Lihatlah!) Terdapat padang pasir (yang luas) di hadapan kita. Akan tetapi, kita tidak pernah berbuat apapun terhadapnya. (Seandainya saja) mereka (Zionis) mengambil alih padang pasir tersebut, mereka akan merubahnya menjadi sebuah Oase yang hijau.

(Demikianlah!) Jika bangsa kita tidak bekerja (keras),

Bagaimana mungkin (negara) kita dapat maju?

Bagaimana mungkin (negara) kita dapat berkembang?


[1] Terjemahan bebas dari Ringkasan Ceramah Jumat di Qatar TV pada 15 April 2005 (Memri TV Production, http://www.memritv.org).

[2] (HR. Ahmad -dalam Musnadnya-, Muslim, serta Abu Dawud, Nasa’i, Turmidzi, dan Ibnu Majah. Hadist şahih menurut As-Suyuthi dalam Al-Jāmi’u’şŞaghīr, I/1761).

[3] Qs. Al-Baqarah [2]:290 : Artinya : “Dan perangilah di jalan Allah orang-orang yang memerangi kamu, (tetapi) janganlah kamu melampui batas, karena sesungguhnya Allah tidak menyukai orang-orang yang melampui batas”.

Hadits Riwayat Muslim 1731. Artinya: Dahulu, jika Rasulullah  shalla-llahu’alayhi wa sallam  mengutus pasukannya, selalu berwasiat kepada mereka untuk bertakwa dan beliau berkata: “Berjalanlah dengan menyebut nama Allah dan di jalan Allah, perangilah orang-orang yang kafir kepada Allah. Janganlah mecincang (mayat) dan janganlah berbuat curang serta jangan membunuh anak kecil”.

_________

Qs. Al-Maidah [5]: 8. Artinya : “Hai orang-orang yang beriman, hendaklah kamu jadi orang-orang yang selalu menegakkan (kebenaran) karena Allah, menjadi saksi dengan adil. Dan janganlah sekali-kali kebencianmu terhadap suatu kaum, medorong kamu untuk berlaku tidak adil. Berlaku adillah, karena adil itu lebih dekat kepada takwa. Dan bertakwalah kepada Allah, sesungguhnya Allah Maha Mengetahui apa yang kamu kerjakan” .

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s