Fikratunaa

Selamat ‘Hari’ Ibu


22/12/2009, 3 tahun silam, seorang kawan bertanya: “Bro, kenapa kawan-kawan merayakan hari ibu?” Bukankah itu bukan bagian dari Islam?

Saya : “Siapa yang merayakan hari Ibu?”

Beliau: “Saya melihat kawan-kawan muslimah berkunjung ke ruang dosen, sambil membagi-bagikan bunga dan artikel” Hari ini, 22 Desember, Orang Indonesia menyebutnya dengan HARI IBU? Bukankah itu milik kaum Feminis?

Saya : “Bro, Ini beda. Qt gak pernah ngreyain “Mother’s Day” atau “International Women’s Day”. Qt hanya mengambil “Momentum” 22 Desember. Bukan “tasyabuh” atau ikut-ikutan. Qt hanya ingin mengapresiasi Ibu-Ibu kita. Qt hanya ingin orang lain paham bahwa Islam sangat memuliakan perempuan, dan menjunjung tinggi harkatnya. Mereka sama, meskipun berbeda. He..He..

Terlepas dari kontroversi ‘konvensional’. Antara niat dan tindakan. Antara nilai dan amal. Yang jelas, syariah telah memberikan tempat terhormat bagi seorang Ibu. Abu Hurairah radhiya’l-Lahu ‘anhu, berkata,

“Seseorang datang kepada Shalla’l-Lahu ‘alayhi wa Sallam. dan berkata, ‘Wahai Rasulullah, kepada siapakah aku harus berbakti pertama kali?’ Nabi Shalla’l-Lahu ‘alayhi wa Sallam menjawab, ‘Ibumu!’ Dan orang tersebut kembali bertanya, ‘Kemudian siapa lagi?’ Nabi shalallaahu ‘alaihi wasallam menjawab, ‘Ibumu!’ Orang tersebut bertanya kembali, ‘Kemudian siapa lagi?’ Beliau menjawab, ‘Ibumu’ Orang tersebut bertanya kembali, ‘Kemudian siapa lagi,’ Nabi Shalla’l-Lahu ‘alayhi wa Sallam, ‘Kemudian ayahmu.’” (HR. Imam Muslim no. 2548)

Imam Adz-Dzahabi rahimahu’l-Lahu Ta’ala menuliskan kata-kata indah dalam Al-Kabaair terkait hadits tersebut. Beliau (Imam Adz-Dzabi)  berkata:

Ibumu telah mengandungmu di dalam perutnya selama sembilan bulan, seolah-olah sembilan tahun.  Dia bersusah payah ketika melahirkanmu yang hampir saja menghilangkan nyawanya. Dia telah menyusuimu dari putingnya, dan ia hilangkan rasa kantuknya karena menjagamu.  Dia cuci kotoranmu dengan tangan kirinya, dia lebih utamakan dirimu dari pada dirinya serta makanannya. Dia jadikan pangkuannya sebagai ayunan bagimu. Dia telah memberikanmu semua kebaikan dan apabila kamu sakit atau mengeluh tampak darinya kesusahan yang luar biasa dan panjang sekali kesedihannya dan dia keluarkan harta untuk membayar ahli yang mampu mengobatimu.

Seandainya dipilih antara hidupmu dan kematiannya, maka dia akan meminta supaya kamu hidup dengan suaranya yang paling keras.  Betapa banyak kebaikannya, sedangkan engkau balas dengan akhlak yang tidak baik.

Dia selalu mendoakanmu dengan taufik, baik secara sembunyi maupun terang-terangan.Tatkala ibumu membutuhkanmu di saat dia sudah tua renta, engkau jadikan dia sebagai barang yang tidak berharga di sisimu.

Engkau kenyang meskipun dia lapar. Engkau puas minum meskipun dia kehausan.  Engkau mendahulukan berbuat baik kepada istri dan anakmu dari pada ibumu.  (Tapi) Engkau lupakan semua kebaikan yang pernah dia perbuat.  Berat rasanya atasmu memeliharanya padahal itu adalah urusan yang mudah.

 Engkau kira ibumu ada di sisimu umurnya panjang padahal umurnya pendek. Engkau tinggalkan padahal dia tidak punya penolong selainmu. Padahal Allah telah melarangmu berkata ‘ah’ dan Allah telah mencelamu dengan celaan yang lembut.  Engkau akan disiksa di dunia dengan durhakanya anak-anakmu kepadamu. Allah akan membalas di akhirat dengan dijauhkan dari Allah Rabbul ‘aalamin. (Akan dikatakan kepadamu),

ذَلِكَ بِمَا قَدَّمَتْ يَدَاكَ وَأَنَّ اللَّهَ لَيْسَ بِظَلَّامٍ لِّلْعَبِيدِ

“Yang demikian itu, adalah disebabkan perbuatan yang dikerjakan oleh kedua tangan kamu dahulu dan sesungguhnya Allah sekali-kali bukanlah penganiaya hamba-hamba-Nya”. (QS. Al-Hajj : 10)

(terjemahan Hilda Ummu Izzah dalam muslimah.or.id)

Tiada terukur ‘pengabdian’ yang telah diberikan oleh seorang Ibu kepada anaknya. Tak kan pernah terbalas meski ditukar dengan sejagad tumpukan emas.

Hemat kami, “Hari Ibu 22 Desember” ini bukan serimonial tahunan, ataupun momen untuk bermelankolis ria di dunia maya. Bukan sekedar peringatan, tapi sebuah kesempatan. Penggugah nurani untuk senantiasa mengabdi sekuat dan semampu kita untuk sedikit berterima kasih atas jasanya yang tiada tara. Yah, silakan ditafsir. Mungkin sama, Mungkin pula beda. Yang beda tidak usah disama-samakan yang sama tidak usah dibedaka-bedakan. Over all  Syukran katsier ‘alaa ihtimamika, nashaih al manafi’ minka.  Peace 🙂

“wahai Tuhanku, bimbinglah aku untuk senantiasa  mensyukuri ni’mat Engkau yang telah Engkau berikan kepadaku dan kepada ibu bapakku dan supaya aku dapat berbuat amal yang saleh yang Engkau ridhai. Anugerahkan kebaikan kepadaku dengan (memberi kebaikan) kepada anak cucuku. Sesungguhnya aku bertaubat kepada Engkau dan sesungguhnya aku termasuk orang-orang yang berserah diri.” (Qs. Al-Ahqaf : 15)

Wallahua’lam

*Baru sadar, pernah jadi pengurus ukmki  😐


Catatatan surfing:

Mother’s Day (Hari Ibu) dirayakan di sebagian negara Eropa. Perayaan ini muncul karena pengaruh kebudayaan Yunani Kuno dan bagian dari pemujaan Rhea, Istri Kronos. Pada masa lalu Mother’s Day dirayakan setiap bulan Maret, namun dalam perkembangannya jatuh pada pekan ke-2 bulan Mei. Hal ini dilakukan untuk mengenang seorang aktivis social bernama Julia Ward Howe  yang pada hari itu di tahun 1870 mencanangkan pentingnya perempuan bersatu melawan perang saudara. Even semacam ini diperingati di Amerika Serikat dan lebih dari 75 negara lain, seperti Australia, Kanada, Jerman, Italia, Jepang, Belanda, Malaysia, Singapura, Taiwan, dan Hongkong.

Di beberapa negara Eropa dan Timur Tengah juga dikenal dengan istilah International Women’s Day diperingati setiap tanggal 8 Maret. Gagasan tentang perayaan ini pertama kali dikemukakan pada saat memasuki abad ke-20 di tengah-tengah gelombang industrialisasi dan ekspansi ekonomi yang menyebabkan timbulnya protes-protes mengenai kondisi kerja. Kaum perempuan dari pabrik pakaian dan tekstil mengadakan protes pada 8 Maret 1857 di New York City. Para buruh garmen memprotes apa yang mereka rasakan sebagai kondisi kerja yang sangat buruk dan tingkat gaji yang rendah. Para pengunjuk rasa diserang dan dibubarkan oleh polisi. Kaum perempuan ini membentuk serikat buruh mereka pada bulan yang sama dua tahun kemudian.

Di Barat, Hari Perempuan Internasional dirayakan pada tahun sekitar tahun 1910-an dan 1920-an, tetapi kemudian menghilang. Perayaan ini dihidupkan kembali dengan bangkitnya feminisme pada tahun 1960-an. Pada tahun 1975, PBB mulai mensponsori Hari Perempuan Internasional.

Bagaimana dengan 22 Desember?

Presiden Soekarno menetapkan melalui Dekrit Presiden No. 316 tahun 1959 bahwa tanggal 22 Desember adalah Hari Ibu dan dirayakan secara nasional hingga kini. Tanggal tersebut didasarkan atas Kongres Perempuan Indonesia I yang dilaksanakan pada tanggal 22-25 Desember 1928 di Yogyakarta, di gedung Dalem Jayadipuran (sekarang berfungsi sebagai kantor Balai Pelestarian Sejarah dan Nilai Tradisional dan beralamatkan di Jl. Brigjen Katamso). Kongres dihadiri sekitar 30 organisasi perempuan dari 12 kota di Jawa dan Sumatera.

Hasil dari kongres tersebut salah satunya adalah membentuk Kongres Perempuan yang kini dikenal sebagai Kongres Wanita Indonesia (Kowani). Berbagai isu yang saat itu dipikirkan untuk digarap adalah persatuan perempuan Nusantara, pelibatan perempuan dalam perjuangan melawan kemerdekaan, pelibatan perempuan dalam berbagai aspek pembangunan bangsa, perdagangan anak-anak dan kaum perempuan, perbaikan gizi dan kesehatan bagi ibu dan balita, pernikahan usia dini bagi perempuan, dan sebagainya. Tanpa diwarnai gembar-gembor kesetaraan gender, para pejuang perempuan itu melakukan pemikiran kritis dan aneka upaya yang amat penting bagi kemajuan bangsa. 


Referensi [WIKIPEDIA]

  1. ^ Xinhua from China Daily (2006-05-16). “It’s Mother’s Day”. SCUEC online.
  2. ^ “Principales efemérides. Mes Mayo”Unión de Periodistas de Cuba. Diakses pada 7 Juni 2008.
  3. ^ “Calendario Cívico Escolar”. Dirección Regional de Educación de Lima Metropolitana. Diakses pada 7 Juni 2008.
  4. “Haiti: Main Holidays”. discoverhaiti.com. Diakses pada 8 Juli 2008.
  5. “6310.- Fêtes et Jours Fériés en Haiti” (dalam bahasa Perancis). Diakses pada 8 Juli 2008. (Perancis)
  6. ^ “Ahmadinejad highlights women’s significant role in society”. Presidency of The Islamic Republic of Iran News Service. 24 Juni 2008. Diakses pada 19 Juli 2008. “(…) the occasion of the Mother’s Day marking the birthday anniversary of Hazrat Fatemeh Zahra (SA), the beloved daughter of Prophet Mohammad. The day fell on June 23 [2008].”
  7. ^ http://www.javanologi.info/main/index.php?page=agenda&id=102
  8. ^ Susan Blackburn. Kongres Perempuan Pertama. 2007. Jakarta. Penerbit: Yayasan Obor Indonesia & KITLV
Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s