Our Civilzation

Diskursus


Diskursus Peradaban Barat[1]

 “Tuhan yang tua itu mati” (Nietzsche dalam The Gay Science)

Pada suatu hari David Thomas[2], ditanya oleh seorang mahasiswanya yang beragama Islam? “Are you happy with the western civilization?”. Dia pun menjawab dengan tegas, “No, not at all”. Kenapa demikian? Dia menambahkan bahwa sesungguhnya orang Barat maju dan berkembang bukan karena Kristen. Bos Pabrik Coklat Cadbury contohnya, orang tersebut telah menyumbangkan dana jutaan Poundsterling untuk membngun Perpustakaan Selly Oak College, tapi ia menyumbang karena merasa kaya dan memiliki dana social yang berlebihan. Bukan karena ia adalah seorang Kristen.

Jawaban Thomas tersebut mengungkapkan bahwa sejarah Barat bukanlah Kristen. Hal ini sebagaimana diungkapkan oleh banyak sejarawan Barat seperti Onians R.B., Arthur W.H.A, Jones W.T.C., atau William Mc Neil. Mereka secara umum menganggap “Ionia is the cradle of Western Civilzation”. Peradaban Barat dari Ionia[3] bukan Kristen. Bahkan, Kristen telah “ter-Baratkan”. Penjelasan dari Thoms tadi seakan-akan menyatakan bahwa Barat tidaklah lahir dari pandangan hidup (way of life) atas iman Kristen.

Sosok Barat mulai Nampak ketika marah dan melakukan protes atas otoritas gereja. Agama dipaksa duduk manis di ruang gereja dan tidak boleh turut campur dalam ruang public. Diskursus teologi hanya boleh dilakukan dengan bisik-bisik, sementara disisi lain orang-orang boleh berteriak keras menyatakan anti-agama. Hegemoni digantikan dengan hegemoni, dan ujungnya, Barat adalah alam pikiran dan pandangan hidup.

Teriakan Nietzsche “God is dead” masih terdengar lantang hingga kini. Dalam The Gay Science ia mengatakan, “Ketika kami mendengar ‘Tuhan yang tua itu mati’, kami para filosof dan ‘jiwa-jiwa yang bebas’ merasa seakan-akan fajar telah menyingsing menyinari kita”. Kematian Tuhan di Barat ditandai oleh penutupan diskursus metafisika tempat teologi bersemayam. Tuhan bukan lagi Supreme being. Tidak ada lagi yangabsolute. Semua relative. Kalau anda mengklaim sesuatu itu benar, maka orang lain berhak mengklaim bahwa itu salah.Tuhan tidak bisa diwakili. Dia telah mati, dan sekali lagi Barat adalah alam pikiran dan pandangan hidup.

Mengapa Tuhan perlu dibunuh? Jika Marx menganggap agama sebagai candu masyarakat, maka Nietzsche mengatakan bahwa Tuhan merupakan tirani jiwa (Tyrant of the Soul). Karena keimanan kepada-Nya merupakan bentuk ketaatan dan kesanggupan menerima perintah dan larangan, serta peraturan yang mengikat. Beriman pada Tuhan berarti tidak bebas, sehingga bebas berarti tanpa iman. Barat adalah alam pikiran dan pandangan hidup.

Sejarah Barat adalah sejarah pencarian “kebenaran” yang prosesnya lebih penting dari kebenaran itu sendiri. Mencari untuk mencari, ilmu untuk ilmu, dan seni untuk seni. Setelah “membunuh Tuhan”, Barat mengangkat tuhan baru bernama Longocentrism atau rasionalisme. Tidak puas dengan tuhan baru tersebut, mereka kemudian mengangkat tuhan lagi yang bernamaLiberalism. Namun, kini Liberalisme ibarat moncong senapan yang diarahkan kepada “musuh-musuhnya”. Beragam pandangan lain yang “tidak setuju” harus keluar atau berhadapan. You are with us or against us

Liberalisme membawa gagasan kepelbagaian (multiplicities), kesamarataan (equal representation), dan keraguan yang menyeluruh (total doubt). Barat saat ini adalah sebuah sosok tanpa wajah, atau sebagaimana pernyataan Ziaddin Sardar “Wajah tanpa kebenaran (no truth), tanpa realitas (no reality), tanpa makna (no meaning)”. Three is no comfort in the truth.Setting alam pikiran Barat ini dihukmi Francis Fukuyama sebagai akhir dari sejarah (The End of History).

Diskursus tentang God-Man dan God-World Relation di abad pertengahan, kini sudah tidak relevan. Humanisme telah mendominasi dan menyingkirkan theism. Akibatnya teologi tanpa metafisika, agama tanpa spiritualitas, atau bahkan religion without God. Teologi (theos dan logos) secara etimologis tidak lagi memiliki akar ketuhanan. Istilahnya berkembang menjadi teologi pembebasan, teologi emansipasi, teologi menstruasi, dsb. Semuanya itu tidak lagi berurusan dengan tuhan. Agama bagi postmodernisme tidak lebih dari narasi besar (grand narrative) yang dapat diotak-atik oleh permainan bahasa. Makna realitas tergantung kepada kekuatan dan kreatifitas imaginasi dan fantasi. Feeling is everything kata Goethe.

Kebenaran itu relative dan menjadi hak serta milik bersama. Kebenaran adalah ilusi verbal yang diterima masyarakat atau tidak beda dari kebohongan yang disepakati. Etika harus diglobalkan agar tidak ada yang merasa paling baik. Adapun baik dan buruk tidak perlu berasal dari apa yang dikatakan oleh Tuhan, akal manusia berhak untuk menentukan.

Barat adalah alam pikiran dan pandangan hidup. Sebagaimana halnya Barat, Kristen, Islam, Hindu bahkan Jawa sama-sama pandangan hidup. Meskipun sama, namun kesamaannya hanya pada tingkat genus bukan species. Masing-masing memiliki karakter dan elemen yang berbeda. Jikalau elemen-elemen suatu pandangan hidup dimasuki oleh elemen pandangan hidup lain, maka akan terjadi confusion atau kebingungan. Margaret Marcus (Maryam Jameelah), malah mengingatkan jika pandangan hidup Barat menelusup dalam system kepercayaan Islam, maka tidak aka nada lagi sesuatu yang orisinal, yang akan tersisa. Benar, ketika elemen-elemen Barat yang anti-Kristen dipinjam oleh anak-anak muda Muslim, maka mulut yang telah membaca syahadat itu akan mengeluarkan pikiran atheis. Tuhan Yang Maha Kuasa bisa menjadi “tuhan yang maha lemah”, al-Qur’an yang suci dan sacral pun tidak ada bedanya dengan karya William Shakespeare, karena al-Qur’an juga berasal dari mulut manusia. Jika ummat Islam ingin maju seperti Barat, maka ia harus menjadi Barat dan bukan seperti Islam. Hingga suatu hari nanti manusia aka ingat keluhan David Thomas atau tangisan Tertulian yang sudah lapuk, “Apalah artinya Athena tanpa Jerusalem ?

Al-Haqqu min rabbika fa laa takunanna minal mumtarin

(Kebenaran itu adalah yang berasal dari tuhanmu, maka jangnlah kalian menjadi bagian orang-orang yang ragu, Qs.2:147) 


[1] Epilog Majalah Islamia No. 1 Muharam 1425/ Maret 2004 hal.112-119 oleh Hamid Fahmi Zarkasyi dengan beberapa perubahan bahasa

[2] Seorang pendeta dan guru besar (Professor) bidang Theology di Selly Oak College, Universitas Birmingham, Inggris

[3] Peradaban Yunani Kuno yang menjadi Inspirasi Barat

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s